Revenge Of The Fallen Hero

Revenge Of The Fallen Hero
Chapter 6. melawan tangan kanan Reiner


__ADS_3

Langkah kaki Julian dan budak lainnya semakin cepat, seraya dikejar oleh penjaga lain.


Beberapa penjaga tentu menganggu, tapi beruntung mereka hanya memiliki level 10-20 tidak ada yang melebihi level dari Julian. Dia bisa mengalahkan para penjaga.


Tapi, Tiba-tiba Julian merasakan aura yang pekat, ini lebih kuat dari penjaga lain.


Secara mendadak Julian menghentikan langkahnya, memang di depan tidak ada siapapun, tapi dia mampu mendeteksi aura ini.


Para budak yang berada di belakang Julian kebingungan karena tiba-tiba Julian berhenti melangkah. Mereka bertanya-tanya dalam hati apa yang sedang dilakukan oleh pemuda ini?


"Tuan kenapa anda berhenti melangkah?" Gadis berambut merah yang berada di sampingnya bertanya.


Tapi Julian tidak menjawab dan memfokuskan indra untuk melacak keberadaan aura ini.


-Swosh


Sosok bayangan bergerak menuju ke arah Gadis berambut merah. Gerakan itu terlalu cepat untuk dilihat oleh mata normal.


Tapi bagi Julian gerakan itu bisa direspon.


-Cring


Suara bongkahan besi dan percikan kembang api muncul ketika pedang dan pisau Julian saling beradu. Sebelum pedang milik sosok misterius menyayat gadis berambut merah, Julian sudah terlebih dahulu melindunginya.


"Hebat juga kamu, nak."


Julian melihat dengan jelas status dari pria tersebut. Dia adalah lelaki berambut hitam dengan mata sipit berwarna hijau.


Level yang dia miliki lebih tinggi dari pada milik Julian. Dia berlevel 40.


"Cih!"


Merasakan hawa bahaya Julian melompat beberapa langkah agar menjauh dari lawan.


"Dia... dia adalah tangan kanan tuan Reiner. Tuan Leonardo!" teriak salah satu orang budak yang diselamatkan oleh Julian.


"Tangan kanan dari penguasa penjara ini, ya? Pantas saja dia kuat!"


Julian mengigit bibir setiap mengingat tentang Reiner. Ingatan tubuh ini berkata, bahwa dulu pada saat malah hari, lebih tepatnya saat Julian berulang tahun.


Muncul sosok misterius yang mengetuk pintu rumahnya, pada awalnya orang tua Julian berpikir itu hanyalah seorang kurir atau tetangga, jadi mereka membuka pintu rumah.


Tapi, tepat ketika kedua orang tua Julian membuka pintu, mereka dibunuh secara brutal oleh Pria dewasa dengan tutup mata di sebelah kanan, dia juga memiliki rambut putih. Dia adalah Reiner.


Julian yang harusnya senang karena hari ulang tahun, malah harus mengalami hal tragis, melihat dua mayat orang tua di depan mata.


Tidak berhenti di situ, karena alasan tertarik pada sesuatu di dalam tubuh Julian. Reiner membawanya ke penjara budak.


Alasan kenapa Julian bisa berada di penjara budak adalah karena Reiner!


Dia juga adalah sumber dari penderitaan Julian. Jiwa River yang ada di tubuh ini paham perasaan amarah yang tidak bisa hilang ini. Perasaan gelap yang pekat ini.


"...Karena aku ada di tubuhmu, maka akan kubantu balas dendammu, kawan," gumam Julian sendiri.

__ADS_1


"Jangan banyak bergumam, dasar budak lemah! Segera kembali ke sel atau aku akan membakar kalian semua." Leonardo memerkan api yang berkobar panas di tangannya dan itu membuat banyak ketakutan.


Beberapa tahun yang lalu Leonardo pernah membakar habis orang yang menantangnya bahkan hingga tubuh korban menjadi abu.


Julian tidak memasang wajah apapun, dia tidak takut. Matanya memancarkan kebencian yang mendalam, jika dia adalah tangan kanan Reiner maka dia juga pantas mati!


"Apa-apaan dengan mata itu?! Baiklah akan kubakar kamu terlebih dahulu, dasar anak sombong."


[Fire bal]


Bola api sebesar ukuran manusia menerjang Julian, panas itu bisa membakar kulitnya. Tapi Julian hanya menatap kosong.


"Tuan larilah!"


"Jangan nekat!" Beberapa orang termasuk gadis rambut merah khawatir.


Api makin mendekat, tapi dengan refleks luar biasa Julian melompat ke langit menghindari bola api itu.


Julian berputar di udara layaknya gansing dan menebas pisau ke arah Leonardo.


-Cring


Senjata mereka saling beradu. Julian sedikit kalah kekuatan karena yang dia punya hanya pisau kecil, sedangkan Leonardo adalah pedang yang sangat bagus.


Jika saja dia tidak punya Skill [ Wepon Master] pisau itu sudah lama hancur.


"Di mana sikap sombongmu barusan? Anak sialan!"


"Tuan Julian!" gadis berambut merah itu berteriak, khawatir akan kondisi dari sosok penyelamatnya.


Teriakan dari gadis itu berhasil membuat Julian sadar akan cocok cantik yang berada di kumpulan para budak.


Wajahnya yang putih, rambut berwarna merah cerah bagaikan api, dan mata biru. Dia terlihat sangat menawan, terlebih lagi bajunya sedikit compang-camping sehingga kulit gadis itu terlihat jelas.


Leonardo tergoda akan sosok itu, dia menelan ludah. "Hei nona cantik di sana, lupakan tentang budak bodoh itu dan ikutlah denganku. Aku akan memperlakukanmu dengan baik."


"Tidak mau, jangan mendekatiku!"


Leonardo makin menyeringai, dia memegang tangan gadis itu, membawa ke tembok dan menekannya.


"H-hentikan!"


"Tidak mau, kamu lebih mengemaskan jika seperti ini." Leonardo mendekati wajahnya, mencium leher gadis itu.


"Tidak berhenti!" dia mencoba melawan tapi tenaganya tidak cukup kuat.


Beberapa orang sebenarnya ingin membantu, tapi mereka juga takut. Kecuali satu orang.


"Tuan Leonardo, tolong hentikan tindakan itu!" teriak sosok kakek tua yang berada di kerumunan budak.


"Hah?" Leonardo melirik dengan tatapan emosi.


"Kakek?" lirih Gadis itu.

__ADS_1


Dia bukan kakek kandungnya, tapi mereka cukup dekat. Dia sering sekali bercerita tentang dunia luar dibalik penjara dan gadis itu sangat menyukai topik tersebut.


Pernah pada suatu hari, gadis berambut merah kelaparan karena jatah makan yang sedikit dan kakek itu membagikan roti miliknya, padahal kakek itu belum makan sama sekali.


Kebaikan hatinya pada hari itu tidak akan dilupakan oleh gadis ini.


"Apa urusanmu dengan dia kakek tua bangka!"


"Rose adalah gadis yang baik, dia hanya tidak beruntung bisa berada di penjara ini. Dia ingin melihat dunia luar, dia juga ingin seperti wanita pada umumnya, ingin mempunyai cinta yang murni. Jadi hentikan tindakan itu!"


"Jadi begitu." Melirik ke arah Rose, dia tersenyum jahat. "Jadi kamu ingin hidup normal dan merasakan cinta? Kalau begitu... aku akan membunuhmu dan menikmati tubuhmu setelah itu."


Leonardo mengangkat pedangnya, ingin menusuk ke arah jantung Rose, tapi pergerakan itu berhenti.


"Cukup!" teriak dari Julian yang sudah muak.


"Jangan sentuh gadis itu," lirih Julian.


"Apa yang kamu katakan, anak keci—"


-Slash


Sebelum pria itu selesai dengan ucapannya. Julian telah bergerak terlebih dahulu, bergerak cepat dan menyayat leher pria itu dengan sebelah pisau.


Mata ungu dari Julian terlihat sangat dingin, meski baru saja membunuh seseorang dia tidak memperlihatkan emosi apapun, kecuali rasa benci.


"Kau... Bagaimana bisa bergerak secepat ini—"


Darah berceceran di lehernya, nafas pria itu menjadi tidak beraturan, pandangan menjadi kabur dan butuh waktu singkat hingga membuat Leonardo jatuh tumbang.


Alasan kenapa Julian bisa bergerak secepat itu adalah karena skil baru yang dia dapat.


[Strength Surge]


Dengan skill itu dia bisa meningkatkan kekuatan sebesar 1,5 kali ketika melawan orang yang lebih kuat darinya.


[Sekarang apakah anda menyesal telah menyelamatkan gadis itu? Tuan tampak tertarik dengan Rose.]


"...diam."


Julian melirik ke arah Rose, gadis ini masih sangatlah naif. Rose memasang wajah sedih karena melihat mayat seseorang yang baru saja ingin membunuhnya.


"Hebat! Sudah kuduga kamu memang hebat!"


"Dia mengalahkan tangan kanan Reiner dengan sangat mudah, dengan ini harapan untuk kabur menjadi nyata."


Para budak di belakang Julian tampak bahagia, mereka tidak sabar untuk melihat dunia Indah yang akan mereka lihat setelah ini.


[+Exp 10.000]


[Level up +3 ]


Julian menatap layar notifikasi dari sistem. " Dengan begini aku menjadi level 33." Dia sedikit menyeringai dan melanjutkan langkah kakinya.

__ADS_1


__ADS_2