
Julian dan Rose telah sampai di kamar yang mereka sewa. Ini adalah ruangan yang sangat lebar, dengan satu kasur yang cukup untuk digunakan lebih dari empat orang, ornamen lampu yang bergelantungan dan hiasan di dinding membuat suasana kamar tampak indah serta elegan.
Namun, meskipun kamar ini sangat cocok untuk beristirahat, bagi Julian yang merasakan hawa tiga orang di luar. Dia tidak merasa tenang sama sekali. Dia bisa merasakan aura tidak ramah tepat diluar pintunya.
"Ada apa Tuan Julian?" tanya Rose karena menyadari wajah masam dari Julian.
"Tidak ada apa-apa," jawabnya melirik ke arah pintu kamar, sumber dari aura tidak enak. "Sepertinya ada tikus yang mengganggu. Aku akan keluar sebentar, tetaplah di sini, Rose." Julian berjalan keluar.
Rose hanya menganggukan kepala.
***
Di luar kamar
Julian membukakan pintu dan begitu dia membukannya, tampak sosok tiga orang yang telah menunggu di sana dengan wajah menjijikan.
Ketiga orang itu tampak sedikit terkejut bahwasanya Julian tiba-tiba keluar dari kamar begitu saja. Dia seolah menyadari bahwa tiga orang tersebut mengawasinya sejak dari tadi.
"Apa yang kalian mau di depan kamar orang?" tanya Julian dengan tatapan dingin, dia tidak memberikan sikap ramah satupun karena sadar bahwa mereka mempunyai niat jahat.
Tiga orang itu saling menatap secara bergantian dan tersenyum. "Hehehe... Tidak ada apa-apa, nak. Kami hanya ingin memberikan salam," ungkap salah satu dari tiga orang tersebut dengan senyuman menjijikan.
"salam?"
"Ya... Salam seperti ini!"
Pria itu melayangkan pukulan sekuat tenaga ke wajah Julian. Pukulan bahkan cukup untuk mematahkan rahang manusia, namun bagi Julian itu tidak ada apa-apanya.
Pemuda itu menahan pukulan dengan sangat mudah menggunakan satu tangan.
Ketiga pria itu terkejut karena pukulannya bisa dihentikan dengan sangat mudah. Hampir belum pernah ada seseorang yang bisa menghentikan pukulan mereka, apalagi sosok pemuda itu tampak sangat kurus dan lemah.
Tidak mungkin di bisa menahan serangannya!
"Apakah ini yang kamu maksud dengan salam?" tanya Julian dengan tatapan mengitimidasi, dia juga sedikit mengeluarkan aura sehingga membuat mereka bertiga bergidik ngeri.
"Dari mana bocah ini punya kekuatan sebesar itu." Batin salah pria yang tangannya masih di tahan oleh Julian. "Hah, jangan sombong hanya karena bisa menahan pukulanku, bocah!"
Pria itu sekali lagi hendak memukul wajah sombong Julian sekuat tenaga.
__ADS_1
Namun, sebelum pukulan itu melayang, Julian bergerak terlebih dahulu. Dia mencengkram pergelangan tangan yang sejak tadi dia tahan dengan sangat kuat, sehingga mengeluarkan suara patah tulang.
"Arghh!" Pria itu berteriak kesakitan karena tangannya telah remuk di cengkram oleh Julian.
"Hei, jangan berteriak... Ini baru permulaan." Julian menatap rendah mereka bertiga.
"Sial lepaskan dia, anak sialan!" tegur salah satu temannya dengan emosi. Dia juga mengeluarkan sebilah pisau di tangannya. "Jika masih sayang nyawa lebih baik kau pergi dan serahkan wanita cantik itu kepadaku!"
Julian melirik ke arah pria yang membawa pisau dan mengeluarkan senyuman mengejek. "Bagaimana kalau aku menolak."
"Dengar anak kampang! Wanita itu terlalu bagus untukmu, dia bagaikan langit untuk kamu yang hanya seorang budak rendahan. Jadi berikan wanita itu untuk kami." Tambah pria tesebut.
"Itu benar, tidak perlu khawatir, kami akan memperlakukan dia dengan sangat lembut," ucap tambahan dari temannya, dia menjilat bibir sendiri dan tampak menjijikan.
Julian makin malas melayani dua orang tidak tahu malu. "Tidak mau!" tegas Julian.
"Dasar anak bajingan!" Merasa tidak terima. dua orang itu berlari untuk menyerbu.
Julian tidak panik sama sekali, dia malah tersenyum dengan suasana yang terjadi. "Biar aku ajari cara memberi salam dengan benar!"
-Brak
Julian memukul wajah pria yang tangannya baru saja dia remukkan dengan sangat kuat, membuat dia dan dua temanya mental, kemudian jatuh dari ketinggian tepat di meja makan para tamu.
"Sial dari mana datangnya tiga orang ini?" ujar pria dengan pakaian mahal dan tampak sangat rapi, terlihat jelas bahwa dia marah akibat makannya telah berantakan. "Dasar sampah penganggu, beraninya mengacaukan waktu makanku!"
Tidak hanya orang itu saja yang marah, para tamu lainnya juga terlihat emosi karena waktu makan mereka diganggu.
Di atas Julian melihat keributan yang terjadi dengan tatapan merendahkan. "Itu yang akan kalian dapatkan jika berani menganggu." Setelah selesai dengan ucapannya, Julian berjalan kembali menuju kamar.
***
Setelah memasuki kamar.
Rose yang duduk di tepi kasur tersenyum karena Julian sudah datang, dengan cepat gadis itu melangkah mendekatinya. "Apa yang baru saja kamu lakukan? Di luar juga tampak gaduh, apa terjadi sesuatu?" tanya Rose. Memang akibat ulah Julian kondisi bawah menjadi ramai.
Pemuda itu hanya mengelengkan kepala, mengatakan bahwa tidak ada hal yang penting. "Aku cuma membasmi tiga tikus nakal, hanya itu."
Julian berjalan menuju kasur, sedangkan Rose memiringkan kepala karena bingung dengan maksud Julian.
__ADS_1
"Cepat tidurlah, besok kita akan kembali keluar."
Meskipun masih penuh kebingungan, tapi Rose tersenyum dan menganggukan kepala. Lagipula dia memang kelelahan
***
Malam hari.
Di suatu ruangan yang terlihat kumuh dan tidak layak digunakan, tapi digunakan sebagai perkumpulan banyak orang. Mereka saling minum dan merokok.
Di tengah keramaian tampak seorang pria dewasa dengan jas hitam sedang duduk dengan sombongnya layaknya bos. Dia bernama Edward, sosok bos bandit yang terkenal di kota Jawel.
Dia terkenal sudah membunuh banyak orang, membuat keributan, dan kabar mengerikan dia pernah meniduri ratusan perempuan dan membunuh mereka setelah bosan.
"..Tuan Edward."
Tiga orang dengan wajah babak belur datang ke arah bos mereka, Ketiga orang itu adalah orang yang dibabat oleh Julian beberapa jam lalu.
"Ada apa?" tanya bos tersebut melirik ke arah tiga orang. "dan juga kenapa wajah kalian tampak babak belur?"
Mereka menelan ludah. Kekalahan di grub bandit adalah aib, jika bos mereka tahu bisa saja mereka dibunuh. Tapi untuk sekarang bukan waktunya memikirkan hal tersebut.
"Kami menemukan sosok wanita yang mungkin menarik bagi tuan," ucap salah satu dari mereka dengan gagap, mengingat tentang Rose.
Sebuah senyuman tergambar di wajah bos, dia sudah jelas sekali tertarik dengan sosok gadis yang dimkasud. "Lalu di mana sekarang dia?"
Ketiga pria saling menatap, lalu menganggukan kepala seolah menyesetujui sesuatu. "Kami diganggu oleh sosok pemuda yang sombong itu! Jika saja dia tidak ada, pasti sekarang wanita itu sudah di tangan kami."
"Itu artinya kamu gagal?"
"Tidak saya tidak-"
-slash
Kepala orang itu melayang, darah berceceran di mana-mana. Edward tidak bergerak satu inci pun, namun dia membunuh orang itu.
Kedua orang yang tersisa bergetar ketakutan. Ini adalah kekuatan luar biasa dari bos mereka.
"Jadi di mana letak wanita itu dan pemuda yang kamu maksud?" tanya Edward.
__ADS_1
Setelah dijawab mengenai keberadaan Julian. Kedua orang yang tersisa langsung dibunuh dengan cara sama. Kepala ketiganya terbang begitu saja.
"Wanita itu pasti akan kurebut, aku akan membunuh siapapun yang menganggu." ucapnya dan tertawa