
"Dasar ****** kecil ini.sahabat macam apa yang dimiliki rose.ini bukan sahabat tapi ular betina" ucapnya sambil meremas hp itu.
Tanpa dia sadari rose dari tadi sudah melihat dan mendengarnya karena ia lupa tak menutup pintu kamar dengan rapat.
Dengan mengatur nafas karena marah danenetralkan raut wajahnya agar tidak seperti wanita kasar kembali.
Ia memutar badannya akan berjalan keluar kamar.
Membuat rose gugup dan cepat cepat melangkah kedalam kamarnya dengan membuka pintu pelan dan menutup pelan.
Deg deg deg
"Ternyata ibu sangat mengerikan." Batin rose.
Sedangkan yang ia takutkan hanya santai berjalan keluar kamar dan melangkah menuju anak tangga untuk turun kebawah .
"Bagaimana,persiapannya " tanya ibu kepada kepala pelayan .
"Sudah siap nyonya .paman dan bibi nona Krisan pun telah istirahat di kamar tamu." Jawab kepala pelayan itu.
"Bagus bagus"
plok plok plok sembari melihat dari pinggir pembatas lantai dua ia bertepuk tangan untuk para pekerjanya.
__ADS_1
tak
tak
tak
sepatu hak tinggi yang mahal bersuara menuruni tangga yang menuju ruang tamu dirumah itu.
sesampai di lantai bawah ia berdiri didepan sofa depannya ada anak gadis yang tak lain anak kandungnya sendiri.
"Jasmine ,sedang melihat apa kau .sampai tak memperhatikanku sampai lama berdiri di depanmu." katanya sambil berkacak pinggang.
Yang ditegur mendongakkan kepala dan kembali lagi melihat majalah ditangannya.
"Wajah garangmu tak cocok untuk wanita cantik sepertimu Bu." tambahnya dan berdiri lalu berjalan menghampiri sang ibu.
Nyonya Tessa masih tetap berdiri memelototi sang anak gadisnya yang tak tau malu.
"Oke oke,mari kita bicara serius " kata Jasmine yang udah takut melihat tatapan tajam sang ibu.
Meraih tangan nyonya Tessa lalu mereka berdua sama sama keluar ruangan menuju taman dibelakang halaman rumah besar itu .
Dihalaman belakang terdapat kolam dan sungai buatan dan ada Gasebo pinggir kolam itu.
__ADS_1
Setelah mereka berdua melewati jembatan kecil diatas sungai buatan lalu menuju Gasebo di seberangnya mereka berdua duduk disana dengan nyaman.tak lupa digasebo itu ada dapur mini beserta alat untuk memasak air untuk membuat teh dan kopi tak lupa semua alat cangkir dan teko diatas meja yang melingkar dengan cantik.
Tak lupa alas duduk yang terbuat dari busa untuk bersantai .
Setelah sampai disana Jasmin menyalakan kompor listrik dan merebus air dan daun teh hitam kesukaan sang ibu dengan teko kecil disana.
Setelah mendidih ia meletakan diatas meja buntar tak lupa menaruh alas teko dari rajutan rotan yang melingkar ,tak lupa menyiapkan cangkir dan menuangkan teh hitam didalam kedua cangkir sampai setengah penuh .
"Ibu,q menyeduhkan teh hitam untuk ibu.minumlah dulu sebelum kita membahas apa yang akan kita bicarakan." kata Jasmine dan mereka berdua meminum teh hitam dengan satu sesapan.
"Hmm, lumayan rasanya" ucap nyonya Tessa sambil menaruh cangkir teh nya kembali di atas meja.
"Bagaimana rencanamu" tanya sang ibu yang sudah tau akan pikiran putrinya.
"Begini ibu.bagaimana kalau besok lusa kita mengadakan pesta meriah dan para awak media menyiarkannya.agar ulet bulu itu tau siapa rose sesungguhnya dan bagaimana tanggapannya.kaget atau akan melakukan sesuatu yang lebih extrime mengelabui rose kembali" ucap Jasmine panjang lebar .nyonya Tessa hanya mendengar dan menganggukkan kepala bertanda ia setuju akan usulan putrinya.
" itu bisa dipertimbangkan .bagaimanapun keputusan berada di tangan ayahmu nak." jawab Tessa sambil tersenyum
"Tapi ibu akan usahakan itu dengan baik.kau hanya terima beres untuk masalah itu" tambahnya lalu berdiri untuk beranjak dari sana.
Sebelum ia meninggalkan Gasebo tersebut ia menoleh dan tersenyum kepada putrinya dan kembali melangkah dengan langkah gontai nan anggun.
"Aku akan memastikan ulet keket itu menuai akibatnya" senyumnya terukir indah tapi siapa sangka wanita itu sama kejamnya seperti sang ibu yang entah kenapa bagaikan bunga berduri.
__ADS_1