
Sementara itu di dunia fana.Terlihat di antara langit -langit bumi .Sebuah cahaya kebiruan membentuk siluet asap meluncur tepat di wilayah kerajaan "Dinasti Mingji " .Cahaya dari bola kristal itu terlihat melintas dengan cepat, menghubungkan antara wilayah -wilayah yang berbeda -beda.
Di istana kerajaan,tepatnya di ranjang seorang ratu dari Dinasti Mingji berjuang di ambang hidup dan mati. Dalam momen yang kritis , ia akan segera melahirkan dua putri kecil dari rahimnya.
Di sisinya, tampak Kaisar Liu Wo berusaha memberikan semangat kepada Xianyi, permaisuri Dinasti Mingji.Kaisar Lung Wo tampak memandang Xianyi dengan penuh kekhawatiran. Sementara itu, di sebelah kanan sang ratu para pelayan juga sibuk membantu sang ratu agar tetap tenang, memberikan air minum yang segar dan kain dingin untuk menenangkan tubuhnya.
Sementara di depannya ,seorang tabib wanita yang hampir berumur setengah abad terlihat memberikan instruksi dengan tegas kepada sang ratu, Ia meminta Xianyin untuk mengejan dengan kuat. Dengan setiap hembusan nafas sang ratu tampak mematuhi instruksi tabib Dia mengejan sekuat tenaga.Di tengah rasa sakit yang tak terelakkan, akhirnya satu bayi kecil yang cantik terlahir ke dunia .Xianyi tampak merasakan kesakitan selang bayi pertamanya lahir .Hingga akhirnya bayi mungil kedua lahir.
Kedua bayi itu tampak menggeliat dengan lemah lembut. Mereka mulai menangis dengan keras, memenuhi ruangan dengan tangisnya yang kecil namun kuat.
Suasana di ruangan berubah menjadi riuh dengan suara tangisan bayi .Xianyi tersenyum bahagia melihat kedua putri kecilnya akhirnya lahir ke dunia ini. Kaisar Liu Wo pun merasa senang dan dipenuhi dengan rasa syukur yang mendalam atas kehadiran kedua putri kembarnya .
__ADS_1
Dengan senyuman bahagia, Kaisar Liu Wo terlihat mengangkat kedua bayi mungil itu dengan lembut dalam pelukannya. Sambil merasakan kebahagiaan yang meluap, dia kemudian memberi ciuman hangat di dahi kedua bayi itu .
Kemudian, dengan suara lembut dan penuh kasih sayang, Kaisar Liu Wo mengangkat tinggi kedua bayi mungil itu lalu , menyebutkan nama keduanya. "Kamu," katanya sambil menunjuk bayi yang berada di gendongan kanan tangannya ,"akan menjadi Putri An Xin, yang berarti keindahan dan ketulusan." Lalu, dia menoleh ke bayi yang berada di sisi kirinya ,"Dan kamu," ucapnya dengan penuh kelembutan, "akan menjadi Putri Zhe Xin, yang berarti keberaniam dan kecerdikan."
Semua orang yang berada di ruangan itu merasakan kebahagiaan yang tak terkira saat itu. Kaisar Liu Wo terlihat dipenuhi dengan kegembiraan, senyuman bahagia tampak tak lepas dari bibirnya. Xianyi, juga tampak mengukir senyuman sambil menyaksikan kebahagiaan yang dirasakan oleh kaisar.
Namun, di tengah -tengah kebahagiaan mereka, Xianyi tiba-tiba merasakan rasa sakit yang tak tertahankan. Dia mendesis kesakitan sebelum akhirnya memejamkan matanya, meninggalkan suasana yang tegang di ruangan tersebut.
Para pelayan yang melihat itu langsung memeriksa Xian Yin .Beberapa di antaranya tampak menggelengkan kepalanya ke arah kaisar .
Kedua bayi itu tampak menangis secara bersamaan, seolah-olah mereka tahu bahwa ibu mereka telah pergi. Para pelayan berusaha keras menenangkan kedua bayi kembar, An Xin dan Zhe Xin saat ini . Sementara itu, Kaisar Liu Wong tampak frustasi dan pilu akibat kepergian sang istri, ia meratap dengan kesedihan yang mendalam.
__ADS_1
Di tengah suasana tangisan yang menyelimuti ruangan, sebuah cahaya berwarna kebiruan terlihat menembus tubuh bayi Zhe Xin. Para pelayan tidak menyadari hal ini. Bayi Zhe Xin yang sebelumnya tenang tiba-tiba menangis dengan sangat kencang.
......................
Sementara itu ....
Di Dinasti Linyi ...
Han Yen terlihat tersadar dari tidurnya yang panjang. Perlahan-lahan ia membuka matanya dan mengamati setiap sudut ruangan tersebut. Tampaklah pilar-pilar yang sangat asing terlihat di indera penglihatannya.
"Dimana aku?" batinnya bertanya-tanya. Han Yen terkejut mendengar suaranya berubah menjadi cadel, mirip seperti suara seorang anak kecil. Ia meraba-raba tubuhnya dan menyadari bahwa kini ia berada di dalam tubuh seorang anak kecil berusia 5 tahun.
__ADS_1
Seorang pelayan tampak menghampiri Han Yen kecil yang terdiam di ranjang. Dengan nada ketus, pelayan itu berkata, "Kamu sudah sadar, makanlah!" Ucapannya seraya meletakkan nampan berisi sup panas yang lezat di dekatnya. Tanpa meninggalkan sepatah katapun, pelayan itu kemudian berlalu pergi.
Han Yen tampak mengernyitkan dahinya saat melihat tingkah laku pelayan itu. Ini kali pertama baginya mendengar seseorang berbicara dengan nada seketus itu padanya. Han Yen tampak menatap tajam kepergian pelayan yang berlalu pergi meninggalkannya .