
Emily memendam keraguannya dan terus melihat-lihat foto album. Di ujung album terdapat dua foto kelas: Kelas 2 (kelas unggulan) dan Kelas 3 (kelas reguler).
Kelas unggulan adalah kelas Emily. Dia dengan cepat menemukan dirinya dalam foto tersebut, berdiri di baris belakang dengan senyum kecilnya.
Tapi, entah kenapa tak ada foto-fotonya saat berada di kelas reguler.
Emily mengeluarkan dua foto kelulusannya dan membaliknya.
"Selamat atas kelulusanmu," tertulis di salah satu fotonya.
Sedangkan di foto yang tidak ada dirinya, ada sebuah tulisan di balik foto itu dengan tinta hitam.
"Aku harap kita bisa berfoto wisuda bersama."
"Apa Raymond ada di foto Kelas 3 itu?" gumam Emily.
Hati Emily merasakan kekacauan. Tangannya yang memegang foto-foto itu gemetar sedikit. Dengan hati-hati ia mencari sosok Raymond Milton dalam foto tersebut namun tidak menemukan yang ia cari.
"Bagaimana mungkin ini terjadi?" gumam Emily yang kalut.
Kali ini, Emily mulai dari halaman depan foto album, melihat setiap wajah saat ia membalikkan halaman baru. Akhirnya, di halaman belakang, ia menemukannya.
Raymond terlihat sangat berbeda dari yang sekarang. Di foto itu, dia memakai sepasang kacamata baca, rambutnya yang lebat menutupi dahinya. Senyum di wajahnya terlihat memaksakan, memancarkan aura yang meminta untuk dikasihani.
__ADS_1
Emily teringat bahwa ada aturan di SMA Lentera Vienna. Selama Kelas 11, ada kebijakan yang ditetapkan antara kelas unggulan dan kelas reguler. Siswa yang kurang baik prestasinya di kelas unggulan akan dipindahkan ke kelas reguler, sementara mereka yang unggul di kelas reguler memiliki kesempatan untuk pindah ke kelas unggulan.
Emily dipindahkan ke Kelas 3 karena masalah absensi saat ujian, tapi hasil ujian berikutnya cukup baik, sehingga ia bisa kembali ke kelas asalnya, kelas unggulan.
Namun, selama setengah semester di Kelas 3, ia tak pernah menyadari keberadaan Raymond, atau lebih tepatnya, tak tahu bahwa dia ada.
"Mungkin, waktu itu, Raymond..." lirih Emily yang bibirnya bergetar.
Emily merasakan matanya mulai perih, hatinya sakit seolah ditusuk oleh banyak jarum.
Langkah-langkah pelan terdengar di luar pintu. Kak Dessy dengan hati-hati mengetuk pintu, "Nyonya, apakah Anda di dalam?"
Emily mengusap air matanya dengan halus dan berkata, "Iya, aku di sini."
"Nyonya, sudah beberapa hari Nyonya tidak tidur. Nyonya akan mudah sakit jika terus seperti ini. Jika Tuan tahu, hatinya akan hancur."
Kak Dessy tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia menghela nafas, dan pergi kembali ke kamarnya.
Kamar itu kembali tenang. Emily merangkul album foto dengan hati-hati, lalu ia berusaha berdiri di atas lantai dengan sisa tenaganya.
Tapi begitu dia berdiri, jantungnya mulai berdegup liar. Dunia di sekitarnya menjadi hitam, dan semua kekuatannya seakan hilang dalam sekejap. Kemudian, seketika dia terjatuh mengeluarkan suara "gedebug" keras.
Dunia tampak tenggelam dalam kegelapan tak berujung.
__ADS_1
"Nona, nona, bangun! Kamu akan terlambat masuk kelas."
Emily melenguh tidak senang dan dengan enggan membuka matanya.
Seorang wanita paruh baya berdiri di samping tempat tidurnya, menatapnya dengan kekhawatiran di matanya.
"Bibi Hevi? Bukankah dia pengasuhku ketika aku sekolah?" pikir Emily yang masih mengantuk.
"Oh, sarapannya sudah siap. Mari kita sarapan, nona," ucap Bibi Hevi yang lega bahwa Emily sudah bangun, lalu dia meninggalkan kamar setelah membangunkan Emily.
Emily melihat-lihat kamar. Dindingnya berwarna biru muda, tempat tidur bergaya putri berwarna putih, dan sisi jendela yang dihiasi dengan kincir angin kristal. Cahaya matahari terang menyinari kristal-kristal itu, memantulkan cahaya yang mempesona.
Ini adalah rumah yang dibeli oleh ayahnya agar dia bisa lebih dekat dengan sekolah.
"Tapi bukannya aku pingsan di kamar Raymond? Bagaimana aku bisa berada di sini?" pikir Emily yang mulai kebingungan.
Emily keluar dari tempat tidur dan masuk ke kamar mandi. Di cermin, seorang gadis dengan kulit putih dan rambut hitam tergerai memandanginya. Matanya berwarna almond cerah dan memperlihatkan aura penuh keceriaan.
"Ini ... aku saat SMA?" gumam Emily saat dia bercermin.
Emily menatap bingung pada wajahnya yang yang masih remaja di cermin. Dia berusaha memastikan dirinya dengan mencubit tangannya dengan keras.
"Aw."
__ADS_1
Rasa sakit yang nyata terasa di lengannya, membuatnya mengerutkan keningnya karena kebingungan. Namun di tengah rasa sakit itu, rasa sukacita yang membara di hatinya, menghangatkan hatinya yang dulu dingin dan tanpa harapan.
Dia telah diberi kesempatan untuk memulai hidup baru oleh Tuhan, dan kali ini, dia pasti akan memperbaiki semua kesalahannya.