Reinkarnasi Sang Raja

Reinkarnasi Sang Raja
1. Pegunungan Yuan Ji.


__ADS_3

Ratusan ribu orang memenuhi pegunungan Yuan Ji, mereka bukanlah orang biasa melainkan para pesilat yang berasal dari aliran hitam, putih dan netral.


Para pesilat yang berasal dari sekte serta aliran yang berbeda itu membentuk aliansi dan mengerumumi seorang kakek tua yang masih terlihat berdiri tegap dan gagah.


Pria tua itu bernama Levi.


Meskipun kini rambut dan jenggot nya yang panjang sudah beruban dan memutih, aura kewibawaan yang di pancarkan oleh kakek itu sangat kental terasa.


"Patriak Lee, kami berharap anda segera menyerahkan pusaka Zodiak dan kitab harimau putih." Ucap salah seorang pria tua lain yang berdiri memimpin para rombongan berbaju putih.


"Jika aku tidak menyerahkan nya?."


"Dengan terpaksa kami akan membunuh anda, jika aku boleh memberi saran lebih baik anda menyerahkan kitab itu Patriak.


Ini demi kebaikan kita bersama."


Levi tertawa dengan lantang mendengar ucapan orang tua yang berdiri di hadapan nya.


"Huaha ha ha uguhk ughuuk ughuk, kebaikan bersama katamu? Setelah aku menyerahkan pedang Scorpio dan kitab harimau putih ini aku yakin kalian akan saling membunuh untuk kembali memperebutkan nya.


Tidak perduli dari aliran putih, hitam maupun netral.


Di hadapan sebuah pusaka yang kuat, sisi tamak kalian akan bangkit dan saling membunuh, itu yang kalian katakan sebagai kebaikan bersama?


Jangan membuatku tertawa!."


Patriak Levi berkata dengan tertawa terbahak bahak, di ikuti oleh aura gelap yang perlahan menutupi tubuh nya.


Langit yang semula cerah kini di tutupi oleh awan hitam, gerimis pun mulai turun dengan perlahan.


"Cepat, persiapkan diri kalian! Sepertinya Patriak Lee tidak bisa kita ajak bicara dengan baik baik."

__ADS_1


"Sebelum aku membunuh kalian semua, boleh kah aku yang tua ini mengetahui siapa orang yang membocorkan informasi bahwa aku memiliki kitab harimau putih dan pedang scorpio?."


Salah seorang tetua sekte yang berasal dari aliran netral bergerak maju kedepan, dengan tatapan sayu bibirnya bergetar perlahan.


"Untuk menghormati seseorang yang pernah berdiri di puncak dunia persilatan sebagai wakil dari aliran putih, aku tidak akan keberatan mengatakan nya.


Patriak Leez, anak angkat anda yang bernama Yudha lah yang pertama kali membocorkan rahasia kitab dan pusaka zodiac itu".


Aura gelap di tubuh Levi semakin gelap dan melebar, dengan tatapan tajam di sertai nafsu membunuh Levi melihat sekeliling nya untuk mencari keberadaan Yudha.


"Yudha! Berani berani nya, dari ribuan orang yang ingin menjadi murid ku hanya kau yang aku jadikan satu satu nya murid inti bahkan aku menganggap mu seperti anak ku sendiri.


Namun ini balasan mu nak? Ini balasan mu terhadap seseorang yang kau panggil Ayah!."


Pemuda yang memiliki rambut panjang bergelombang dengan pakaian khas berwarna merah maju ke barisan depan dengan tertawa lantang.


"Ayah? anak? huahaha ha ha, bukan kah Patriak telah melihat ayah ku terbunuh di depan mata ku sendiri sebelum kau mengangkat ku sebagai seorang murid.


Tapi apa nyatanya? Kau menyimpan semua itu hanya untuk diri mu sendiri kan hahaha ayah anak jangan membuat ku muntah."


"Baiklah, sepertinya sudah tidak ada yang perlu di bicarakan lagi."


Levi perlahan menyatu dengan kabut yang mengelilingi tubuh nya, petir semakin terdengar keras menyambar mengikuti kemarahan Levi.


Ratusan ribu pesilat yang berasal dari aliran Hitam, Putih dan Netral mulai memasang kuda kuda untuk menyambut serangan Levi yang pernah menduduki puncak dunia persilatan.


Detik detik sebelum menyerang, Levi tersenyum mengingat masa lalu nya.


Di kehidupan sebelum nya, Levi ada lah seorang pemuda desa yang tidak memiliki keistimewaan apa pun.


Namun karena melihat pemerintahan kala itu sangat menindas rakyat dengan beban pajak yang melampaui kemampuan rakyat, Levi muda yang di kehidupan sebelum nya bernama Shura mulai belajar hingga diri nya memiliki posisi yang kuat di tanah kekaisaran Dhan sebagai lawan politik sang Kaisar.

__ADS_1


Levi yang di kehidupan sebelum nya bernama Sura memiliki niat untuk mengambil alih posisi Kaisar lewat jalur politik, hanya saja Raja yang mengetahui bahwa lawan politik nya sangat kuat dan memiliki banyak dukungan mulai membuat sistem atau peraturan baru yaitu "Hanya keturunan Raja sendiri yang boleh menggantikan posisi sang Raja."


Levi atau Sura yang merasa Raja sudah mengetahui rencananya, akhirnya hanya bisa pasrah dan mengurungkan niat yang selama ini ia junjung tinggi.


Akan tetapi, melihat tiak ada lagi lawan politik yang mengancam posisi nya Raja Bai yang kala itu menjabat sebagai Raja di kekaisaran Dhan mulai bertindak lebih tamak dan semena mena bahkab lebih parah dari sebelum nya.


Shura yang menyadari keadaan semakin kacau itu mulai membangun niat nya kembali, jika dengan cara halus dia tidak bisa menumbangkan sang Raja maka satu satunya jalan ialah pemberontakan.


Shura memimpin para rakyat beserta semua yang tidak puas dengan kepemimpinan Raja Bai untuk memberontak, hari itu tepat pada tahun 1527 Tansehi(Nama hitungan tahun dalam kekaisaran Dhan) Shura yang sudah berumur 40 tahun memimpin pasukan pemberontak untuk menyerang istana.


Gelombang peperangan terjadi di seluruh kekaisaran negeri Dhan hingga di pelosok pedesaan, kemarahan para rakyat kala itu meluap luap.


Tidak terhitung lagi berapa juta jumlah korban yang meninggal akibat tragedi kelam itu entah dari pihak rakyat maupun pihak Kekaisaran.


Orang orang memberi julukan tragedi kelam itu sebagai "Perang Petani".


Setelah 2 tahun kekaisaran Dhan mulai pulih dan Raja Bai di eksekusi mati, Shura yang kala itu berumur 42 tahun di nobatkan sebagai Raja baru di kekaisaran Dhan.


Akan tetapi Shura hanya mejabat selama 5 tahun, di malam terakhir masa jabatan nya Shura meminum teh buatan pelayan nya menjelang tidur.


Hari itu Shura merasa tidak ada yang berbeda dari hari hari sebelumnya.


Sgura menjalani rutinitas sebagai seorang Raja dan tiba tiba saja dia terlelap dalam tidur dan bangun sudah berada di dalam tubuh bocah berumusia 8 ahun.


Tidak hanya itu, kini Shura berada di kekaisaran Tang di mana menjadi pesilat terhebat adalah tujuan dari semua orang dan di sini hanya memiliki 1 peraturan yaitu di mana yang kuat lah yang berhak membuat peraturan.


Senyum menghiasi wajah Levi, dia merasa bernostalgia.


Menghadapi ratusan ribu pesilat dari berbagai sekte ini membuat Levi mengingat saat saat di mana dia berdiri di barisan depan sebagai panglima pemberontak melawan bala tentara Kekaisaran Dhan.


Hanya dengan 1 teriakan dari Levi, para rakyat yang kala itu mengikuti nya mulai bersorak dengan lantang dan menyerang tentara Kekaisaran dengan menggebu gebu.

__ADS_1


__ADS_2