Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 1. Pengkhianatan


__ADS_3

Angin gurun berhembus keras saat pasukan River bersiap untuk pertempuran terbesar mereka. Dia adalah pahlawan terhormat di Kerajaan Serindria, dan dikelilingi oleh teman-teman setianya. Alarc, seorang pendekar pedang tingkat tinggi, dan Elera, penyihir tingkat yang mahir segala jenis sihir. Tidak lupa ditemani oleh ribuan prajurit di bawah pimpinannya.


Saat ini mereka sedang melawan sosok penguasa jahat bernama Lord Malakar, seorang panglima perang tirani yang mengancam perdamaian di seluruh kerajaan.


Jika kalah maka kerajaan milik River akan hancur lembur, dan tidak hanya itu. Satu dunia bisa dikuasai oleh Lord Malakar.


Karena itulah River dan yang lain harus menang. Nasib seluruh kerajaan berada di tangan mereka.


“Wahai para prajurit Serindria, ayo serang musuh yang ada di depan kita. Jangan tunjukan belas kasih apapun, mari kita rebut kebebasan kita!”


Para prajurit baik itu dari River ataupun Lord Malakar saling mengangkat pedang ke atas dan berteriak sangat lantang, sebuah tanda peperangan dimulai.


Atmosfer gurun pasir menjadi berat dengan pertarungan yang terjadi, suara bongkahan logam terdengar nyaring saat pedang saling beradu.


Ledakan sihir saling menyerang, menciptakan ledakan yang kuat.


Mayat-mayat saling berjatuhan, tanah tandus yang semula nya kosong dengan cepat menjadi sungai darah, dengan banyaknya mayat bergeletakan.


“Rasakan ini!”


River dengan gagah menebas salah satu jendral pemimpin perang ini. Di sisi musuh setidaknya ada sekitar tiga orang terkuat dan River membunuh salah satu dengan sangat mudah.


Melihat jendral perang mati tentu membuat para prajurit ketakutan, mereka dengan cepat bergemetaran.


“Apa yang kalian lakukan? Menyedihkan!”


-Swoosh


River bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat mata telanjang dan membunuh semua prajurit tersebut.


“Lemah,” gumamnya sambil menatap bongkahan mayat.


Namun River terlihat sedikit lengah, dia terlalu lama melihat bongkahan mayat hingga tidak menyadari ada satu musuh yang ingin menusuknya dari belakang.


Pedang musuh hampir menusuk River, beruntung salah satu temannya membantu dengan gagah. Dia adalah Elera, penyihir wanita itu mengeluarkan sihir angin untuk membunuh musuh yang menyerang River.


“Apa yang kamu lakukan River? Jangan lengah!” bentak gadis itu karena memang River terlalu meremehkan.


River menundukan kepala. “maaf.”


Musuh menyerang ke arah dua orang yang masih mengobrol, tapi ini semua tidak ada apa-apanya bagi River dan Elera.


Dengan tebasan dan sihir mereka, para musuh yang hendak menyerang langsung terkapar kalah.


Ini sangatlah wajar karena level dari mereka terlampau jauh.


“Tampaknya kalian sangat bersenang-senang!”


Lord Malakar pada akhirnya muncul juga. Dia mungkin lebih kuat dari River.


Lord Malakar berdiri dengan angkuh, matanya memancarkan kekuatan yang mematikan. River dan Elera menatapnya dengan tekad bulat.


"Kita akan menghentikanmu, Lord Malakar! Kerajaan Sindria tidak akan jatuh ke tanganmu!"


Lord Malakar hanya tersenyum sinis dan meraih pedangnya yang besar. Tanpa kata, dia meluncur maju dengan kecepatan luar biasa, memotong angin dengan pedangnya yang tajam.


River dan Elera bertindak bersama, River menahan serangan gagah dari Lord Malakar dengan teknik pedangnya.


Sedangkan Elera menggunakan sihir anginnya untuk menghalau serangan-serangan sihir dari Lord Malakar yang menuju mereka.


"Angin lindungilah kami!"


Sihir angin melingkupi mereka semua, membentuk perisai angin yang bisa menahan serangan apapun. Tapi Lord Malakar bukanlah orang biasa.


Dia berlari kencang dan mengayunkan pedangnya hingga sihir pelindung dari Elera hancur begitu saja.

__ADS_1


Mata Elera membulat karena terkejut, dia ketakutan karena Lord Malakar semakin dekat dengannya.


Saat pedang Lord Malakar hendak mencabik tubuh Elera, River dengan cepat bergerak untuk melindungi Elera.


-cring


Pedang River memancarkan kembang api, begitu bertemuan dengan pedang besar milik Lord Malakar.


"Aku tidak akan membiarkanmu menyentuh gadis ini!"


Lord Malakar hanya tersenyum melihat tingkah ini. "Kalahkan aku jika kamu bisa… walaupun itu tidak mungkin, aku akan membunuhmu dan menyantap tubuh gadis itu setelah mati!" Lord Malakar memasang wajah menjijikkan.


"Bajingan aku tidak akan membiarkanmu!"


River memancarkan energinya menjadi lebih kuat, tubuh River dilapisi oleh cahaya dan pedangnya juga bercahaya. River bagaikan ksatria dari langit sekarang.


Kekuatan dari River meningkat drastis. "Dengan ini aku akan mengakhiri ini semua, Lord Malakar."


Lord Malakar bergidik ngeri, dia menyadari sosok itu puluhan kali lebih kuat, tidak bahkan ratusan kali lebih kuat.


Kekuatan yang dimiliki oleh River adalah kemampuan istimewa dan hanya bisa digunakan sekali seumur hidup. Karena setelah menggunakan itu, River akan menjadi manusia biasa tanpa kekuatan apapun.


Kekuatan itu disebut [ Mugetsu ]


"Jadi ini kemampuan [ mugetsu ] yang melegenda itu?" Lord Malakar makin merasakan rasa negeri.


Sosok pahlawan itu mengangkat senjata ke atas. pedangnya diselimuti oleh energi aetheric, yang menciptakan efek yang sangat dramatis. Cahaya yang bersinar terang memancar dari pedangnya, membentuk garis cahaya yang berkilauan di udara.


[Aetheric Cleaver]


Saat River mengayunkan pedangnya, cahaya ini melesat menuju musuh dengan kecepatan yang mengesankan. Serangan ini begitu kuat sehingga bisa memotong melalui bahkan pertahanan terkuat.


Semua prajurit musuh menatap kilauan cahaya dengan ketakutan. Menyadari kapan mereka akan mati.


"Hahahaha… ini pasti bercanda."


Dengan sekejap, semua prajurit dan Lord Malakar lenyap tanpa menyisakan apapun.


Bahkan tanah menjadi bongkahan lubang yang sangat luas, membentang hingga beberapa kilometer.


"Hah… hah… hah…" Nafas River menjadi tidak beraturan, dia sudah kehabisan semua kemampuannya.


Mugetsu yang digunakan, menghabiskan segala kekuatan hingga permanen.


Dia sekarang adalah manusia biasa.


"River kita berhasil!"


Elera langsung memeluknya dengan sangat erat, baginya ini adalah pencapaian terbaik.


River hanya tersenyum dan membalas pelukan dari sang gadis.


Terdengar langkah kaki yang mendekat dan suara tepuk tangan. Secara alami, River dan Elera langsung menatap sumber suara.


"Sungguh pertarungan yang luar bisa, pahlawan kita, River."


Dia adalah teman masa kecil River, namanya Alarc. Dia pengguna pedang besar sama seperti River.


Pada awalnya River sedikit merasa aneh. Kenapa orang ini tidak terlibat dalam pertarungan?


Tubuhnya tidak ada noda sama sekali, ini adalah bukti bahwa Alarc tidak bertarung.


Tapi, sebagai teman tentu River tidak mau mencurigainya.


Perlahan dia melepaskan pelukan elera dan berdiri dengan tubuh lemah, terhuyung-huyung.

__ADS_1


"Kamu terlihat sangat lemah, tuan pahlawan," ucap Alarc dengan senyuman.


"Ini aneh, Alarc yang ku kenal tidak seperti ini… dia seperti berbeda." pikir River dalam hati.


Tap.. Tap..


Suara langkah kaki terdengar, dan ribuan pasukan yang entah berasal dari mana mengempung River dan Elera.


Dengan pedang tajam di masing-masing mengarah ke River.


"Apa maksudnya ini? Alarc?"


Elera tidak bisa menahan rasa amarah, dia membentak Alarc.


Sejak awal Elera tidak menyukai pria itu karena merasakan perasaan aneh, tapi dia mengabaikannya karena River menganggap pria itu temannya.


River masih berpikir positif, dia tidak mau menyimpulkan hal buruk tentang rekannya.


"Kamu masih bisa memasang wajah seperti itu, River? Aku datang ke sini untuk membunuhmu!" tatapan pria itu sangat dingin, seolah mengatakan keseriusan dari ucapannya.


Merasakan hawa bahaya, Elera memegang tongkat sihir dan siap merapalkan sihir.


"River pergilah! Sudah kuduga orang ini gila!"


"Mengatakan aku gila sangat jahat… justru kalian yang bodoh tidak menyadari sosok diriku yang sebenarnya."


"Akan ku perkenalkan lagi, aku adalah Alrack dan salah satu dari panglima perang Tirani… Orang-orang mengatakan jika Lord Malakar adalah yang terkuat dari panglima, tapi perkataan itu salah… sejujurnya akulah yang paling kuat, bagiku Lord Malakar hanyalah sampah."


River merasakan rasa sakit dihatinya, sosok rekan yang dia kira berharga ternyata adalah penghianat.


"Sial, sudah kuduga kamu adalah mata-mata, aku tidak akan memaafkan—"


-slash


Ucapan dari Elera terpotong, Alarc telah menebas sang gadis dan membuatnya mati seketika, lehernya mengeluarkan darah segar dan dia tergeletak lemah di tanah.


"Elera!"


"Sialan apa yang kamu lakukan, Alarc!?"


-slash


Lagi-lagi Alarc tidak membiarkan siapapun selesai dengan ucapannya. Bahkan River sendiri telah dia tebas.


"Sudah berakhir, sungguh akhir yang menyedihkan bagi pahlawan, hahaha~"


Alarc berjalan menjauh dari tubuh River yang telah lemas itu.


Pandangan River menjadi berkabut, dadanya telah tertebas dengan sangat dalam. Dan sekarang dia tergeletak.


Tapi dengan tekad, River masih bisa bernafas dan berteriak.


"Alarc! Aku tidak akan pernah memaafkanmu, aku berjanji akan membunuhmu! Aku akan membalas dendam ini!"


Langkah Alarc terhenti dan seringai mengerikan tergambar di wajahnya.


Dia kembali berjalan menuju River, mengangkat pedang besarnya, berjalan sambil menyeret pedang itu.


"Itupun kalau kamu bisa." Ucapannya dengan dingin.


Pemuda itu berdiri di tubuh River, mengangkat pedang ke perut River. Dengan mata merendahkan.


"Habisnya kamu akan mati setelah ini"


Pedang itu tertusuk tepat di jantung River dan pada hari itu juga River telah mati.

__ADS_1


Tapi kebencian River terlalu dalam, meskipun dia telah mati, jiwanya penuh akan kebencian. Dia bersumpah untuk memenggal kepala pria ini suatu hari.


__ADS_2