

Udara hangat musim semi dikota Medan seolah memeluk tubuh langsing Bia. Sudah tiga minggu lalu ia sampai dikota ini. Medan merupakan bagian dari daerah provinsi sumatera utara. Kota ini merupakan kota terbesar ketiga di Indonesia setelah Jakarta dan Surabaya, serta kota terbesar di pulau Jawa.
Bia menghirup udara pagi dalam dalam, menikmati sejuknya setelah beberapa menit berada dalam mobil angkutan umum yang membawanya dari rumahnya menuju sekolahnya.
Hari ini adalah hari pertama MOS ( masa orientasi siswa ) buat anak anak kelas 10 yang pertama kali mengenakan seragam putih abunya. MOS ini sebenarnya diciptakan untuk mengakrabkan para guru dengan siswa baru, kakak kelas dengan juniornya, juga sarana untuk memperkenalkan siswa baru pada lingkungan sekolah dan program-program sekolah.
Sudah menjadi tradisi turun menurun bahwa selama MOS yang diadakan tiga hari ini, para anggota osis punya wewenang untuk "mengatur" adik kelas mereka yang baru. Katanya sih untuk menghadapi kerasnya dunia SMA kelak, juga biar mereka bisa menangkal sifat manja yang masih mereka bawa dari lingkungan Smp.
"Selamat pagi, anak-anak" sapa pak Reval. Pak Reval adalah seorang guru mata pelajaran biologi di sekolah ini. "Perkenalkan nama bapak Revaldi" sahutnya melanjutkan percakapan nya.
***
Gemerlap ibukota Jakarta mulai menarik jiwa jiwa pengelana yang kesepian. Lengungan klakson motor dan mobil masih menyemarak malam. Jakarta masih betah dengan gelar penuh kemacetan.
Malam semakin meninggi. Namun Jakarta berdiri tegak seolah tak pernah tidur, tak pernah lelah menjalani hari demi hari. Dibeberapa tempat, ia menawarkan diskotek dengan gemerlap. Penjaja cinta semalam tampak berdiri dan menawarkan jasa bagi jiwa-jiwa yang tersesat.
"Andra, kamu harus menikah! Umur kamu itu udah nggak muda lagi. Udah saatnya untuk menikah!" Kata mama Andra malam itu.
__ADS_1
Andra, seorang anak menejer di Microsoft corporation. Lelaki berkulit kuning langsat yang selalu tampak rapi dengan setelan kemeja dan celana yang selalu merasa menjadi narapidana yang dituntut menyelesaikan hukumannya. Ya bagaimana tidak? Diusianya yang sematang itu, mamanya menginginkan Andra memiliki pasangan hidup nya. Hal yang sebenarnya sudah ia pikirkan, namun belum ingin direalisasikan.
"Ma, Andra itu lelaki. Nggak haruslah dipastikan umur untuk menikah. Lagian Andra juga belum siap." Ucap Andra dengan nada tenang. "Apalagi yang membuat mu belum siap? Kamu mapan, bertanggung jawab, tampan. Apalagi yang kurang? Kamu harus menikah. Kasihan Frisly menunggumu mu sejak tahun lalu."
Tatapan sinis mamanya Andra sudah menjadi makanan sehari-hari nya. Tuntutan akan menjalin hubungan dengan Frisly sudah seperti mimpi buruk yang menjelma nyata di hidupnya.
"Ma, Andra bisa mencari pasangan untuk Andra sendiri. Mama nggak perlu repot-repot jodohin Andra dengan Frisly dari sekarang." Masih dengan kalimat lembut, ia berusaha menjelaskan. Namun sang Mama sudah terlanjur terobsesi akan perjodohannya dengan wanita itu.
"Tidak! Mama tidak akan merestui hubungan mu selain dengan Frisly!" Tukas mama Andra sebelum akhirnya ia beranjak dari hadapan lelaki itu. Meninggalkan nya dengan sebuah rasa yang sudah bercokol dihatinya sejak dulu.
***
"Kau! Wanita mana lagi yang kau tidurin semalaman?! Dimana perasaan mu? Kau kira aku ini apa?!" Wanita paruh baya itu memekik didepan suaminya. Sebuah tamparan hebat mendarat di pipi sang istri.
Plakkkkkk!
"Apa maksudmu? Kau jangan menuduhku!" Bentak sang suami kalap.
Air mata sang istri menetes tanpa bisa ia tahan. Tangannya gemetar, menahan pedih dan dengingan dengingan yang merembet di telinga bekas tamparan suaminya itu. "Kau kejam! Ceraikan aku sekarang juga! Aku tak sudi memiliki suami seperti mu!" Ucap sang istri tak mau mengalah.
__ADS_1
Dari celah pintu luar, ada seorang gadis dan adiknya yang memperhatikan pertengkaran itu sejak tadi. Ia memeluk erat adiknya yang berusia 12 tahun. Air mata tak henti hentinya mengalir, meski ia tak ingin dan sangat membenci tangisnya. Gadis itu hanya mampu memaki keadaan. Menyalahkan semuanya pada hidup. Dan mencoba tak peduli, meski sebenarnya ia begitu tersakiti.
Bia hanya seorang gadis 18 tahun saat ia mendengar sebuah tuntutan penceraian yang dituturkan ibunya. Ia hanya gadis yang berusaha berdamai dengan hidupnya. Dan meyakinkan adiknya, bahwa semua akan baik baik saja. Meski berulang kali ia mengutuki dirinya tiap kali menyebutkan kalimat itu. Bagaimana tidak? Ia tahu dengan jelas kalau hidup mereka sama sekali tidak baik. Ia tak yakin akan ada kebahagiaan dalam hidup.
***
Hari-hari terus berjalan, seolah tak memberi ruang pada Bia untuk menyembuhkan luka. Pikirannya semakin kacau. Hingga malam itu, beban hidup bia semakin nyata. Membuat Bia benar-benar merasa sendirian.
Bia menyeret tatapannya, menatap wajah sang ibu nya. Berulang kali ia melihat sebuah kebohongan yang tersirat dari ekspresi mamanya, berulang kali harapannya pupus. Ibunya berkata jujur bahwa ia telah menikah lagi.
Bia segera angkat kaki dari hadapan mamanya. Ia menghampiri adiknya di kamar. Dengan tatapan miris, ia memandang adiknya. Sekecil itu, bagaimana mungkin ia akan mengerti tentang perceraian, pernikahan, dan bapak tiri?
Bia ingin sekali membawa adiknya pergi. Tetapi ia tak bisa. Ia tak sanggup membiayai hidupnya dan hidup adiknya. Bahkan Bia lebih memilih untuk melanjutkan sekolah nya namun tidak berangkat dari rumahnya.
Sekolah bia lumayan cukup jauh dari halaman rumah Bia. Makanya Bia memilih untuk menenangkan diri dengan pergi dari rumahnya dan mencari kost-an dan pekerjaan yang dekat dengan sekolah nya.
Bia harus kehilangan orang yang dipercayainya. Ia pikir, ibunya mampu dipercaya, dijadikannya tempat bersandar. Tapi, malam itu ibunya benar-benar menghancurkan hidupnya.
Seharusnya benar, aku tak perlu percaya pada siapapun lagi, selain adikku, gumamnya dalam hati.
__ADS_1