Rumah Merah

Rumah Merah
Sosok putih telah hadir.


__ADS_3

Kiyai Rohmat melangkahkan kakinya, tubuhnya terasa lemas seakan akan gayanya sudah satu bulan tidak makan nasi. Dipojok ruangan ua melihat tergeletak Dario dan disampingnya duduk bersila Pak Narto.


Laki laki tua itu mendekat dan mengusap pundak Pak Narto.


"Ayo kita angkat keatas tempat tidur, kamu sebaiknya memberitahu keluarga terdekat dan kantor polisi tentang hal ini"


"Baik Kiyai" ucap Pak Narto sambil berdiri ia tertegun melihat Kiyai Rohmat begitu tenang menghadap situasi ini, apakah ia sudah tau?


Kiyai Rohmat berpaling kearah pintu, disana berdiri Dario dalam bentuk halusnya. Dario memandang kearah tubuhnya yang terbujur kaku dilantai. Tidak lama Nuri mendekat dan meremas telapak tangan Dario.


"Ayok kita keluar rumah sayang" bisik Nuri.


...~...


Brojokala saat itu sudah berkali kali melepaskan senjata saktinya kearah Karatzi. Entah kenapa Karatzi belum juga menyerah. Bahkan ia berhasil melepaskan beberapa pukulan dahsyat kembali kearah tubuh Brojokala.


Tiba tiba ditengah pertempuran itu muncul satu sosok putih melesat ditengah tengah mereka, sosok itu langsung merenggut dan melempar tubuh Karatzi dengan mudahnya.


Brojokala mundur beberapa langkah, ia sadar telah hadir sosok suci dihadapannya.


"Hai siapa kau?!!" teriak Karatzi sambil kesakitan setelah punggungnya menabrak batang pohon besar.


Dengan perlahan sosok putih itu melepaskan tutup kepalanya sehingga wajahnya nampak terlihat.


Kaget dan ketakutan Karatzi mundur dua langkah, rasa takut mencekam tubuhnya ketika melihat wajah sosok putih itu. Sebuah wajah malaikat yang pernah ia liat ketika sosok itu mencabut nyawa ayahnya dibenua Amerika selatan jaman dulu kala.


Karatzi menunduk dan bersujud memohon ampunan, tubuhnya bergetar keras.


"Maafkan aku,.berikan aku kesempatan untuk bertobat ya ampun maafkan akuuuu.." ia merayap dan menangis seperti anak kecil.


Brojokala langsung duduk bersila dan memberikan sembah dengan mengatubkan kedua tangannya, tubuhnya yang besar juga bergetar ketakutan.


Aura yang keluar dari tubuh sosok putih itu begitu dalam dan mencekam.


Pada saat yang sama Syeh Muso dan seluruh pasukan putih mulai turun mendekati rumah Kiyai Rohmat.


"Kalian ikuti dibelakangku, kita duduk rapih tidak jauh dari Brojokala..Ada malaikat pencabut nyawa telah hadir!" ucap Syeh Muso yang kaget melihat kehadiran sosok itu ditengah tengah mereka.


Merekapun turun dan duduk rapih disamping Brojokala,semua menundukkan kepalanya.


Syeh Muso memegang tangan beberapa siluman yang ketakutan.


"Tenang, jangan takut..tundukkan wajah kalian" ucap Syeh Muso kalem.


...~...

__ADS_1


Kiyai Rohmat yang mendengar adanya pergerakan besar yang turun dihalaman rumah bergegas jendela. Ia langsung keluar dari rumah dan ikut duduk bersila disamping Syeh Muso.


"Benarkah?" bisik Kiyai Rohmat.


Syeh Muso tidak menjawab hanya menganggukan kepala.


"Hai syetan laknat Anak dari iblis yang durhaka, aku diutus malaikat maut untuk mengambilmu saat ini juga, semua ratapanmu percuma saja..kaulah pembuat kegaduhan dibumi ini dan kamu harus dihukum selamanya" ucap sosok putih itu.


"Jangan!! Aku tidak mau kesana!! Aaaaahhh!!!"


Sedetik kemudian sosok putih itu telah berada dibelakang Karatzi dan dengan satu tangan ia menarik kepala Karatzi.


Secepat kilat keduanya menghilang dari penglihatan.


Udara yang panas dan mencekam kini berangsur tenang, angin dingin semilir kembali menghembus.


Syeh Muso dan Kiyai Rohmat mengangkat kepalanya, diikuti oleh seluruh pasukan.


"Alhamdulillah selesai sudah semuanya..Kiyai, Ada apa yang terjadi disini?"


Kiyai Rohmat tidak menjawab hanya menolehkan kepalanya kearah pintu rumah, dimana Dario dan Nuri sedang berdiri bergandengan tangan.


"Ya Allah,.Dario?"


"Lalu..bagaimana dengan jasadnya?"


"kita sedang menunggu kehadiran saudara dan kepolisian,setelah itu kita akan makamkan..silahkan Syeh Muso dan kawan kawan istirahat sejenak dirumah dan saya akan mengurusi persiapan pemandian Dario dulu"


"Baiklah..pasukan, kita istirahat disini..sambil membantu Kiyai Rohmat membersihkan rumahnya, sebentar lagi akan banyak tamu yang hadir"


...~...


Malam itu semua santri dan pihak kepolisian sudah berdatangan dan ikut membersihkan dan mempersilahkan keperluan keperluan yang dibutuhkan.


Nuri menggandeng tangan Dario, ia tau perasaan Dario saat itu sangat labil. Nuri masih ingat ketika pertama Kali iapun mengalami hal yang serupa.


"Sayang..kita duduk dibelakang yuk" ucap Nuri pelan.


"Nuri, sampai kapan kita gentayangan begini? Dan aku agak kurang enak bahwa kini aku bisa melihat segala macam sosok halus disekitar kita"


"Tidak apa sayang, lama lama kamu akan terbiasa. Yang penting kita sekarang berdua disini"


"Siapakah mereka yang ikut sibuk membersihkan rumah? Bentuk mereka menyeramkan"


"Mereka adalah pasukan putih Syeh Muso dan Kiyai Rohmat..tidak apa apa,meskipun mereka terkesan menyeramkan tapi mereka dipihak kita"

__ADS_1


"Nuri, aku mau duduk disamping tubuhnya saja..kasian dia sendirian, ayok kita kedalam saja" ucap Dario.


"Baik sayang..yuk kita masuk, pasti Kiyai Rohmat juga menunggu kita"


Ternyata didalam rumah ada Syeh Muso, mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi duduk bersila disamping tubuhnya.


Syeh Muso yang pertama mempersilahkan Dario dan Nuri duduk didekat jasad Dario.


Perasaan Dario aneh,bingung namun bercampur sedih. Ia memandang tubuhnya dari kepala sampai kaki berulang ulang.


"Nak Dario semua sudah ada suratannya, setelah semuanya selesai saya ingin mengajak nak Dario dan Nuri ketanah Arabia. Tentunya, itu kalau kamu sudah siap nak" ucap Syeh Muso sambil melemparkan senyum hangat.


Kehangatan dari ucapan Syeh Muso mengalir dan menenangkan dirinya, tanpa sadar ia mengulurkan satu tangannya mencoba menyentuh pipinya. Ternyata tangannya tidak bisa merasakan apa apa, seakan akan tembus kedalam tubuhnya.


Nuri tersenyum dan mendekatkan dirinya ke Dario..


"Ia sudah tiada Dario, Biarkan tubuhnya istirahat"


Malam itu kakeknya Dario sampai di padepokan dan langsung ikut duduk disamping Kiyai Rohmat.


"Cepat sekali Dario berpulang, kita akan tunggu kedatangan pihak polisi dan saya mohon agar Dario dimakamkan di makam keluarga" ucap sang kakek sambil mengusap kepala Dario yang terbujur kaku.


"Ceritakan bagaimana kejadiannya Kiyai" lanjut sang kakek.


Panjang lebar Kiyai Rohmat menceritakan semuanya, pada saat itu semua yang hadir mulai dari Syeh Muso hingga pasukan siluman duduk menyimak.


"Kek, Saya berhasil menarik sesuatu dari Dario sebelum kematiannya..mungkin ini kepunyaan kakek yang pernah dipinjamkan dulu" ucap Kiyai Rohmat sambil mengeluarkan sebuah lipatan kain putih.


Dario dan Nuri langsung menoleh, oh ternyata jimat yang dulu pernah diberikan kepadanya sudah ditarik lebih dahulu oleh Kiyai Rohmat.


"Oh njjih matur suwun, saya terima kembali" jawab sang kakek.


"Kek, disini juga ada sosok sosok yang ikut berperang dengan saya melawan para syetan tadi"


"Nggeh, saya sudah melihat ketika tadi datang.. Alhamdulillah dan saya ucapkan terima kasih khususnya kepada beliau yang saya rasa disini dituakan" jawab sang kakek sambil menunjuk dengan jempolnya kepada Syeh Muso.


Kiyai Rohmat respek kepada sang kakek yang ternyata berilmu tinggi.


"Saya pesan kepada Dario yang memang hadir disini bersama temannya, seringlah mampir kerumahku..kakek akan selalu menunggumu disana nak" ucap sang kakek sambil menatap kearah Dario.


Dario bangkit dan memeluk tubuh sang kakek.


"Kek, setelah semua selesai kami akan kerumah bersama Nuri" sang kakek mencium kening Dario dan mengelus elus rambut cucunya...


...TAMAT...

__ADS_1


__ADS_2