
di rumah sakit, di salah satu ruang rawat inap, seorang gadis masih terbaring lemah di ranjang rumah sakit, dengan luka di tangan nya yang kini terbalut perban,
"eunghh.." lengguhan itu terdengar dari mulut gadis itu, dia kini mulai mengerjakan matanya,
dia pun mengedarkan pandangan ke berbagai arah, bisa dia lihat selang infus yang kini terpasang di tangan nya, berarti saat ini dia sedang berada di rumah sakit, syukurlah setidaknya dia masih hidup, karena sangat tidak aestetic jika dia harus mati Hanya karena dirinya tersandung dan nyungsep di sawah, tapi sepertinya ruangan ini terlalu mewah jika emak dan abahnya yang kurang mampu harus menyewa kamar dengan kelas VVIP seperti ini,
"ya Allah, mewah pisan ini ruangan nya, dapat uang dari mana Abah sama emak buat bayar kamar ini, ah mungkin si Abah teh bayar nya pake BPJS kali yah.." batin nya
ceklek !
pintu ruang rawat inap itu di buka, bisa dia lihat seorang dokter wanita yang terlihat sangat cantik dan anggun berjalan menghampirinya,
"syukurlah Nona Mira sudah sadar," ucap dokter itu yang tak lain adalah dokter Anna.
dokter Anna pun mulai mengecek kondisi pasien yang dia sebut dengan nama Mira itu,
"Dok, emak sama Abah saya teh, kemana nya? kok gak ada atuh?" tanya gadis itu tiba-tiba,
"maksud nona siapa? saya tidak mengerti nona." jawab dokter Anna bingung, pasalnya gadis itu menyebutkan nama yang sama sekali dia tidak kenal.
"dokter teh gimana atuh, emak sama Abah saya tuh, ibu sama bapak dok, sekarang mereka dimana?" tanya nya lagi.
"oh, maksud Nona Mira, bunda sama ayah non, mereka tidak datang menjenguk nona," jawab dokter Anna sedih, dia merasa kasian pada gadis itu karena keluarga nya sama sekali tak ada yang memperdulikan nya.
"hah, tadi apa kata dokter? Mira? nama saya Reva dok, Revalina, bukan Mira." Sahut nya meralat.
dokter itupun mengeryitkan dahinya,
"ya iya nama nona kan, Elmira Revalina Addison" jelas dokter Anna.
deg !
gadis itu seketika terdiam mendengar ucapan Dokter Anna.
"dok saya boleh pinjam cermin" ucap gadis itu.
dokter Anna pun langsung mengambil cermin kecil yang biasanya dia bawa dalam saku jas dokter nya.
"ini nona." dokter Anna pun segera memberikan cermin itu pada gadis itu,
__ADS_1
gadis itu pun langsung mengambil cermin kecil itu, dia pun langsung saja bercermin untuk memastikan bahwa dugaan-dugaan salah.
deg !
dia tersentak seketika saat melihat bayangan wajah orang lain yang ada di dalam cermin itu.
"i-itu wajah siapa" ucapnya tergagap
"ya itu wajah nona, apa nona Mira lupa dengan wajah sendiri? padahal yang terluka kan tangan nona, bukan kepala" sahut dokter anna heran, pasalnya gadis itu hanya menyayat tangannya, jadi tidak mungkin kalo Mira mengalami amnesia.
"ah, iya, ternyata aku sangat cantik" ucap Mira dengan memaksakan senyum nya.
dokter Anna hanya geleng-geleng kepala karena ternyata gadis itu hanya becanda, dia pikir dia benar-benar hilang ingatan.
"ya sudah nona Mira, karena kondisi nona sudah membaik, besok nona Mira sudah boleh pulang" ucap dokter Anna ramah.
"ah, iya dok, terimakasih" sahut Mira.
"kalo begitu saya permisi dulu" pamit dokter Anna,
Mira hanya mengangguk singkat.
dokter Anna pun langsung keluar dari ruangan itu,
"apa jangan-jangan aku teh, mengalami transformasi, eh bukan, Transgender, eh ko jadi transgender sih, emangnya bencong apa, apa ya namanya?" dia berpikir sambil mengetuk-ngetuk dagunya.
"oh, iya transmigrasi" ucapnya yang kini baru mengingat kata itu
"tapi kok, bisa yah, mana ini cewek teh, meni cantik pisan lagi" dia tersenyum-senyum karena menyadari dirinya yang bertransmigrasi ke tubuh gadis cantik.
ceklek !
pintu ruang rawat inap itu tiba-tiba ada yang membuka,
seorang wanita paruh baya kini berjalan ke arah nya dengan senyum hangat,
"non, sudah sadar?" tanya wanita paruh baya itu yang tak lain adalah bi ajeng art di rumah nya,
"iya Bu, ibu teh siapa yah?" tanya Mira balik dengan ramah.
__ADS_1
"ya Allah non, non Mira teh hilang ingatan atuh? ini teh bibi non, bi ajeng, asisten rumah tangga di rumah non" ucap bi ajeng menjelaskan, dia tidak menyangka jika anak majikannya itu mengalami amnesia, pasalnya gadis itu tidak terbentur di bagian kepalanya, dan hanya tangan nya saja yang terluka karena gadis itu melakukan percobaan bunuh diri.
Mira langsung menggeleng cepat .
"nggak-nggak bi, aku tadi cuman becanda aja kok" Sahut Mira berkilah,
bi ajeng pun menghembuskan nafas lega, dia pikir anak majikannya ini benar-benar mengalami amnesia, ternyata Mira hanya bercanda saja
"syukurlah kalo non gak Amnesia, bibi pikir non Mira tadi benar-benar Amnesia, sampe panik bibi non" ucap bi ajeng lega,
Mira cengengesan, "hehe, maaf ya bi" ucap nya
"iya nggak apa-apa non" sahut bi ajeng,
"eh, bi jangan panggil aku Mira lagi sekarang, tapi panggil aku Reva aja"
"loh kenapa memangnya non" tanya bi ajeng bingung,
"pengen ganti nama aja, bosen bi, mulai sekarang panggil aku Reva jangan Mira lagi" ucap Mira,
bi ajeng hanya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti,
****
sedangkan disisi lain,
di dalam rumah sederhana, terdengar tangisan pilu seorang ibu yang baru kehilangan putri semata wayangnya,
"ya Allah, Reva, kalo aja emak tau kamu bakal ninggalin emak, gak bakal emak suruh kamu ke ladang" ucap emak Reva dengan lirih sambil terisak kecil.
"Mak, udah atuh Mak, jangan nangis terus" ucap Abah Reva, yang kini berjalan menghampiri sang istri yang tengah terisak di samping ranjang,
"emak belum ikhlas bah, kehilangan Reva" sahut emak lirih.
"jangan begitu Mak, kasian Reva, nanti arwah nya tidak tenang, karena ngeliat emak nangis terus kaya begini" ucap Abah menenangkan, pasalnya sedari kemarin saat jasad Reva di kuburkan, istrinya itu terus saja menangis, tidak mau makan, bahkan keluar kamar saja tidak mau, membuat Abah jadi bingung harus bagaimana.
"maaf bah, emak hanya belum bisa menerima saja, tapi emak akan berusaha ikhlas bah, supaya arwah Reva tenang di alam sana" sahut emak lirih.
Abah pun langsung memeluk tubuh istrinya, guna menenangkan nya.
__ADS_1
...----------------...
See you next chapter...