

"Bu, Ninno pengen makan bareng ibu, kaya dulu" ucap Ninno lirih seraya memegangi lengan Ibunya.
Ibunya hanya tersenyum sekilas. "Ibu harus pergi,Ninno. Ayahmu sudah menunggu Ibu. Kau makan sendiri saja ya," ucap Ibunya dengan tega meninggalkan Ninno yang telah menunggunya di meja makan.
Ninno melepaskan lengan sang ibu, membiarkan punggungnya menjauh dan menghilang di balik pintu. Terkadang ia tak mengerti mengapa seorang kakak bisa menyayangi nya dengat sangat, sedangkan ibunya lebih dari kebalikkannya.
Ninno mulai merasakan ada rasa sesak pada hatinya. Entah, rasa kecewakah? Atau kemarahan kah? Entahlah. Hari itu untuk ke sekian kalinya Ninno hanya bisa melipatkan tangannya di meja makan dan hanya memandangi makanan nya. Merasakan gejolak kerinduan yang kembali menyesakkan hatinya. Ia merindukan kakaknya, Bia.
***
Matahari mulai jatuh, tertelan waktu yang menua. Istana Maimun merupakan bukti nyata Kesultanan Melayu yang berdiri di Medan.
"Biasanya, pada 3-4 hari setelah acara di mulai , disini akan di gelarkan pementasan melayu. Dalam pentas seni ini penari membawakan tarian khas nya dan akan ada juga grup penyanyi melayu." Tutur Bia kepada Andra.
__ADS_1
Semilir angin sore mengayunkan anak rambut Bia, dan seperti biasa hal yang dilakukan Bia yaitu menyisir nya dengan jemari. Hal yang selalu Andra sukai.
Kini kesedihan yang menyelimuti wajah cantik Bia telah usai perlahan setelah kedatangan Andra. Lelaki itu telah membantu nya melunasi segala hal yang bersangkutan dengan akhir sekolah. Sebagai ucapan terimakasih, Bia sengaja mengajak Andra untuk mengunjungi situs-situs wisata di Medan.
"Bia." Andra memanggil.
Bia tersenyum. "Kahh?"
"Jangan pernah menangis lagi, dan jangan pernah takut kehilangan."
"Ya, aku akan tetap seperti ini, aku akan menjagamu sama seperti aku menjaga adikku sendiri." Tutur Andra dengan hati menenangkan Bia.
"Bia, setiap waktu dalam hidup kita hanya berkisah tentang kehilangan. Tak pantas jika kita takut menghadapi sebuah kehilangan. Namun, ya memang bisa bisa saja jika kamu takut menghadapi kehilangan. Tetapi tidak baik jika kau berusaha menghindari kehilangan itu sendiri." Andra memulai nasehat nya.
Saat mendengar perkataan Andra, Bia langsung terduduk dan menopangkan tangannya pada lututnya. "Bukankah kehilangan itu proses mendapatkan yang baru?" Bia merenungi perkataan Andra. Dan menimang Nimang perkataan nya , benar atau tidak yang di ucapkan oleh lelaki itu.
__ADS_1
"Saat kau mendapatkan sesuatu, pasti ada seseorang yang kehilangan sesuatu dan begitu pula sebaliknya, bukan kah begitu maksud mu?"
Bia mangangguk. Mendengar tutur kata yang dilontarkan Andra padanya membuat dirinya menjadi tenang.
" Dalam setiap detik setiap waktu, tanpa sadar, tanpa pernah kita miliki lagi yang telah hilang. Kamu kehilangan keluarga mu tapi bukankah kau menemukan orang-orang yang peduli padamu?" Andra merangkul pundak gadis itu , dan gadis itu menatap nyaman dengan rangkulannya itu.
" Kau akan kehilangan apa yang kau miliki sekarang. Cepat atau lambat. Kamu harus menjalani hidup mu sebaik mungkin Bia. Belajarlah, insyaallah hidupmu akan lebih baik dari apa yang kau pelajari saat ini."
"Makasih ka, aku akan baik-baik saja," sahut Bia dengan masih dalam keadaan nyaman dalam rangkulan Andra.
Senja itu, membuat Bia menjatuhkan hatinya pada Andra. Pada lelaki yang telah menolongnya. Pada sosok yang telah merubah hidupnya.
Kedatangan Andra memberikan ruang untuk dapat bersinggah dan bersandar kembali. Kedatangan nya menjadikan kepulangan nya saat ini. Kini pada Andra lah Bia dapat bepulang, mengistirahatkan rasa menyakitkan nya itu. Dulu baginya , cinta hanyalah omong kosong orang-orang yang tak pernah mengerti dari arti cinta yang sebenarnya, menurut nya cinta hanyalah , bentakan, makian , cacian , penghianatan , kekasaran. Namun, kini ia benar-benar menemukan cinta kebersamaan nya dengan Andra.
"Makasih juga Bia, aku tau kau akan baik-baik saja," kata sosok yang telah dijadikan rumahnya oleh Bia. Kepadanya gadis itu mengartikan cinta pertamanya.
__ADS_1
Senja untuk sebuah kisah tentang kehilangan. Seperti hujan yang kehilangan mendung, kini Bia memaknai sebuah kehilangan yang dikisahkan oleh Andra.