
Lambat laun gerakan Nuri mulai terpojok, kini posisinya hingga mendekat kepohon kelengkeng dihalaman depan rumah Kiyai Rohmat. Sabetan dan tikaman rantai tajam Monica betul betul membabi buta.
Ketika kekuatan Nuri melemah dan ia diujung maut, ia sempat melirik kekiri kepada jari manisnya. Cincin pemberian Brojokala sang raja Jin tiba tiba bersinar terkena pantulan sinar bulan. Ia Jadi teringat Kata Kata Brojokala..USAP CINCIN INI DAN AKU AKAN DATANG.
Tanpa pikir panjang ia memoles ujung atas cincin, suasana sekonyong konyong berubah gelap gulita. Asap tebal menutupi semuanya. Nuri tidak bisa melihat apa apa.
Tidak lama sosok Brojokala dan 2 panglima perangnya muncul.
"Kurang ajar! Beraninya kau mengganggu anakku!!" teriak Brojokala dengan bengis dan penuh angkara murka berteriak kearah Monica yang kebingungan mencari darimana datangnya suara menggelegar itu.
Sekali hentak, bumi seakan runtuh. Dahan dahan pohon kelengkeng patah dan berjatuhan. Bersamaan itu Brojokala dan 2 panglima perang menyatukan kekuatan dan melepaskan pukulan keras kearah Monica yang terkejut dan tidak sempat mengelak.
Nuri melihat perut monica meledak, pukulan keras 3 sosok Jin itu telah menjebol perut Monica. Wanita iblis itu berteriak keras, saking keras lengkingannya, terdengar oleh Karatzi yang berada diatas langit. Kala itu ia sedang melongo terkejut kejut melihat tumbangnya Usumeni.
Belum hilang kagetnya melihat sosok sebesar bukit itu tumbang,kini ia mendengar suara permaisurinya yang melonglong kesakitan dibawah sana.
"Alexis!! Perhatikan pasukan kita! Kau ambil alih!!" Karatzi langsung membentangkan sayapnya dan terbang kebawah.
Dari atas ia bisa melihat tubuh Monica yang terkapar ditanah dengan darah yang membanjiri tubuhnya. Tidak jauh dari tubuh Monica ia melihat Nuri yang berdiri termanggu manggu.
Dari ketajaman pandangannya Karatzi bisa melihat sosok Dario yang berdiri mengintip dibelakang sebuah jendela didalam ruang tamu rumah Kiyai Rohmat. Bedebah! Gara Gara orang itu semuanya begini! Ucapnya dalam hati.
Secepat angin Karatzi terjun kebawah kearah rumah Kiyai Rohmat.
Monica yang sekarat, melihat kekasihnya turin kebumi. Ia merentangkan sebelah tangannya, bibirnya komat kamit mencoba memanggil.
"Ka..Kanda, tolong aa..aku" lirih suaranya kearah Karatzi.
Itulah detik detik menegangkan yang disaksikan Nuri. Entah kenapa, Karatzi tidak datang menolong Monica tapi ia langsung menembus dinding rumah dan masuk.
Semua serasa berjalan dengan pelan, seluruh tubuh Nuri seperti terpaku tidak bisa menggerakkan apa apa..mulutnya menganga kaget. Nuri tau didalam rumah Dario sedang berdiri memperhatikan pertempuran mereka..tapi Dario bukan tandingan Karatzi! Oh no!!
Dario terkejut melihat sebuah cahaya merah menembus tembok, ia tidak sempat lari ketika cahaya merah itu mengelilingi tubuhnya.
"Hai orang keparat! Semua ini gara gara kau!!"
Karatzi meletakkan jari telunjuknya yang berkuku panjang. Sebuah sayatan tajam merobek urat nadi dileher Dario. Darah langsung muncrat dari arah sana.
"Dario!!" teriak Nuri.
"Pak!!" teriak Pak Narto yang berdiri dibelakangnya. Tanpa ragu ia mengangkat tangan dan membidikkan pistolnya.
__ADS_1
Dhar Dhar Dhar!!" 3 tembakan ia lepaskan kearah punggung Karatzi.
Namun apa yang terjadi..3 butir peluru itu hanya mental diudara tanpa menggoreskan satu Luka dipinggang Karatzi.
Sosok menyeramkan itu berpulang kebelakang, dengan satu tangan ia melibaskan udara. Nampak Narto terpelanting kebelakang terhempas pukulan angin Karatzi, ia jatuh kepalanya membentur ujung kursi.
"Jangan kesana, kami yang akan tarik dia keluar!" teriak Brojokala menahan Nuri yang histerikal.
3 sosok Jin itu melesat masuk kedalam ruangan.
Karatzi menoleh dan menebarkan senyuman sinis. Ia melepaskan tubuh Dario dari genggaman nya. Seketika Dario merosot ketanah dan roboh dengan bersimbah darah.
Brojokala menunjuk kearah Karatzi, sebuah magnet yang besar mengangkat tubuh Karatzi keatas.
Hiiiaaaa!! Brojokala melempar tubuh Karatzi keluar dari rumah dihempaskan kearah bebatuan dipekarangan rumah.
...~...
Sayup sayup Dario merasakan dirinya melayang, ringan sekali rasanya. Seluruh peritiwa kehidupan nya seakan terpampang bagaikan sebuah film. Ia menyaksikan dirinya bermain bersama ayah dan ibunya, Ia bahkan melihat ketika dirinya menerima penghargaan dari Kapolri atas usahanya memberantas jaringan *******. Dimanakah diriku ini? Pikirnya. Ia melirik ketubuhnya, ternyata ia tidak memakai apa apa hanya sehelai kain putih terbuat dari bahan semacam sutera.
Setelah semuanya dipertontonkan, ia melihat kebawah. Disana tergeletak dirinya dengan darah yang membanjiri lantai, tidak jauh ia melihat tubuh pak Narto yang terbujur lemas dekat sebuah kursi.
Dari sudut kanan tiba tiba muncul seorang laki laki berwajah bersih dan tampan. Ia memegang pundak kanan Dario.
...~...
Nuri melihat Brojokala dan 2 pengawalnya loncat dari dalam rumah mengikuti jatuhnya tubuh Karatzi.
Dengan cepat ia melayang dan masuk kedalam rumah.
"Dario!!" teriaknya melihat sang kekasih dilantai, banyak sekali darah menggenangi leher Dario. Dengan perlahan Nuri mengangkat tubuh yang lunglai itu, ia mencoba menutup luka yang cukup dalam dileher Dario dengan telapak tangannya.
Pada saat yang sama, Dario merasakan ia sedang dalam satu lorong, tubuhnya terasa meluncur tajam, kilatan cahaya putih silih berganti menerpa wajahnya. Ia tidak tau Kapan ia akan berhenti, terjun dan terus terjun kebawah. Secara tiba tiba ia mendarat kembali dibumi dan terasa dirinya masuk kedalam tubuh aslinya yang terbujur dilantai.
Rasa sakit dileher serentak merenggutnya, ia membuka kedua matanya dan melihat Nuri duduk bersimpuh memegangi kepalanya.
Kerongkongannya kering, setiap kali ia hendak bicara segumpal darah keluar dari mulutnya. Matanya berkunang kunang.
"Dario sayangku, jangan kau tinggalkan aku didunia ini" suara Nuri terdengar lirih dikupingnya.
Sementara itu pak Narto baru saja siuman dari pingsannya. Ia meraba kepalanya, Ada sedikit luka disana, Sukurlah Luka itu tidak begitu parah. Terperanjat ia melihat Dario yang bergelimangan darah.
__ADS_1
"Pak..Dario akan pergi meninggalkan kita" bisik Nuri ditelinga pak Dario.
Tiba tiba Dario merasakan ada sedikit kekuatan ditubuhnya, ia menoleh kearah pak Narto.
"Pak.." kata Dario perlahan.
Selanjutnya ia menoleh kepada Nuri, dengan lemah lembut Dario memegang tangan Nuri dan mengusapnya.
"Sayang, aku akan mati..tapi aku..aku akan tetap bersamamu" ucap Dario terbata bata.
Nuri mengusap air matanya, ia tertunduk lemas.
"Pak, makamkan aku disamping...ayahku, tanyakan...pada kakekku tempatnya" setelah Dario mengucapkan kata kata itu, ia menutup kedua matanya, kepalanya lunglai.
Pak Narto memeriksa denyut nadi ditangan Kanan Dario. Tanda tanda kehidupan telah berahir. Pak Narto meletakkan telapak tangan kehidung Dario. Hembusan nafaspun tidak ada.
"Innalillahi Wainnailaihi Rojiun....pupus sudah" Ucapnya pelan.
Pak Narto melipatkan kedua tangan Dario kedada . Kesedihan melanda dirinya, meskipun Dario pangkatnya lebih senior tapi ia merupakan teman yang sejati dan seperjuangan.
"Pak.." tiba tiba Nuri berbisik.
"Ya Nuri ada apa?"
"Aku melihat Dario! Ia berdiri dipojok Sana!"
Pak Narto bingung, bagaimana bisa? Dario telah tewas, apakah itu qorinnya?
Setelah meletakkan kepala Dario dilantai Nuri berdiri mendekati sosok Dario yang sedikit kebingungan.
"Apakah kamu Dario?"
Dario bingung melihat semuanya, inikah alam baru yang harus ia lalui? Apakah ini yang dikatakan sosok laki laki tampan itu?
Ia tidak menjawab pertanyaan Nuri, ia hanya menganggukan kepala saja.
Nuri mendekat dan memegang tangan Dario, laki laki muda itu kaget ia bisa merasakan jamahan tangan Nuri bahkan Nuri terlihat jelas dihadapannya.
Dario langsung memeluk Nuri dengan erat...Ia sadar bahwa kini dunianya telah berbeda
"Sayangku Nuri, kini aku bersamamu...aku telah mati dan kita sekarang bersama sama dialam halus ini"
__ADS_1
...~...