

Menit berlalu malam menjadi hitungan jam. Lalu meretas sepi, hingga minggu demi minggu berlalu dalam balutan bulan.
Bia semakin kurus. Segala hal berkecamuk di benaknya. Segala rasa mengganjal di hatinya. Kabar terakhir yang diterima dari Nino, ibunya sedang mengandung calon saudara tirinya mereka. Bia hanya mengatakan "semua akan baik-baik saja." Pada Nino. Kalimat yang selalu membuatnya memaki dirinya sendiri setiap kali ia mengingat dan mengucapkan nya. Ia tahu, Dengan adanya bayi itu, Segala hal akan semakin memburuk. Semua akan kembali terjungkir balikkan oleh hidup.
Mendekati akhir semester, Bia seaakan mendapati dirinya di jurang yang suram. Meski dengan begitu ia tetap melangkah. Walau harus tertatih. Tapi ia terus mencoba nya.
"Bia besok kita UNBK. Kita masuk sesi awal, jam 07.30 Aku ga mau kamu terlambat lagi seperti biasa." Ucap Keysha memberi tahu Bia.
"Bagaimana kalau aku terlambat?" Tanyanya pasrah.
"Maka kau tak boleh melakukan nya!" Keysha mengingat kannya dengan mantap.
Bia menatap gadis yang ada di hadapannya. Sebuah senyuman kecil yang Bia lontarkan kepada nya. "Terimakasih key."
Bia beralih topik yang pasti bukan tentang ujiannya besok.
"Terimakasih untuk apa?" Dahi Keysha merengut.
"Terimakasih telah menyadarkan ku, bahwa aku tidak sendirian didunia ini." Bia dengan ulasan senyum nya.
Keysha terharu. Jarang sekali ia berkata seperti itu padanya. Biasanya, gadis itu hanya akan menyimpan rasanya rapat rapat.
Keysha memegang punya Bia. "Terimakasih juga, sudah mengajarkan ku sebuah ketegaran."
Bia hanya tersenyum. Dan direngkuh nya Bia oleh Keysha. Saat ini ia benar-benar sangat merasakan seperti memiliki sahabat sekaligus saudara yang begitu baik, meski begitu pedih, tak pernah mengeluh sekali pun. Itu yang di sukai Keysha dari Bia.
Selalu ada yang bisa kita pelajari, seperti pertemuan nya Keysha dan Bia, yang mengajarkan arti kepedulian. Seperti pertemuan mendung dan hujan, yang mengajarkan nya keikhlasan. Keikhlasan untuk melepaskan, melebur kelam, meluruhkan butir butir langit dan meniadakan mendung.
***
Suara riuh yang sejak tadi berada dalam ruang kelas mendadak menjadi hening. Sejak kedatangan pak aldi yang memang terkenal sebagai guru terkejam. Jangan berharap dapat melihat kertas contekan, menoleh untuk menanyakan sesuatu saja tak akan pernah bisa.
Keysha merasa cemas. Mengapa Bia belum saja datang sampai saat ini. Apa mungkin ia bangun kesiangan lagi? Padahal sebelum berangkat dia sudah memastikan kalo Bia bangun dan bersiap untuk sekolah. Namun, entah apa yang terjadi dengan gadis itu hingga wujudnya belum saja muncul.
"Simpan semua buku kalian diluar! Atau dengan rasa hormat saya persilahkan kalian keluar dari ruangan ini!"
Pak aldi seolah mempersilahkan kepada semua siswa nya yang ingin meninggalkan ruangan itu. Bukannya meninggalkan. Salah seorang siswi alih alih memasuki ruangan itu.
"Maaf pak." Ucap Bia dengan napas terpenggal penggal.
"Dari mana saja kamu!" Bentak pak aldi dengan rasa ia tak suka dengan keterlambatan Bia.
Bia menelan ludah. Ia menatap Keysha berharap wanita itu dapat menolongnya.
"Pak," Keysha bangkit dari duduknya.
Pak aldi menoleh.
"Maafkan Bia pak. Tadi malam ia pulang terlalu larut, Bia berjanji tak akan mengulangi nya lagi," ucap Keysha.
"Saya bertanya pada dia! Bukan padamu!" Pak aldi menggerut penuh sepele.
__ADS_1
"Pak, kami semua sekelas. Kami akan ujian hari ini, bersama sama." Danar, teman sekelas Bia dan Keysha bangkit dari duduknya.
Satu persatu semua siswa dalam ruangan itu mulai bangkit, seolah menyetujui perkataan Danar barusan.
Merasa kalah dengan jumlah siswanya. Pak aldi memperbolehkan Bia untuk masuk.
Sekali lagi, Bia merasa tersentuh. Pada hari itu ia kembali menemukan orang-orang yang ternyata peduli padanya. Dan dia sadar betapa dalam setiap diri seseorang selalu ada kepedulian yang tertanam.
***
Malam bertabur bintang dan rembulan. Bia menekuk memeluk lututnya. Ia membenamkan wajah pada lipatan tangannya. Air mata menetes tanpa mampu ditahannya.
Halte bus dekat caffe kerjanya sangat sepi. Jalanan begitu lengang. Hanya tersisa satu dua pengguna jalan. Para penjaja malam mulai tampak keremangan diantara malam, namun cukup jelas ditemukan.
Semua luka demi luka berlalu lalang dikepala Bia. Ribuan rasa kembali menyentuh hatinya. Mengubrak abrik hidup nya. Pikirannya ambyar malam ini. Perceraian orang tua nya, perselingkuhan bapak nya, kehamilan ibunya dengan bapak tirinya, dan yang terakhir yang semakin menghancurkan hidup nya ia di DO dari beasiswa nya.
Tubuh Bia berguncang. Ia bersegukan menahan tangis. Sesekali ia meremas lengan baju yang di pakainya. Seolah menyalurkan sesak yang dirasanya.
Seketika, Bia tersadar. Seorang lelaki telah duduk di samping nya. Ia sontak kaget dan takut. Baru saat itulah ia menyadari ketakutan nya. Bia agak menggeser duduknya sedikit menjauh dari lelaki itu.
"Bia." Ucap lirih lelaki itu.
Bia menoleh dan memandangi sosok disebelah nya seraya penuh keheranan. Dia mengenalku?
Lelaki itu tersenyum. "Jangan takut. Aku pengunjung kedai kopimu. Kau ingat?"
Dahi Bia berkerut tampak ia sedang mengingat yang di ucapkan nya. Dan saat berhasil mengingatnya. Ia malah menyimpan dagunya dilipatan tangan. Tak peduli.
Merasa terusik dengan pertanyaan lelaki itu. "Apa urusanmu? Aku bahkan tak mengenal mu."
Lelaki itu tersenyum. Senyum yang disadari Bia yang begitu menenangkan nya. "Aku Andra."
Bia memandangnya. Ia menemukan sebuah ketenangan, yang seolah menjelaskan padanya untuk percaya pada lelaki itu. "Kenapa kau disini?"
"Karna aku tak ingin melihat air mata menetes diwajahmu." Ucap Andra seraya mengusap air mata diwajah Bia.
Seperti ada yang merasuk dalam hatinya, Bia menemukan ketenangan saat Andra menyentuh pipinya. Baru kali ini iya tak berontak dan menerima kehadiran orang asing. Entah karna kekalutan semua masalah nya, atau dia benar-benar merasa nyaman.
"Kakak." Bia menyebutkan hal itu. Seolah iya menemukan kehadiran seorang kakak yang selama ini dinantinya, namun tak pernah berani untuk diharapkan nya. Ia takut, sangat takut akan di kecewakan harapannya.
"Ya?"
"Kenapa kau peduli?" Tanya Bia.
Kali ini Andra merasa perasaan nya tak mengerti. Kenapa dia peduli? Pertanyaan itu mengiang ditelinga nya. Ia sendiri tak mampu menjawab pertanyaan itu. Pada dasarnya, tiap kali ia menatap Bia, seperti ia berdiri di hadapan cermin. Dua manusia yang berbeda, yang memiliki luka masing-masing. Dan setiap kali memandangi nya, Andra seolah tenggelam dalam kelam matanya. Bukan terjerumus kan, namun merumah. Ia merasa menemukan tempat untuk berpulang.
"Karena aku tau kesedihan yang selalu menggantung dimatamu tiap kali kau tersenyum." Andra menatap mata Bia.
Bia menangkap sorot mata lelaki itu. Mata yang begitu meneduhkan, begitu peduli. Selama ini ia yakin tak akan ada yang peduli dengan kesedihan yang menggantung dimatanya. Tapi lelaki itu berbeda, seperti Keysha, dia juga peduli pada Bia.
"Kau mau menceritakan masalahmu?"
Bia hanya menunduk, ada rasa yang tak pernah dimengerti nya. Ia merasa ingin bercerita pada lelaki asing itu, ingin meluapkan segala luka yang menyerngit hatinya. Namun bukan seharusnya ia langsung percaya begitu saja pada orang asing yang baru di kenalnya.
__ADS_1
"Aku tak pernah bercerita pada orang asing."
"Apa aku terlihat asing untuk mu?"
Bia tercenung. Kembali ia menatap mata lelaki itu. Tapi semakin ia menatap semakin ia mengenal sosok di samping nya itu.
"Aku kehilangan segalanya." Kata bia yang akhirnya seraya mengeluarkan kata katanya itu.
"Kehilangan apa?"
Bia menghela napas yang begitu berat. Namun tak sedikit pun bebannya berkurang. Ia ingat dengan deretan nilainya yang turun. Dan lagi lagi Bia menyalahkan semuanya pada hidup. Ia memaki kedua orang tua nya yang sudah membuat hidupnya semakin remuk. Air mata kembali menetes di pipinya. Tak tahu harus kemana ia menguapkan segala rasa yang berkecamuk.
"Cerita lah setidaknya itu akan itu akan sedikit mengurangi bebanmu" Andra kembali menawarkan kenaikannya pada Bia.
"Aku di DO dari beasiswa. Aku nggak tau semester ini dengan apa aku harus melanjutkan sekolah ku," terang Bia memulai ceritanya.
Andra mengangkat sebelah alisnya. "Orang tuamu?"
"Sudah cerai," timpal Bia sebelum Andra melanjutkan kalimatnya. Ia kembali menekuk lutut dan memeluknya. "Aku menyaksikan dengan mataku sendiri bapakku berselingkuh dengan wanita lain, dan ibu menuntut perceraian. Dan gak butuh waktu lama ibu sudah menikah lagi. Aku ga bisa menerima semua itu, ga bisa menerima orang-orang baru dihidupku. Malam itu aku memutuskan untuk pergi dari rumah."
Gelombang masa masa itu kembali mengingatkan Bia. Ia memejamkan mata, menahan perih yabg mengiris hatinya.
"Aku terpaksa meninggalkan adikku Nino. Aku tak bisa membawanya bersamaku. Untuk mengurus diriku sendiri saja aku tak bisa. Aku mulai lelah menjalani hidupku ini. Perlahan aku mengabaikan sekolahku. Dan hasil UAS-ku yang benar-benar buruk."
"Sejak saat itu aku tak pernah mempercayai cinta. Orang tuaku tak pernah mengajarkan nya. Yang aku tau. Cinta hanya perasaan sesaat yang saling menyakiti. Cinta hanya makian, kebencian dan air mata. Apalagi pernikahan? Hanya kalimat mainan di depan saksi dan penghulu. Setelah menemukan seseorang yang baru, cinta hanya dapat menduakan segala nya. Aku hanya kehilangan segalanya. Termasuk kepercayaan ku." Pungkas Bia.
Air matanya kembali menetes. Bia mengusap air matanya yang sempat kembali menetes.
Andra menyentuh bahu Bia, dengan sangat hati-hati. Ia mengelus bahu gadis itu, berusaha memberikan kekuatan pada Bia.
"Aku akan membantu mu," ujar Andra dengan nada yang sangat meyakinkan.
Bia menyeret tatapannya. Melirik Andra yang berada di samping nya itu. Apa maksudmu?
"Kau gadis yang tegar. Kau akan tetap sekolah, aku akan melunasi semuanya." Ucap Andra.
"Kau? Apa yabg harus ku lakukan jika kau melunasi semua itu?"
"Aku hanya minta dua hal. Pertama, jalani hidupmu dengan baik. Sekolah yang benar. Kedua, jangan pernah mengeluh dan menangis lagi."
Lelaki itu membuat nya tak percaya, betapa ia dibuatnya ingin menangis. Bukan karna bersedih tetapi karna ia terharu. Baru beberapa menit ia berbincang? Dan lelaki itu berkata dengan tulus, menawarkan tangan yang siap menangani nya saat ia akan terjatuh. Bia hanya masih membantah hatinya yang telah percaya. Logikanya masih menyerukan ketidakmungkinan seseorang menawarkan kebaikan begitu besar dalam sekejap dan tanpa imbalan yang seharga dengan kebaikan itu.
Lihat betapa tuhan telah mengirimkan malaikat pada Bia.
"Mengapa kau melakukan semua itu?"
"Karena terkadang. Orang asing terasa begitu dekat dengan kita. Seperti sekarang, saat aku merasa telah begitu lama mengenalmu. Anggap saja aku teman lamamu yang ingin membantumu." Tutur Andra.
Bia tersenyum. Setetes air mata kembali mengalir. " Terimakasih."
Andra mengusap air mata yang jatuh dari kelopak matanya itu. "Sudahku bilang jangan menangis lagi."
Detik selanjutnya Bia terjatuh dalam rengkuhan Andra yang entah mengapa membuatnya begitu sangat nyaman dan sangat merasakan kepulangan nya itu. Rintik gerimis rurun perlahan membuat malam begitu indah. Baru kali itu Bia merasakan begitu nyaman. Berada dalam pelukan Andra. Seperti pulang kerumah yang begitu ia rindukan. Kepedulian Andra merumahkan Bia yang tersesat dalam peliknya hidup.
__ADS_1