
Kota Jawel semakin sepi karena alasan yang tidak diketahui. Hanya ada kabar melalui pengeras suara bahwa bahaya akan datang. Gerbang kota juga telah tertutup sangat rapat, tidak ada orang yang bisa keluar dan masuk.
Saat ini Julian dengan pedang barunya berjalan bersama Rose, mereka berkeliling di kota Jawel untuk mencari penginapan demi beristirahat, tapi sampai sekarang kedua orang ini tidak menemukannya.
"Sebenarnya ada apa dengan kota ini? Kenapa tidak ada orang yang membuka tempat penginapan?" keluh Rose, dia mulai muak dengan semua ini.
"...Para pemilik penginapan bukannya sudah bilang, bahwa mereka ingin mengungsi ke suatu tempat yang aman?"
"Kita sudah dengar alasan yang sama puluhan kali, Tuan Julian."
Setiap kali Julian dan Rose mencari penginapan, maka mereka ditolak katanya banyak monster yang akan menyerang kota, maka dari itu semua pemilik Penginapan pergi mengungsi.
"Kalau monster adalah masalahnya, kenapa anda tidak menghabisi mereka?"
Langkah Julian terhenti. Memang itu adalah pilihan yang paling logis, tapi apa untungnya Julian jika melakukan hal itu?
"Bukankah pedang itu baru, bagaimana jika anda mengetes dengan melawan para monster?" Rose memberikan opsi menarik, tentu dia bermaksud agar Julian mau membantu orang.
"....."
Julian menatap kebawah. Sebenarnya dia sangat enggan.
[Itu akan menjadi pilihan yang baik, Tuan. Selain membuat Rose senang, anda juga bisa mendapatkan EXP yang berguna untuk menaikkan level]
[Cepat naik level dan membunuh Alrac bukankah itu adalah tujuan?]
[Maka dari itu melawan monster dan Level Up adalah pilihan terbaik]
Sistem memberikan saran yang sangat berguna bagi Julian. Saran itu seratus persen benar.
"Hah.." Julian menghela napas, kemudian membalikkan badan. "Baiklah."
Mendengar jawaban singkat dari Julian, wajah Rose menjadi berseri karena senang.
"Tapi... Kamu tetap berada di situ, jangan ikuti aku!"
Jika dalam kondisi biasa Rose pasti akan menolak, tapi mau bagaimana lagi. "Baiklah." Rose menganggukan kepalanya.
Pemuda itu melirik sekilas lalu berjalan beberapa langkah dengan cepat.
***
Di gerbang kota Jawel.
Terlihat banyak perajurit yang berada di level 50 an berjaga di depan gerbang. Mereka menunggu para monster yang digadang-gadang hendak menyerang kota.
"Apakah para penduduk telah aman?" tanya salah satu pemimpin perajurit. Dia satu-satunya yang memiliki level 80.
"Semua telah aman, Tuan Johan. Gerbang juga telah ditutup dengan rapat. Tinggal menunggu para monster berdatangan!" Salah satu perajurit memberikan hormat dan melaporkan segala kondisi di dalam kota.
"Kerja bagus. Dengan ini kita tinggal membasmi makhluk menjijikkan itu." Johan menunjukkan telunjuk ke arah monster berbentuk manusia dengan warna hijau.
Mereka berjumlah ratusan dengan tubuh layaknya anak kecil dan senjata berupa pisau dan panah. Mereka adalah goblin.
Di bagian paling depan para goblin ada satu makhluk berwarna hijau kehitaman. Dia memiliki tubuh lebih besar dengan senjata kayu pukul yang besar.
"Pasukan goblin dan satu ogre, ya? Ini cukup bahaya."
__ADS_1
Para goblin berada di level 50 an, memang kecil. Tapi jumlah mereka ratusan bahkan hampir mensampai angka ribuan.
Dan satu ogre itu berada di level 95, level yang sangat tinggi untuk Johan dan para perajuritnya.
"Mari kita lindungi kota ini jangan biarkan para goblin masuk!" teriak Johan mengangkat pedangnya, memberikan semangat bagi para bawahannya.
Johan dan perajurit berlari menuju kumpulan goblin.
Dengan cepat gerbang kota menjadi medang pertarungan.
Bomn...
Bomn...
Beberapa goblin berhasil ditumbangkan dengan sihir para bawahan Johan dan teknik berpedangnya. Jumlah sebanyak ini tidak menjadi masalah besar karena goblin tidak terlalu pintar.
[Fire bal]
Bomn..
Johan menciptakan bola api yang besar dan berhasil meratakan puluhan goblin.
Namun dalam kepulan asap yang menutupi pandangan, berdiri satu ogre yang terlihat sangat gigih. Serangan sihir apapun tidak terlihat berhasil.
Tap.. tap.. Goblin itu melangkah maju dengan senjata di tangannya.
"Sial! [Fire bal] [ Fire bal] [Fire bal]" Johan terus mengeluarkan sihirnya, tapi tidak berefek apapun.
Pria itu mengatur napasnya, dia sudah kehabisan tenaga dan mana sihir. Dia terlalu memaksakan diri.
Dengan komando dari Ogre, para goblin berjalan mendekati Johan dan membentuk lingkaran, mengunci Johan agar tidak bisa lari.
Beberapa bawahan lainnya juga berjerit dan satu persatu telah meninggal. Tinggal beberapa perajurit yang masih ada dan bisa dihitung dengan jari.
"Sial!"
Johan masih melawan, membunuh beberapa goblin yang mengepungnya dengan pedang. Tapi dia telah mencapai batas dan goblin juga tidak ada habisnya.
"Grraa.."
* BraK
Ogre itu memegang tangan Johan dengan erat, lalu membantingnya sehingga membuat Johan mengeluarkan batuk darah.
Para Goblin makin mendekati Johan yang telah kehabisan tenaga. Mereka sangat dekat.
"Sial sepertinya aku hanya bisa sampai di sini." ucap lirih Johan dengan pandangan mata penuh darah.
Saat dalam Keputus-asaan. Sosok pemuda terlihat di langit yang tinggi, dia adalah pemuda berambut pirang dengan baju coklat.
"Pakaian itu... budak?" gumam Johan. Dia merasa jijik melihat pakaian kumu yang biasa dipakai oleh budak.
Tanpa menyadari sosok sebenarnya yang dia rendahkan.
-Slash
-Crak
__ADS_1
Pemuda itu menyayat leher Ogre berlevel tinggi itu dengan sangat mudah. Lalu menyerang puluhan Goblin yg mengepung Johan seolah mereka bukan apapun.
"Apa?"
Gerakan pemuda itu berhasil membuat mata Johan terbuka lebar. Ini pertama kali baginya melihat orang bertarung dengan gerakan sehebat itu.
"Siapa budak itu? ... Dia sangat kuat!" pikir Johan dalam hati. "Bagaimana bisa kamu berada di luar apakah kamu tidak tahu, jika diluar bahaya?" Johan merasa aneh. Harusnya gerbang telah ditutup rapat tidak mungkin ada yang bisa keluar masuk.
"Aku melompat setinggi mungkin," jawab pemuda itu datar.
"Hah?"
"Sudah kubilang aku melompat! Yang lebih penting... Aku akan membunuh para goblin yang tersisa."
Goblin yang tersisa berjumlah kurang lebih 300 ratusan. Dan Pemuda itu berlari kencang, lalu menebaskan pedang.
Seperti seorang pangeran, pemuda itu menari di medan tempur dengan pedang gagah berwarna hitamnya.
Pemuda itu tidak lain adalah Julian.
"Wow pedang ini sangat kuat!" gumam Julian, kagum akan daya serang dari pedang yang baru dia gunakan.
[Tentu saja! Anda menghabiskan semua coin untuk pedang itu! Sebisa mungkin hematlah!]
Julian tersenyum kecut karena mendengar sistem marah.
"Maaf... lagian membunuh goblin ini juga menghasilkan banyak coin."
[Coin + 1.000]
[Coin + 1.400]
[Coin + 2.000]
[Level up + 5]
Setiap kali Julian menebas Goblin dia mendapatkan cukup banyak coin. Dan setelah membantai habis para goblin akhirnya Julian naik level sebesar 15 level.
"Huh..." Julian menghela nafas dan menyeka keringat. "Benar-benar goblin yang merepotkan," ujar Julian sambil menatap ratusan mayat goblin yang kini tergeletak di tanah.
"Anu... siapa anda?" tanya Johan setelah melihat betapa hebatnya pemuda ini. Dia dengan ragu berjalan mendekat.
"...."
Julian tidak menjawab, melainkan menatap tajam Johan. Di bagian dadanya ada logo tidak asing bagi Julian. "Kekaisaran Tirani, ya?" gumamnya menatap tajam logo di dada Johan.
Johan adalah salah satu pasukan Kekaisaran Tirani yang ditunjuk khusus untuk menjaga kota Jawel.
Karena jengkel dengan nama Tirani, Julian memutuskan berjalan menjauh.
"Tunggu!"
"Ada apa? Aku tidak punya waktu untuk berurusan denganmu," jawab Julian dengan dingin.
"Mohon tunggu...saya ingin mengucapkan rasa terima kasih."
julian tersenyum sinis lalu membalikkan badan. "Emang apa yang ingin kamu lakukan?"
__ADS_1
"Mari bertemu walikota dan jadilah kesatria di sini, hidupmu akan terjamin dan pastinya kamu tidak akan rugi. Kekuatan hebat sepertimu sangat rugi jika dibuang!"
Julian memegang dagunya, berpikir beberapa saat. Dia akhirnya menemukan ide bagus dan tersenyum. " terdengar menarik."