Rindu untuk Bia

Rindu untuk Bia
part 2


__ADS_3


"maafkan aku. Aku tak bisa membawamu sekarang. Berjanjilah kau akan baik-baik saja." Bisik Bia pada adiknya sebelum ia benar-benar meninggalkan nya. Lalu, ia mengecup hangat dahi adiknya, hingga setetes air mata mengalir pada pipinya.


Bia berjalan di sepanjang setiabudi. Jalanan yang benar-benar lenggang. Hanya tampak para pedagang yang bersiap bergelar di pasar pagi.


Langkah demi langkah, Bia semakin jauh, membawanya meninggalkan rumah penuh luka itu. Rasa benci, berat meninggalkan, keinginan lari dari kenyataan. Semua berputar di kepalanya. Berulang kali ia bertanya apa salahnya hingga hidupnya ambyar sedemikian rupa?


***


Denting sendok dan piring menjadi nada menegangkan pagi itu. Detik demi detik sebuah drama dimulai dari sini. Hingga salah satu dari mereka memulai percakapan.


"Andra, tahun ini kamu harus menikahi Frisly!"


Kata papa Andra seraya meneguk minumannya.

__ADS_1


Andra menatap erat wajah yang barusan mengajaknya berbicara. Meneguk minuman dihadapannya. Ia tak mengerti dengan orang-orang yang ada dihadapnya. Mengapa mereka selalu saja memaksakan kehendaknya untuk menikahi wanita yang tidak ia cintai nya itu.


"Astaghfirullah ma, pa , Andra baru juga berapa tahun. Andra belom mau menikah. Lagi pula Andra bisa mencari sendiri pasangan buat hidup Andra. Mama sama papa ga usah hawatir." Ucap Andra. Berusaha mengatur suara nya setenang mungkin.


"Kapan kamu mau menikah? Frisly sudah menunggumu. Pokonya tahun ini kamu harus menikah dengan Frisly! Suka tidak suka kamu tetap harus menikahi Frisly tahun ini!" Pungkas papanya dengan tegas.


"Papa menjual Andra untuk hal konyol apa lagi? Gila! Semua yang ada di rumah ini gila!!" Andra berkoar. Ia berlalu dari meja makannya. Meninggalkan papa dan mama nya begitu saja.


Andra sudah tak tahan lagi dengan kesabaran nya. Ia tak tahan lagi dengan semua omong kosong yang selalu dilontarkan papa dan mamanya. Hari itu untuk pertama kali, Andra berencana untuk pergi meninggalkan Djakarta dan semua hal buruk tentang perjodohannya.


Andra menginjakan kakinya di bandara. Sore itu Andra melangkah menuju medan. Entah karena apa, ia tahu kota itu aman baginya untuk menghindari perselisihan tentang perjodohan nya dengan Frisly.


***


Di sebuah keday coffe , Bia mencoba melamar pekerjaan. Mencoba untuk mencari nafkah untuk dirinya. Meski ingin nya Bia membawa adiknya bersamanya namun dengan apa Bia menafkahi adiknya itu?

__ADS_1


"Permisi kak. Saya mau masukkan surat lamaran ini." Ucap Bia pada seorang pelayan di kedai kopi itu. "Oh iya, nanti saya berikan pada menejernya ya!" Pelayanan itu tersenyum. "Terimakasih kak." Lalu Bia meninggalkan tempat itu.


Malam itu juga ia ingin memulai segalanya dari nol, memperbaiki hidupnya, meski ia sangat membenci sangat membeci semua hal pada hidup nya.


Setelah beberapa lama ia meninggalkan caffe itu, tak lama Bia sedikit bergumam. "Ninoo..." Ia bergumam memanggil nama adiknya. Sesekali ia telah meninggalkan rumah , ia merindukan kepulangan, ia merundukan adiknya.


***


Langit kota medan berselimut kegelapan. Bulan dan bintang tampak indak menghiasi malam. Lampu lalu lintas bertukar warna, seolah mereka tak pernah memaksakan kehendak, membiarkan waktu berjalan dengan semestinya.


Taksi yang di tumpanginya, berjalan menuju sebuah hotel di kota medan. Bundaran dengan lampu-lampu yang indah tampak menyala nyala di tengah kegelapan malam. Air yang menyembur menerjang kelangit membuat bundaran itu tampak semakin indah dan sempurna. Sebagian orang tampak ramai untuk berfoto atau hanya bermain main disekitaran bundaran itu.


Tak lama kemudian, ia tiba di lobi Hotel bintang lima di medan itu. Hotel itu menjadi pilihan Andra untuk beristirahat. Setidaknya, ia dapat menginap di sana satu atau dua hari saja.


"Terimakasih pak." Kata Andra dengan menyerahkan beberapa uang lembar lima puluh ribuan. Sang sopir menerima nya dengan penuh rasa syukur. Andra membalas dengan senyuman seraya meninggalkan bapak sopir itu. Selanjutnya ia memandangi hotel bintang lima yang menjulang tinggi dihadapan nya. "Selamat tinggal Jakarta."

__ADS_1


__ADS_2