
Reiner tersenyum meremehkan, menganggap rendah Julian karena memiliki level yang lebih rendah darinya. Dia berpikir pertarungan ini akan menjadi sangatlah mudah baginya.
Tapi, Reiner tidak memahami apapun. Faktanya meskipun dia berlevel lebih tinggi, itu bukan berarti dia lebih kuat.
"Aku tak menyangka tikus kecil sepertimu bisa membuat Penjara milikku menjadi berantakan seperti ini, bahkan empat naga penjaga bisa kamu kalahkan," kata Reiner, memegang pedang besar miliknya.
"...Tapi sangat disayangkan, keberuntunganmu berakhir disini!"
-Swosh
Dengan kecepatan kilat, dia menarik pedang dan menyilahkan serangan pertama. Pedangnya berkilauan di bawah sinar bulan, dan dengan satu gerakan yang cepat, dia mengarahkan serangan pedangnya ke arah Julian.
Para bawahan Reiner tersenyum puas dan tertawa, menganggap serangan itu tidak mungkin bisa ditangkis atau dihindari begitu saja, namun anggapan itu berubah.
Julian dengan kemampuan [Strength Surge] dan skill [Weppon master] berhasil menangkis ayunan pedang dari Reiner dengan mudah.
Pedang mereka beradu, menciptakan percikan berwarna oren.
Baik Reiner maupun bawahannya melongga karena kaget, Julian bisa menahannya.
"Kamu lumayan untuk seukuran level 77. Tapi bagaimana dengan yang ini?!"
Reiner mengangkat pedangnya lagi, lalu menyerang dengan tenaga lebih kuat, sehingga tanah menjadi retak dan Julian sedikit kesusahan menahan serangan mematikan ini.
"Sepertinya kamu kesusahan bocah!"
-Brak
Tanpa mengenal rasa ampun, dia memberikan tendangan kuat ke perut Julian yang sedang menahan serangannya membuat dia terhempas beberapa langkah.
Mereka melanjutkan pertarungan dengan saling beradu pedang sehingga menciptakan dentuman logam di malam hari. Pertarungan terlihat sengit.
Takk
Takk
"Ada apa? apa kamu hanya bisa menahan seranganku?!" tanya Reiner mengejek. karena sejak tadi, Julian hanya menahan serangannya.
"Apakah kamu serius berpikir bisa kabur di penjara ini? Aku tuan Reiner yang penuh kuasa tidak akan membiarkan itu terjadi!"
Mendengar ocehan ini, membuat Julian pada akhirnya emosi. "Kenapa kamu membawa banyak manusia menjadi budak di sini? Jawab aku Reiner!"
__ADS_1
"Kenapa? Itu karena aku berkuasa! Sudah sewajarnya orang penuh kekuatan mempunyai segalanya baik itu wanita dan segalanya. Bahkan mempermainkan nyawa orang lain adalah hal yang normal!"
-Brak
Tanah menjadi retak sekali lagi akibat serangan pedang vertikal kuat dari Reiner. Julian lagi-lagi menahan serangan dengan kesulitan dan dengan kedua tangannya.
"Sebenarnya apa yang membuatmu melakukan hal bodoh seperti melarikan diri? Apakah kamu masih punya dendam dengan wanita dan pria yang kubunuh pada malam hari itu?"
Mata Julian terbuka lebar. Dia mengigit bibirnya, kalimat dari Reiner sangat benar. Ingatan pada malam hari disaat Reiner membunuh kedua orang tua Julian masih tergambar jelas.
"Hahaha, sudah kuduga aku benar!"
"Tuan Julian!" Rose dengan air mata yang menetes berlari menuju Julian. Ingin mencoba membantunya.
"Rose jangan mendekat!"
"Tapi..."
"Sudah, pokoknya tetaplah di sana!"
Bagi Rose ini adalah keputusan yang sangat sulit, tapi dia terpaksa mematuhi apa yang dikatakan Julian dia juga menyadari bahwa dia akan menjadi beban.
"Aku mengerti, Tuan Julian."
"Dan tidak cukup sampai disitu, aku juga menikmati tubuh dari ibunya setelah aku membunuh ayahnya. Sensasi tubuh dari ibu anak itu sangat nikmat! Mata anak yang melihat sang ibu dalam posisi memalukan juga tidak kalah bagus," ucap Reiner dengan senyuman menjijikkan dan menjilati bibirnya.
"Mungkin setelah ini, bermain dengan anak itu akan sangat bagus. Tidak! Setelah aku membunuhmu, aku akan menikmati dia!" Reiner terus berkata dengan tertawa seperti orang gila.
Sedangkan itu, Julian menundukkan kepala, aura darinya sengat berbeda dari sebelumnya. Dia sedikit memiliki aura yang lebih gelap.
"Ada apa anak sialan— Argh!"
Reiner berteriak sekencang mungkin, kedua tangannya putus karena tebasan tak kasat mata dari Julian.
Dan tanpa disadari oleh Reiner, Julian telah melompat ke langit setinggi mungkin.
Julian berpikir, bahwa semua orang disini sama saja. Bermain kekuasaan seenaknya dan beranggapan bahwa dia adalah dewa yang patut disembah.
Membuat banyak orang menderita dan sengsara. Ini sangat mirip dengan Lord malakar dan Alrac.
Harus ada yang menegakan keadilan di dunia yang kejam ini. Dan orang itu adalah Julian.
__ADS_1
'Baik itu Alrac, Orang ini, dan kerajaan Tirani . Semuanya akan kubunuh.'
Dengan tatapan dingin yang membuat bulu kuduk Reiner berdiri, Julian menatapnya. Dia sangat berbeda dari yang tadi.
ini karena Julian hanya menahan diri.
"Sampah sepertimu, pasti akan kubunuh."
-Slash
-Slah
Julian dengan mantap mengayunkan pedangnya, memotong tubuh bagian dada, dan kepala. Membuat Reiner penuh oleh darah.
Reiner jatuh, dia telah mati.
Para bawahan Reiner ketakutan dan bergetaran. Dia tidak menyangka sosok seperti Reiner dapat dibunuh, apalagi dengan budak seperti ini!
Mata ungu itu melirik ke sekumpulan bawahan. Hanya dengan lirikan saja, semua orang tahu bahwa sosok yang mereka lawan adalah monster.
"L- Lari!" Semua bawahan lari terbirit-birit karena ketakutan.
Kini semua pasukan Reiner telah musnah. Semua melarikan diri karena ketakutan. Dan Julian sendiri tidak ada niat untuk mengejar.
Sekarang hanya ada Julian dan para budak lainnya.
"Bagaimana dengan kalian? Apa yang akan kalian lakukan setelah ini?" tanya Julian menatap para budak yang dia lepaskan.
"K- kami..." Tubuh para budak gemeteran. Mereka menyadari bahwa ini sangat tidak sopan bila takut kepada penyelamat.
Tapi, Sosok Julian saat ini terlalu mengerikan dengan tubu penuh darah dan mata ungu seperti pembunuh kelas atas.
"...Kalian boleh pergi, ke mana saja." Julian tahu bahwa mereka takut, maka dari itu dia memberikan opsi tersebut.
"B- baiklah!" Dengan cepat mereka semua ikut lari begitu saja. Meskipun begitu mereka berjanji, jika pada suatu hari bertemu dengan Julian. Mereka akan membantunya sebisa mungkin.
Dari banyaknya orang yang kabur hanya tersisa Rose. Dia tidak terlihat takut dengan Julian. "Apa kamu tidak kabur?" tanya Julian.
Rose menggeleng dan tersenyum. "Untuk apa aku lari? Aku akan tetap bersama penyelamatku."
Julian mengalihkan pandangan dan berjalan menjauh. "Lakukan sesukamu."
__ADS_1
"Baiklah~" Rose tersenyum dan mengekor ke arah Julian, menuju keluar dari gerbang penjara