
"Tidak," Raymond menggelengkan kepala secara naluriah.
Emily mengerutkan bibirnya dan menambahkan, "Ini, ambillah. Aku beli terlalu banyak. Aku tidak bisa habiskan semuanya."
Aroma lembut disinfektan memenuhi ruang rumah sakit, tetapi yang dirasakan Raymond hanyalah aroma manis bubur, hangat dan menyenangkan seperti segelas coklat panas di musim dingin, mengisi perutnya yang dingin dan mati rasa.
Dia sedikit menundukkan kepala.
Di bawah cahaya lampu rumah sakit, mata indah gadis itu jernih dan tulus, seperti ada bintang yang berkilauan di dalamnya.
Tidak ada belas kasihan yang diperlihatkan Emily, hanya ada kebaikan yang sangat tulus di lubuk hatinya.
Dalam sekejap, kelelahan Raymond hilang, dan hatinya yang berat dan suram mulai berdegup tak terkendali.
Dia tahu, dia tidak bisa berhenti memandang mata Emily.
Seperti halnya dia tidak bisa mengendalikan dirinya untuk meletakkan seluruh hatinya pada Emmily.
Larut malam, Raymond masuk ke rumahnya dengan ransel berat di punggungnya.
Tanpa ada bulan malam ini, rumah itu gelap gulita, dan setelah mandi dengan terburu-buru, dia berbaring di tempat tidurnya, merasakan sakit di perut kosongnya yang seakan seperti tertusuk sesuatu.
Setelah satu hari yang sibuk, bubur di pagi hari adalah satu-satunya makanan yang dia makan sepanjang hari.
Menjelang tengah malam, Raymond masih memaksakan diri untuk bangun dan memanaskan air.
Dapur dipenuhi uap yang mengepul, dan dia menambahkan sedikit air dingin ke air yang mendidih, mengambil satu gelas air, akhirnya meredakan rasa sakit di perutnya.
Dia minum beberapa teguk sambil melempar pandang ke arah jam dinding yang tergantung.
Sudah tengah malam, dan saat dia ingat bahwa dia harus bangun pagi untuk bersekolah, dia segera kembali berbaring di tempat tidur.
Tetapi setelah beberapa saat, rasa sakit yang intens di perutnya kembali.
Dia menyipitkan matanya erat-erat, berharap bisa segera tertidur untuk menghadapi rasa sakit yang melanda perutnya.
Di luar sana, angin dingin mengembus, dan di tengah pikirannya yang kalut karena rasa sakit perutnya, Raymond teringat akan mangkuk bubur hangat di pagi hari dan mata memikat sang gadis.
Emily adalah orang yang telah mempengaruhi hidupnya hanya karena memikirkannya saja, tetapi sekarang mereka begitu dekat satu sama lain.
Raymond tahu bahwa Emily tidak terlalu memedulikannya dan melupakan tentang anak laki-laki yang terkutuk karena terbata-bata itu.
Kehangatan dan kebaikan sebelumnya semata-mata karena dia adalah gadis yang berhati baik.
Tetapi dia hangat dan penuh semangat, seperti matahari musim dingin, menerangi hatinya yang dingin dan kesepian.
Emily mungkin tidak tahu betapa berarti dirinya dalam hidup Raymond.
Di dalam kegelapan, seolah-olah semakin gelap oleh segala keterpurukannya, ada saat-saat ketika Raymond jelas bisa mendengar denyut nadinya seperti bak ombak tinggi yang bergema di telinganya.
Bagi Raymond kehidupan sekolah adalah masa-masa kelam.
Dia seperti mayat hidup, melayang-layang di sekoklah, cemoohan dari teman sekelasnya dan sikap acuh tak acuh dari para guru menusuk hatinya yang sudah dipeluk oleh kegelapan.
Tetapi sejak Emily kembali ke kehidupannya, dia mulai mengharapkan saat-saat yang dulu selalu ia hindari.
Dia berharap bisa duduk di belakang sang gadis, bisa melihat siluetnya ketika dia duduk tegak selama pelajaran. Kehadirannya yang bisa terasa dengan aroma samar dan sulit dipahami.
Malam ini, Raymond bermimpi indah.
*
Ini hari Senin pagi, dan Raymond bangun sebelum pukul enam.
Setelah bangun dan mebersihkan diri, langit di luar masih agak gelap.
Dia duduk di mejanya dan menyalakan lampu meja.
Cahaya kuning hangat menerangi ruangan yang gelap dan sempit.
Raymond membuka bukunya dan mulai membaca teks dengan suara pelan.
Dia membaca bukunya dengan melambatkan kecepatannya, tetapi tetap berbicara dengan jeda.
Suara lembut, seperti suara cello yang halus dan merdu.
Jam di kamar tidur berdetak, menemani kegiatan membacanya yang terputus-putus.
Ketika Raymond selesai membaca bagian yang tidak terlalu panjang ini, sudah dua puluh menit berlalu.
Dia melihat ke atas jam dinding, dan ekspresi senangnya agak memudar.
Dia sudah memakan waktu begitu lama.
Dia mencatat waktunya di buku catatannya, mengemas tasnya, dan bersiap pergi ke kelas.
Ini adalah hari pertama Raymond berlatih berbicara.
Di masa lalu, dia tidak pernah memiliki ekspektasi untuk melakukanya, berlatih berbicara.
Di dalam hatinya, dia selalu menghindari keramaian dan berpikir bahwa selama dia tidak berbicara, orang-orang tidak akan mengolok-olok dirinya.
Tetapi sejak dia melihat gadis itu di rumah sakit kemarin, hati Raymond yang mati rasa sepertinya telah ditanami benih cinta. Dia perlahan-lahan menetapkan keputusannya—
Ia ingin berbicara lancar, atau mungkin lebih tepatnya, ia ingin mengatakan beberapa kata kepada gadis itu dengan lancar.
Raymond tahu gadis itu tidak terlalu peduli dan mungkin sudah lama melupakan dirinya.
Atau mungkin Emily sendiri tidak tahu bahwa Raymond mengalami gangguan berbicara karena tidak terlalu peduli kepadanya.
Dia membayangkan jika kali berikutnya mereka berinteraksi, itu tidak akan seburuk setahun yang lalu meskipun masih tidak terlalu lancar.
Angin pagi begitu dingin, embun pagi dengan lembut menyapu wajah Raymond.
__ADS_1
Namun hatinya terbakar seperti api, dan dalam pikirannya, dia tak henti-hentinya membayangkan dirinya bercakap-cakap dengan gadis itu dengan penuh keyakinan.
Persis seperti dalam mimpinya.
*
Setelah pelajaran kedua di SMA Lentera Vienna, ada istirahat selama dua puluh menit.
Sebagian besar siswa memilih untuk sarapan.
Tidak banyak orang di dalam ruangan saat jam istirahat. Kirana, teman meja baru, menarik Emily ke sisinya, lalu berkata, "Emi, mau sarapan bersama?"
Kirana pernah mendengar tentang Emily.
Dalam pikirannya, Emily, yang cantik dan ramah, seharusnya sombong dan arogan, dengan kepala dianggkat tinggi, menikmati pujian semua orang.
Namun setelah menghabiskan hanya dua hari bersamanya, Kirana menyadari bahwa apa yang dia pikirkan sepenuhnya salah.
Ternyata Emily adalah seorang gadis yang sangat mudah diajak bicara.
Emily melirik dengan diam-diam dan melihat Raymond duduk di tempatnya, membaca dengan tenang.
Pemuda itu duduk tegak, menyerupai pohon yang ramping ditiup oleh angin.
Dia menggelengkan kepalanya kepada Kirana dan berbisik, "Aku tidak akan pergi."
"Ya sudah," jawab Kirana dengan kekecewaan, "Aku akan pergi dengan orang lain."
Ketika Kirana duduk di dalam kelas, dia memberikan celah untuk Emily lewat.
Di luar, terdengar beberapa kicauan burung yang segar.
Mengambil kesempatan ini, Emily dengan halus menatap Raymond.
Laki-laki muda itu masih menunduk, memegang pena di tangannya — jari-jari yang panjang dengan ujung jari-jarinya yang sedikit pucat.
__ADS_1
Dia begitu fokus.
Emily memicingkan bibirnya, diam-diam merasa ragu.
Dia ingin berbicara dengan Raymond, tetapi melihat dia sedang asyik belajar, dia takut mengganggunya.
Setelah memikirkan sejenak, ia menurunkan pandangannya dan pergi.
Di belakang ruang kelas, Raymond belum membalik halaman bukunya, napasnya terisi aroma samar dari gadis itu.
Jantungnya berdebar seperti seakan ada kelinci yang meloncat. Dengan penuh harap menanti gadis itu memulai percakapan, namun takut akan responnya sendiri, yang akan mengungkapkan kegagapan bicaranya.
Namun, hanya dalam beberapa detik, dia membayangkan tak terhitung kemungkinan di kepalanya.
Tapi gadis itu pergi, tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Pintu depan terbuka dengan keras, dan beberapa orang kembali dari kantin sekolah, membawa ayam goreng dan roti, memakannya sambil duduk di meja belajar masing-masing.
Emily hendak membuka bukunya untuk mempelajari pelajaran selanjutnya ketika seorang pria di sebelahnya menyodorkan roti, sambil berkata, "Emily, kamu mau roti?"
"Tidak, terima kasih," tersenyum sopan Emily.
Kenzo enggan menarik tangannya dan berusaha melanjutkan percakapan, "Emily, bukannya kamu ada di kelas unggulan sejak tahun pertama?"
"Iya," anggukan Emily.
"Aku dulu berada di Kelas unggunal, tepat di sebelah kelasmu," katanya dengan sedikit rasa bangga.
Kelas 1 dan Kelas 2 adalah kelas unggulan. Pada awal tahun kedua, siswa diatur ulang berdasarkan nilai mereka. Mereka yang memenuhi syarat tetap berada di kelas unggulan, sementara yang tidak ditempatkan di kelas biasa.
Ia kembali dari kelas unggulan ke kelas reguler, dan Emily bertanya-tanya apa yang pria ini banggakan.
Emily tidak ingin melanjutkan percakapan, jadi dia hanya mengangguk dan berkata, "Oh."
Namun, Kenzo tidak menyadari bahwa Emily tidak berminat dengan pembicaraan dan lanjut mengeluarkan kotak cokelat dari laci mejanya.
Sambil meraih ke sisi lorong, dia berkata dengan keras, "Oh, hampir lupa. Aku membawa cokelat. Apa kamu mau?"
__ADS_1
Tepat saat Emily akan menggelengkan kepalanya untuk menolak, dia melihat seseorang berdiri di belakangnya.