

Segala hal berubah setelah Bia diterima bekerja di caffe kedai kopi. Jam kerjanya yang mendapat shift malam memaksakan gadis itu pulang hingga larut malam. Bahkan sering kali gadis itu pulang di atas pukul dua belas malam.
Sekolah Bia hari makin hari mulai terlalaikan. Ia sering lupa mengerjakan tugas tugasnya. sering juga ia bangun kesiangan. Begitu sangat lelah gadis itu menghadapi rutinitas nya sekarang.
"Kamu perlu istirahat Bia." Ucap Keysha malam itu setelah membukakan pintu untuk Bia. Keysha adalah teman sekolah nya yang sekaligus teman kost-an nya juga. Bia sangat beruntung memiliki teman seperti Keysha ini. Selain pada adiknya, Bia juga telah memiliki Keysha sebagai tempat bersandarnya saat ia begitu merindukan kepulangan nya.
"Apa kau tidak lelah? Bekerja seperti ini? Mengorbankan masa sekolah mu?" Meski Keysha tahu, wajah lesu Bia tiap kali pulang bekerja sudah cukup menjelaskan semuanya.
"Key, kau tak akan pernah tahu seberapa besar kekuatanmu sebelum kau benar-benar terpuruk di satu keadaan. Kau tak akan pernah tahu kekuatan mu, sebelum kau tahu seberapa lemah keadaan menyudutkanmu."
Siapa sangka Bia akan sekuat itu? Ia dulu hanya gadis yang memaki keadaan tiap kali mengingat tangan manja perempuan lain yang memeluk pinggang bapaknya. Tangan yang sama sekali bukan ibu nya. Bia yang dulu selalu dihantui dengan luka, kini justru bertahan. Menjadi sosok yang begitu kuat.
"Terkadang luka itu sendiri yang akan menguatkan kita." Gumamnya dalam batin.
"Terimakasih Keysha." Batin Bia sembari menatap Keysha tertidur dengan pulas.
***
Lengungan klakson kendaraan menyemarakkan pagi di kota medan. Matahari semakin jelas menyalak sisi timur. Asap-asap yang keluar dari knalpot memadati membuat jalanan semakin ramai.
Hari hari Andra di medan tak lagi mendapatkan ketenangan. Namun, jika mengingat tentang kebebasan nya dari perang argumen dengan keluarga nya. Andra merasa keadaan nya jauh lebih baik saat ini.
Tiba-tiba, ponsel Andra berdering. Sebuah panggilan masuk pada handphone nya.
"Hallo ma." Sapa Andra dengan nada lesu. Mamanya Andra sudah mencak menuntut ini itu pada Andra, hal yang membuat lelaki itu ingin lari dari kenyataan. "Kapan kamu mau pulang? Kamu harus pulang! Kamu harus menerima perjodohan ini! Buka matamu untuk Frisly. Dia cantik, dewasa, bermartabat, berpendidikan." Mamanya membentak. Emosinya meluap hingga ubun ubun.
Andra menghela napas begitu berat. Tak mengertikah ibunya? Cantik, dewasa, bermartabat, berpendidikan, semua itu tidak membuatnya jatuh cinta. Cinta bukan sekedar harkat martabat yang tinggi. Tapi, lebih oada hati yang mencintai dan menyayangi dengan tulus, meski yang disayanginya tak memiliki martabat yang tinggi.
Klik. Telepon diputuskan oleh Andra. Andra benar-benar kesal pagi itu. Sudah tiga minggu dia pergi, dengan harapan orang tua nya sadak akan dirinya. Tapi, semakin hari orang tua nya semakin terobsesi dengan perjodohan nya.
Andra benar-benar lelah. Keluarga yabg seharusnya bisa dijadikan tempat nya berpulang, kini justru menjadi jurang yang di hindari nya.
__ADS_1
***
Semakin waktu berputar langit pun semakin lama semakin menguning. Cahaya kemerahan meremangkan kota medan.
Para siswa SMP kelas 7 Tiborokbok tampak berramai ramai meninggalkan sekolah. Tawa dan canda terdengar berbaur di udara, ikut bergabung bersama bau keringat yang menguap.
Bia celengukan, mencari sosok yang sangat iya rindukan, Nino. Akhirnya, setelah Bia berulangkali salah memanggil, berkali kali salah ngengira, iya melihat bayangan Nino berjalan bersama teman temannya.
"Nino!" Panggil Bia sembari melambaikan tangan.
"Kak Bia, apa kabar? Nino kangen." Nini memeluk kakanya yang membiarkan senyum nya luntur.
"Kaka baik. Nino gimna kabarnya? Keadaan dirumah gimna?" Sebenarnya, Bia merindukan ibunya.
"Nino baik juga kak. Dirumah.. sepi. Nino ga ada kawan. Ibu sama papa tiru jarang dirumah."
Bia mengupat dalam hati. Hatinya disesaki beban berton ton. Hatinya nelangsa, saat ia sadar bahwa tak ada yang dapat ia ubah.
***
Rabu malam. Seorang pemuda dengan baju kameja dan celana jeans turun dari mobil mewahnya. Langkahnya menuju ke arah caffe yang akan di kunjungi nya. Semerbak aroma dan rasa yang khas dari kopi yang di buat caffe itu membuat beberapa orang yang berlalu lalang disana merasa ketagihan dan ingin mengunjungi nya.
Pencahayaan yang lumayan terang, dengan WiFi yang berkecepatan tinggi membuat siapa saja betah berlama-lama ditempat itu. Ditambah para pelayan yang berlalu lalang dengan ramahnya menyapa para pengunjung membuat semua orang asik didalamnya.
Seorang pelayan yang memakai baju kaus putih pendek dengan celana hitamnya yang tampak menghampiri Andra yang baru saja duduk. Rambutnya dikucir satu, dengan poni yang berjatuh indah setiap kali iya menunduk. Sesekali ia menyisir rambutnya yang mencuat di dahinya. Membuat wajahnya terlihat jelas dan manis.
"Silahkan mas." Kata pelayan itu seraya menyerahkan daftar menu. Dan ia memberikan sebuah senyuman.
Andra memandangi wanita itu tanpa berkedip. Ia melihat senyuman pada pelayan itu, seperti melihat sebuah kesedihan yang melintas pada wajah manisnya. Semakin dalam ia menatap mata pelayan itu, semakin tenggelam pula ia dalam kekalutan. Memandang pelayan itu, seperti berdiri dihadapan cermin. Saat itu pula, waktu terasa berputar membuat Andra mematung, seperti berdiri di depan cermin yang mengekspresikan bayangannya.
"Maaf mas, sudah menentukan pesanannya?" Tanya pelayan itu dan kembali tersenyum.
Andra menjatuhkan menu yang tadi dipegangnya. "Eh iya, hmm ada kopi ulee kareng dan gayo?"
__ADS_1
" Ada mas." Sahut pelayan itu.
" Baiklah. Aku pesan kopi ulee kareng ding dan roti banda." Kata Andra membalas senyuman pelayan dihadapan nya.
Pelayan itu mencatat pesanan nya. "Ditunggu ya? Pesanannya segera diantar." Ia pergi meninggalkan Andra yang masih tengah memandangi pelayan itu. Dalam benaknya ia merasa penasaran pada pelayan itu. Seperti ada sesuatu yang begitu menarik dan misteri untuk diketahui dan harus dipecahkan saat pertemuan pertamanya dengan pelayan itu. Siapa gadis itu?
***
Malam semakin larut. Jalanan semakin sepi. Tinggal satu dua angkutan umum yang masih melintas.
Caffe kedai itu mulai ditinggalkan nya oleh para penikmat kopi. Para pelayan yang bertugas pada shift malam mulai membereskan meja. Denting gelas yang beradu dengan piring menggigit telinga malam.
Kini tinggal dirinya di caffe itu bersama beberapa pelayan. Gerai caffe ditutup oleh beberapa pelayan lelaki. Andra yang sejak tadi berdiri di tempat parkir, terus memperhatikan gadis yang tadi menarik perhatian nya.
Gadis itu mulai meninggalkan caffe itu seraya ia melambaikan tangan ke arah para pelayan lain yang terpisah arah pulang. "Hati hati dijalan ya mba mba🤪"
Para pelayan itu menyahuti nya "oke hati hati juga ya kau!"
Andra memandangi dan memperhatikan percakapan mereka itu. Semakin jauh semakin mengecil hingga akhirnya gadis itu hilang tak terlihat. Ia menepuk pundak pelayan lelaki yang sedang menumpangi motornya. "Itu siapa bang?" Tanya Andra.
"Oh itu? Namanya Bia atau zahabia Asyifa Farid. Dia pelayan baru disini," jawab pelayan lelaki itu.
Zahabia? Bia? Zahabia Asyifa Farid? Nama yang begitu indah, batin Andra dalam hati.
"Apa dia selalu seperti itu?"
"Seperti apa? Mengapa? Tersenyum?"
Andra mengangguk pelan.
"Dia cewe yang ramah. Selalu tersenyum dan menyapa."
Gadis itu ramah? Tapi sejak tadi, aku tidak melihat senyuman diwajah gadis itu. Tidak. Yang ada di wajah yang manis itu hanyalah sebuah luka.
__ADS_1