Revalina (Transmigrasi)

Revalina (Transmigrasi)
1).


__ADS_3

di sebuah rumah sederhana, kini seorang gadis sedang asik bermain game di ponselnya sambil rebahan di atas bale (ranjang kayu), hingga tiba-tiba suara seseorang membuatnya seketika menghentikan aktivitasnya bermain game,


"serang ges serang!" heboh nya sambil terus menggerakkan jemari nya di layar ponsel,


"ahh, te asik sia mah ges(akh, gak asik Lo)" decak Reva kesal saat teman Mabar nya hanya mementingkan diri sendiri, Tanpa mau membantu Reva,


"Reva!" teriak seorang wanita paruh baya, dari arah dapur,


"iya Mak," sahut Reva balik berteriak, dia masih asik bermain game di ponselnya,


"Susulin Abah kamu sana, ke ladang" titah wanita paruh baya yang Reva sebut sebagai emak.


emak Reva pun langsung berjalan dari arah dapur menghampiri Reva dengan membawa rantang makanan yang nantinya akan di berikan pada Abah Reva,


"ah gak mau Mak, panas banget ini Mak!" tolak Revan malas.


"ck, hayu atuh cepet, kasian Abah kamu pasti sudah kelaparan di ladang, nih anterin makanan buat Abah" titah emak sambil menyodorkan rantang makanan pada Reva.


dengan terpaksa Reva pun segera mematikan game di ponselnya dia pun mengambil rantang makanan dari tangan emak, kemudian berjalan pergi keluar rumah, dengan menggerutu kesal.


"aya-aya wae si emak mah, panas-panas begini di suruh ke ladang, hadehh, tambah gosong wae ini badan" gerutu ya kesal.


"gimana mau punya pacar, kalo dekil begini, tiap hari suruh ke ladang wae" Reva terus saja menggerutu, hingga akhirnya dia kini sudah sampai di ladang,


"mana nya si Abah, kok gak ada?" gumam Reva dengan dahi mengeryit karena tak melihat keberadaan Abah nya di saung, tempat biasanya Abah beristirahat,


"Abah!!"teriak Reva melengking,


"apa atuh neng, jangan teriak-teriak begitu, gak baik anak perawan teriak-teriak begitu" peringkat sang Abah yang kini mulai berjalan ke arah saung, tadi Abah nya habis membersihkan diri di aliran sungai kecil, yang terdapat di ladang itu,


"hehe, nya abis na Abah gak ada, Reva pikir Abah teh pulang," sahut Reva cengengesan.


"nih atuh bah, dari istri tercinta Abah, di makan nya, habisin bah, ini tuh di masak dengan penuh cinta sama si emak," lanjutnya dengan nada dramatis, sambil menyerahkan rantang makanan.


Abah pun terkekeh kecil melihat tingkah putri semata wayangnya itu, dia segera mengambil rantang makanan itu dari tangan Reva,


"makasih nya neng, kamu udah makan?" tanya Abah

__ADS_1


"udah atuh bah, kalo soal makanan mah, nomer satu bah, hehe" jawab Reva dengan tertawa kecil.


Abah pun ikut tertawa kecil, dia segera membuka rantang makanan itu, bisa dilihat isinya hanya makanan sederhana seperti nasi, sayur bening dan juga tempe tahu, tapi itu sudah sangat nikmat bagi Abah, karena keluarga nya bukan dari kalangan orang kaya, hanya hidup sederhana saja tapi cukup, tidak sampai kekurangan,


"bah Reva pulang dulu nya," pamit Reva,


"loh, gak mau bantuin Abah?" tanya Abah di sela-sela makan nya,


Reva pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Eh, Reva ada pr bah, iya ada pr, jadi harus buru-buru di kerjain takutnya lupa bah" jawabnya berkilah, padahal mah dia mau lanjut lagi main game, dan gak mau bantuin Abah di ladang, huh, dasar anak durhakim kamu Reva.


"ya sudah tidak apa-apa, hati-hati yah pulang nya" ucap Abah.


"yes, hehe, bisa lanjut main game nih" batin Reva tertawa


"ya udah bah, Reva pulang ya, assalamualaikum" pamit Reva sambil mencium punggung tangan Abah nya,


"walaikumsalam" jawab Abah,


Reva langsung saja pergi dari sana, kini dia berjalan dengan bersenandung riang, sambil jingkrak-jingkrak, karena memang Reva tidak bisa diam anaknya, selalu saja bertingkah.


"lalalalala" Reva terus berjingkrak-jingkrak sambil bersenandung ria,


sett..brugg


tiba-tiba saja Reva tersandung dan terjerembab ke dalam petakan sawah,


"arrgggghhhh" jerit Reva tertahan saat kepala nya terbentur batu yang cukup besar, entah sejak kapan ada batu di pinggir petakan sawah itu, Reva pun tidak tau, kini darah segar mengucur deras dari kepalanya, hingga membuat Reva mulai kehilangan kesadaran nya.


"ya Allah, apa ini karena Reva tadi bohongin Abah, Reva jadi kena Karma nya, maafin Reva, Abah emak" batin Reva, dia pun kini menutup matanya karena kehilangan kesadaran,


sayup-sayup terdengar suara teriakan Abah nya yang kini berjalan ke arah Reva,


"astaghfirullah Reva, bangun neng, kamu kenapa" Abah pun langsung menggendong tubuh Reva dengan sekuat tenaganya, Abah segera menggendong tubuh putrinya itu dan membawanya pulang ke rumah, tadinya dia ingin ingin menyusul Reva untuk memberikan jagung hasil tanam nya di ladang, agar nanti di masak oleh istrinya untuk lauk makan malam, tapi saat melihat tubuh Reva yang nyungsep di sawah, Abah pun seketika panik, hingga melempar jagung yang dia bawa ke sembarang arah.


"Abah, Aya naon bah, si neng Reva kenapa bah?" tanya seorang petani saat melihat Abah menggendong Reva, dan bisa dia lihat darah segar terus mengalir dari kepala Reva,

__ADS_1


"tulungin saya mang, bantu saya bawa Reva ke rumah" pinta Abah,


dengan segera petani itu membantu Abah membopong tubuh Reva.


****


sedangkan disisi lain, kini seorang gadis tengah bertengkar dengan seorang cowok yang sepertinya adalah sodaranya,


"bisa gak sih Dav, stop bilang kalo aku adalah pembunuh Alisa, aku tidak melakukan itu Dav!" ucap gadis itu yang tak lain adalah Elmira, dengan air matanya yang kini sudah berlinang, dia sudah cukup sakit selama ini selalu di tuduh melakukan perbuatan yang sama sekali tidak pernah dia lakukan, yaitu membunuh sepupunya Alisa


cowok itu tersenyum sinis ke arah Elmira,


"sekali pembunuh ya tetap pembunuh, mau ngelak apa lagi Lo hah, udah jelas-jelas semua bukti-bukti mengarah sama Lo, Lo ada di tempat kejadian Elmira!" sentak cowok itu yang tak lain adalah Davino,


"cukup dav cukup! berhenti bilang aku pembunuh!" teriak Elmira dengan nada bergetar, dia sudah tidak sanggup lagi di tuduh seperti itu oleh keluarga nya sendiri,


plakk !


satu tamparan melayang keras di pipi Elmira, dia segera memegang pipinya yang terasa sakit.


Elmira menatap ke arah bunda dan juga ayahnya yang hanya diam saja dan sama sekali tak menggubris, justru mereka malah ikut-ikutan menuduh Elmira sebagai seorang pembunuh, padahal tidak ada bukti yang kuat, hanya karena dirinya ada di tempat kejadian,dia jadi di tuduh sebagai pembunuh Alisa sepupunya.


Elmira menatap wajah keluarga nya satu persatu dengan tatapan terluka, dia pun segera berlari masuk kedalam kamarnya,


brakkk !


Elmira membanting keras pintu kamarnya,


tubuh Elmira merosot di balik pintu, dia kini sudah menangis sesenggukan, karena keluarganya begitu tega pada dirinya.


Elmira yang sudah gelap mata pun segera mencari cutter di laci nakas, setelah itu dia langsung menggoreskan cutter itu ke nadi nya,


srettt !


darah segar kini mengalir deras di pergelangan tangan Elmira.


"selamat tinggal dunia menyakitkan, semoga kalian puas dengan kematian ku ..."perlahan Elmira pun mulai kehilangan kesadaran nya.

__ADS_1


...****************...


see you next chapter...


__ADS_2