Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 11. Misi Membentuk kota


__ADS_3

Julian dan Johan saat ini sedang berada di ruangan yang besar dan penuh akan barang-barang mewah, ini adalah tempat ruangan Walikota.


"Saya mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada anda!" ucap walikota menundukkan kepala sembilan puluh derajat. "Sungguh hal luar biasa bisa mengalahkan semua goblin."


Melihat betapa menyedihkannya walikota, Johan ingin menghentikan aktivitas menundukkan kepala itu. "Tolong hentikan, jangan menundukkan kepala!"


Julian tersenyum. Dia merasa puas bisa membuat seorang walikota sepertinya menundukkan kepala.


"Aku sangat menghargai tindakan tuan. Jadi aku sangat ingin memberikan sebuah hadiah." kata walikota dengan serius.


"Hadiah? Apa kamu serius?" tanya Julian sedikit meragukan Walikota.


"Iya... anda boleh meminta apapun, bisa mendapatkan harta, pekerjaan, dan bahkan menjadi kesatria disini!"


Julian berdesis kesal. Menjadi kesatria? Untuk apa dia harus repot-repot melakukan hal tersebut, di dalam mimpi pun dia tidak akan mau melakukannya.


Terlebih lagi, Johan yang ada di samping kanan adalah kesatria dari Tirani. Dia makin enggan jika berlama-lama berdekatan dengannya.


"Apa anda tidak puas?" tanya Walikota karena sadar akan wajah emosi dari Julian. "Lalu bagaimana jika aku menyerahkan satu anak perempuan untuk—"


"Tidak perlu!"


"Hah?" Walikota tampak kebingungan dan tidak percaya, padahal putrinya adalah wanita yang sangat cantik yang mampu menyihir siapapun yang melihat. "Apa yang kamu katakan tadi?" Dia masih tidak percaya jika putrinya ditolak dengan mudah.


"Aku tidak perlu wanita..! bentak Julian. " Yang kuperlukan adalah informasi." Senyuman tergambar di wajah Julian.


Wajah Walikota memiring, membuat pose bingung. "Apa maksud anda?"


"Berikan informasi apapun tentang Panglima Tirani, Alrac."


Wajah Walikota menjadi biru, mendengar namanya saja dia sudah gemeteran. "A-Alrac? Untuk apa anda ingin tahu tentang beliau?"


Wajar saja jika semua orang takut dengan Alrac karena dia telah menguasai banyak kerajaan dan membentuk Kekaisaran dengan jumlah bukan main.


Singkatannya dia berhasil menguasai hampir satu per empat dari Kerajaan Yang ada di benua ini.


"Apa yang anda mau dengan Tuan Alrac!" Johan menarik pedang dan menodong ke arah leher Julian. Dia adalah salah satu orang dari Tirani wajar jika menjaga tuan.


Julian hanya melirik dengan mata dingin. Dari tatapan saja, Johan menyadari bahwa kemampuan antara mereka berdua sangat berbeda jauh.


Meskipun begitu dia harus bertarung jika bersangkutan dengan Alrac.


"Coba lakukan, memang dengan pedang tumpul seperti itu kamu bisa membunuhku?" ucap Julian dan mengeluarkan sedikit aura bertarung miliknya.


Aura milik Julian sangat kuat hingga membuat Johan dan Walikota bergetar ketakutan.


Johan menelan ludah. Dia makin merasa takut.

__ADS_1


"Cukup jangan bertarung di sini!" tegur Walikota karena memang jika pertarungan terjadi bisa saja ruangan Walikota hancur lebur.


lagipula dari aura milik Julian dia sangat yakin, Johan tidak mungkin mungkin menang.


Johan menurunkan pedang dengan terpaksa.


"Perkumpulan para Walikota... sekitar tiga bulan lagi, Seluruh Walikota akan dikumpulkan di kota Jawel dan Alrac akan datang ke sini."


Julian tersenyum mendengar ucapan dari Walikota, tiga bulan adalah waktu yang singkat. Dia makin tidak sabar untuk memberi pelajaran kepada teman lamanya.


"Tapi, yang boleh mengikuti perkumpulan hanya para Walikota di seluruh benua ini... Jadi, Budak... tidak maksud saya, orang seperti anda tidak mungkin bisa ikut perkumpulan."


"Tidak masalah. Terima kasih atas informasi yang berguna ini." Julian menundukkan kepala karena berterima kasih, lalu dia berjalan keluar ruangan.


"Sungguh pemuda yang mengerikan.. Aura bertarung yang baru saja dia keluarkan sangat mengerikan. Sebenarnya dari mana dia berada?" ucap Walikota di dalam hati sambil melihat punggung Julian yang makin menjauh.


***


Di luar ruangan Walikota.


Julian berjalan mencari sosok Rose sambil berbicara dengan sistem di kepala.


[Jadi apa yang akan Tuan lakukan setelah ini?]


"...Jika di perkumpulan Walikota Alrac akan muncul maka aku ada datang ke perkumpulan."


[Apakah anda ingin menerobos dengan paksa?]


Julian tersenyum dan berhenti melangkah. "Apakah ada cara lain kecuali menerobos?" Julian berencana untuk menerobos pada tiga bulan kedepan.


[Itu adalah tindakan sembrono]


[Jika Alrac yang pemimpin dari Tirani datang tentu dia membawa banyak bawahan yang kuat]


[Dan menerobos secara langsung... hanya orang bodoh yang akan melakukannya.]


Julian mengerutkan kening, sedikit sebal atas perkataan 'bodoh' dari sistem.


[Menerobos hanya akan menarik perhatian. Jawaban yang tepat adalah Tuan tinggal membuat kota dan menjadi Walikota.]


"Tidak mau! Untuk apa aku membuat kota. Dan itu artinya aku harus berhubungan dengan orang lagi." Julian menolak dengan sangat tegas.


[Dimengerti!]


[Misi diperoleh]


[Membentuk sebuah kota]

__ADS_1


[ Batas waktu 3 bulan]


[Hadiah>>>> +EXP 1.000.000>>>> + coin 10.000.000>>> + Skill legend 1]


[Jika gagal anda mati!]


Julian melongga melihat sistem yang seenaknya memaksa dengan misi tidak masuk akal ini. Dia ingin sekali menolak, tapi hadiah dari misi sangatlah baik.


"Hah." Julian menghela nafas. "Baiklah akan kuterima."


[Lagian anda memang perlu Sekutu, tidak mungkin anda bisa mengalahkan Alrac dengan banyaknya Kekaisaran di bawah pemimpinnya.]


[Jadi membuat kota dan kerajaan adalah pilihan yang benar.]


Julian sudah muak dengan suara dari sistem dia memutuskan untuk mengalah kali ini. "Baiklah aku mengerti."


Julian kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari Rose.


Hari telah menjadi sore hari dan akhirnya dia menemukan gadis itu masih di tempat seperti tadi. Rose tidak berjalan selangkah pun dari tempat sebelumnya.


"Selamat datang kembali Tuan Julian. Jadi bagaimana?"


Julian sebenarnya ingin langsung mengajak Rose keluar dari kota Jawel dan melakukan misi dari sistem. Tapi melihat Rose yang dari tadi berdiri dia berpikir bahwa gadis ini pasti kelelahan.


Julian berjalan mendahului Rose dan menuntun menuju sebuah penginapan.


di sana banyak orang, Julian langsung menuju repsesionis wanita dan menyewa kamar satu untuk dua orang.


Pada awalnya Julian diremehkan karena berpakaian seperti budak, tapi semua tatapan merendahkan itu berubah ketika Julian mengeluarkan koin emas.


"Satu kamar terbaik untuk dua orang." Julian membiarkan repsesionis wanita yang terkejut itu dan berjalan menuju ke atas.


"Mohon tunggu sebentar! Ini terlalu banyak!"


"Tidak apa-apa. daripada itu cepat antar aku ke kamar."


Resepsionis wanita itu tersenyum karena mendapatkan banyak uang untuk hari ini, dia merasa sedikit bersalah karena sempat menganggap rendah Julian dari pakaian saja.


Setelah itu, wanita menunjukkan jalan Untuk Julian dan Rose menuju kamar sewaan terbaik.


Saat mereka sedang berjalan, tampak beberapa pria menatap dengan nafsu ke arah Rose, mereka juga membuntuti dua orang itu dengan hati-hati.


Rose kemungkinan tidak menyadari akan tatapan itu, tapi Julian menyadari.


"Wanita itu cukup bagus," ucap salah satu dari tiga pria yang menatap Rose.


"Mari kita membunuh lelaki itu dan merebut wanita itu." jawab salah satu pria tersebut.

__ADS_1


Julian menyadari itu semua dan tersenyum sinis. "Dasar serangga menjijikkan."


__ADS_2