Rumah Merah

Rumah Merah
Dario tujuannya.


__ADS_3

Mbah Wersigeni berhenti sejenak, ia membunyikan lonceng kecil yang tergantung dipinggangnya.


Serentak seluruh penghuni dasar bumi keluar, mereka terpana melihat sosok mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi yang tubuh tubuhnya bersinar warna merah.


"Ada apa mbah?" satu sosok berbentuk ular namun berkenalan manusia bertanya.


"Soka siapkan prajuritmu ikuti aku! Ada oenyusip berbahaya!" ucap mbah Wersigeni.


Sosok soka meniupkan suling dan keluar dari relung relung batu puluhan ular yang juga berkenalan manusia.


"Siap mbah, kami ikuti dari belakang!"


Rombongan itu melesat masuk menembus bebatuan, tubuh mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi meliuk liuk terus melaju masuk kedalam perut bumi.


Sementara itu agak jauh didepan nampak sosok Karatzi sudah berhenti didepan sebuah gua. Baru saja ia turun dari kudanya tiba tiba tiga sinar berwarna hijau muda menerjang sisi kiri dan Kanan bebatuan.


Karatzi terperanjat dan loncat kesamping, dengkulnya menyerempet sebuah Batu tajam.


"Aah! sialan!!" teriaknya sambil menengok kebelakang.


Matanya melotot melihat dua sosok berwarna merah dan dibelakangnya berpuluh ular telah berdiri tegak.


"Berhenti! Dan jangan kau ganggu Buriah! Biarkan ia disana, sampai ahir jaman!! Itu sudah merupakan perintah sang pencipta alam semesta!!" teriak mbah Wersigeni.


"Siapakah Kau Hai kakek tua??!" bantah Karatzi sambil mengeluarkan sebuah pedang panjang yang ujung mata pedang itu terbelah dua.


"Berani sekali kau mengganggu aku! Sudah waktunya semua hancur didunia ini!! Menyingkir sebelum kuhancurkan dirimu hai kakek tua!!"


Soka yang mendengar kata kata kasar dan tidak terima sang penguasa dasar bumi dilecehkan langsung mengirim sepuluh pasukannya.


Sepuluh ekor ular besar menyerang dengan melemparkan tombak lurus kedada Karatzi.


Dengan lincah Karatzi berhasil mematahkan tombak tombak itu. Tubuh Karatzi melengking keatas dan dengan pedangnya ia menebas kekiri dan kanan.


Pertempuran tidak seimbang berlangsung, sepuluh pasukan ular ternyata tidak sanggup melawan Karatzi. tidak ragu lagi sosok Karatzi memang penguasa dunia gelap.


"Soka! Jemput anak anakmu! Sebelum mereka mati!!" teriak mbah Wersigeni.


...~...


Kelompok Putih yang dipimpin Kiyai Rohmat dan Syeh Muso tidak sadar bahwa sebelum pasukan Karatzi datang, satu sosok hitam sudah diperintahkan Karatzi untuk menculik dan membunuh Dario.

__ADS_1


Sosok hitam itu adalah sosok siluman yang dulunya adalah seorang dukun sesat berilmu hitam. Arwahnya ketika ia mati tidak diterima dimana mana namun ia secara kebetulan diselamatkan Karatzi dan kini menjadi salah satu pengikutnya yang setia.


Pak Narto sebagai seorang anggota polisi yang berpengalaman melihat turunnya hujan yang lebat mengabarkan kepada Dario bahwa sebaiknya ia keluar dan memberi bantuan kepada para santri yang ikut membantu masyarakat disekitar padepokan untuk menutup semua warung dan toko yang berpotensi terkena sampai hujan badai.


Dario sebetulnya memikirkan keselamatan semuanya, tapi nampaknya pak Narto ingin sekali membantu para santri diluar sana.


"Pak, bawa pistol ga?"


"Ada..ini dipinggang jangan takut, kalian didalam rumah saja..Saya mau nantu santri santri itu biar cepat selesai"


"Pak..kalo sudah agak beres, kembali kesini. Ingat pak kepada pesan Kiyai Rohmat"


"Oke..tidak lama pasti saya kembali pulang"


Nuri memandang kearah Dario, perasaannya tidak enak. Tapi apa boleh buat.


"Nuri, pegang senjatamu jangan jauh jauh dari aku, sepertinya aku punya perasaan tidak enak"


"Sama..aku juga demikian, sini Dario jangan jauh dari aku"


Dario mendekat dan memeluk Nuri. Ia melihat dari balik jendela angin bertambah kencang dan petir terus saling menyambar kesegela penjuru.


Selang lima menit semenjak pak Narto pergi, tiba tiba ada sebuah ketukan dipintu. Nuri yang sedang rebahan didada Dario menoleh begitu juga Dario. Keduanya terdiam beberapa saat, hingga kedua Kali pintu diketuk.


Dario berdiri dan berjalan kearah pintu, Namun langkahnya dihentikan Nuri.


"Sebentar..aku mau liat dulu siapa diluar" ucap Nuri. Ia berjingkat jingkat jalan kedekat jendela. diluar hujan mulai turun dengan deras, suara air hujan keras jatuh membentur atap genting.


Dari celah jendela Nuri mengintip, didepan pintu seorang pemuda yang mungkin adalah santri berdiri sambil menggigil kedinginan. Nuri memandang sekeliling halaman depan, tidak nampak satupun santri. Aneh juga mau santri ini?


"Mualaikumsalam ada apa?" Tanya Nuri curiga.


"Ini Ada titipan dari Kiyai Rohmat untuk pak Dario, tolong buka pintu buk" ucap pemuda itu. Nuri sempat melihat pemuda itu berbicara sambil menoleh kekiri dan kanan.


Alangkah terkejutnya Nuri ketika melihat kedua kaki pemuda itu. Nuri lihat kedua kakinya mengambang diatas tanah!


Langsung saja ia menarik senjata dari balik kain putihnya. Sontak pedang pusaka itu mengeluarkan warna merah dan ditangannya benda itu seperti hidup, ia bergerak hampir saja terjatuh dari tangan Nuri.


"Siap siap! Ada sosok jahat diluar, kamu berdiri dibelakangku" bisik Nuri kepada Dario.


Jantung Dario berdetak keras, ia menoleh kekiri dan kanan mencari sesuatu yang bisa ia gunakan sebagai senjata.

__ADS_1


Diujung kamar ada sebuah tongkat kayu, Namun apakah arti sebuah kayu melawan Jin atau setan? Tidak apa yang penting untuk berjaga jaga.


"Silahkan masuk! Pintu terbuka!" teriak Nuri.


Perlahan daun pintu rumah itu terbuka, seorang laki laki muda berdiri disana. Hujan turun dengan derasnya, dari jarak 3 meter Nuri melihat kedua mata orang itu tajam memandang lurus kedepan kearah Nuri dan Dario. Ia menyunggingkan senyum, senyum yang aneh dan sinis.


"Siapa kamu?!" teriak Nuri.


"Hehehe..Anak cantik, kau seharusnya sudah mati dan masuk keneraka! Kenapa masih Ada dibumi??!" Kata orang itu sambil melepaskan peci yang dikenakan kelantai dengan kasar dan juga melempar sarungnya.


Perlahan laki laki itu berubah tubuhnya..Terlihat mukanya hancur berantakan, satu matanya keluar dari kelopaknya. Tubuhnya berwarna hitam legam. Kuku kuku tangannya tajam tajam dan panjang.


"Kurang ajar!! Berani sekali masuk kerumah suci ini!!" Nuri mengeluarkan senjata pedangnya.


Sosok itu mundur dua langkah melihat senjata yang dipegang Nuri, sinarnya sangat kuat memancar, ia harus menutupi wajahnya.


Nuri melompat kedepan sambil melibas libaskan kearah sosok uruk rupa itu.


Dua kali ia berhasil menghindar dari libaskan pedang pendek Nuri, pada gerakan ketiga sosok itu loncat tinggi keatas atap ruangan sambil melepaskan sebuah pisau kecil tajam kearah wajah Nuri.


Dengan cepat Nuri memutar tubuhnya, ia bergeser kekiri sambil melindungi Dario. Pisau kecil itu menancap diatas sebuah lemari.


Sosok itu dengan cepat turun bagaikan seekor laba laba ia berjalan merangkak. Nuri terdesak kebelakang, tidak sadar ada sebuah vas kembang dibelakangnya. Langsung saja Nuri jatuh terjengkang karena menabrak vas. Meninggalkan Dario yang berdiri tanpa perlindungan.


Sosok mengerikan itu dengan pelan pelan merangkak mendekati Dario, kuku kukunya yang tajam diangkat. Dario gemetar, sebentar lagi nyawanya hilang..


Namun tiba tiba terdengar tiga Kali tembakan pistol. Tubuh sosok itu bergoyang keras, punggungnya jebol kena terjangan peluru.


Dipintu berdiri Pak Narto, tangannya mengarahkan pistolnya kedepan. Kedua Mata Pak Narto terbelalak melihat sosok mengerikan itu.


Namun..sosok siluman itu tidak mati, ia menolehkan kepalanya kebelakang dan memutar tubuhnya. Kini merangkak kearah Pak Narto yang berdiri tegak seakan terhipnotis.


Dengan sekali loncat, Nuri mengangkat tangan kanannya yang memegang pedang pusaka. Sebuah ayunan keras melibas leher sosok siluman itu.


"Aaaaaaa!!" lengking suaranya keras terdengar.


Setelah memotong leher kepala siluman kembali Nuri menghujamkan pedang kearah perut sang siluman.


Siluman itu roboh dengan perut jebol, asap hitam tinggi terlihat mendekat dan menyelimuti sosok siluman. Dengan sekali raup asap hitam itu menggulung dan lenyaplah siluman itu seketika.


"Apakah itu?!" teriak Dario.

__ADS_1


"Malaikat maut telah mengambilnya!" ucap Nuri sambil menyibakkan rambutnya.


...~...


__ADS_2