
Waktu terus berlalu, hingga tak terasa segala yang tidak baik yang datang hilang bagai ditiup angin. Si bungsu yang menjalani masa kecilnya sejak ayah pergi, ia sering merasa kesepian tanpa ada cinta pertamanya disampingnya menemaninya bersama ibu dan kakaknya. Walaupun demi menutupi rasa kecewanya dan marah pada ayahnya, ia mengisi waktunya dengan bermain bersama teman-teman didekat rumahnya. Sembari bermain, si bungsu sering dimarahi oleh ibu atau kakaknya karena sering pulang terlambat kerumah untuk makan malam karena bermain, juga terluka disaat ia bermain bersama teman-temannya.
__ADS_1
Pernah sekali, si bungsu terluka dipunggungnya akibat main petak umpet bersama teman-temannya yang pada saat itu dia bersembunyi dibawah rumah panggung tanpa disadari si bungsu ada paku yang menonjol keluar dan mengenai punggung si bungsu hingga terluka dan membuat si bungsu merasakan perih. Awalnya ia takut untuk memberitahukannya pada ibu, tapi karena dia sudah tidak dapat menahan rasa perihnya ia terpaksa mengatakannya ke ibu bahwa ia terluka dipunggung. Tentunya ia dimarahi oleh ibu dan kakaknya setelah mendengar pengakuannya itu, mereka marah juga khawatir karena si bungsu tidak langsung memberitahu tapi menyimpannya. Si bungsu takut dan juga sedih karena sudah membuat ibu dan kakaknya khawatir terhadapnya lalu setelah ibu mengobati luka, si bungsu berjanji untuk berhati-hati dan tidak membuat ibu dan kakaknya khawatir lagi.
__ADS_1
Tak membuat si bungsu berkecil hati, ia tidak membuat keinginannya itu sirna terus tapi ia berusaha untuk belajar melalui ibu dan kakak-kakaknya yang walaupun tak sedetail atau sebagus ayah yang memang dari sumber terpercayanya si bungsu. Karena kadangkala apa yang si bungsu tanyakan, tak diketahui oleh ibu dan kakak-kakaknya. Sambil ia belajar dengan tekun, ia mencoba terus menyenangkan ibu dan kakaknya, bermain bersama teman-temannya dengan berhati-hati dan selalu yakin bahwa ayah pastikan pulang kembali dan berkumpul bersama seperti sedia kala.
__ADS_1