
Dario mendekat kearah Nuri yang masih memegang pedang ditangannya. Demikian juga Pak Narto, mereka bertiga terpaku seakan tersihir oleh kejadian yang baru saja terjadi.
Tangan Pak Narto nampak gemetar, ia yakin bahwa tembakannya tepat sasaran..sosok menyeramkan apakah itu dan kemana ia menghilang??
"Pak, terima kasih pak..hampir saja aku mati dan kamu Nuri tanpa kamu aku pasti sudah tiada" ucap Dario.
Nuri tersenyum, pedang itu ia disiapkan dipinggangnya. Keduanya saling menatap satu sama lainnya.
"Aku akan menjagamu sebisa mungkin, kalian disini dulu..aku mau memeriksa keadaan sekeliling rumah. Jangan sampai kita kecolongan lagi..Pak, jangan simpan dulu pistolnya"
"Sayang..hati hati" ucap Dario perlahan.
Nuri ternyum bahagia, baru kali ini Dario mengucapkan kata sayang kepadanya. Ia mengangkat tangan kanan, jarinya jarinya mengelus pipi Dario.
"Aku akan berhati hati kanda.."
...~...
Perintah mbah Wersigeni diikuti sepuluh sosok ular pasukan Soka. Mereka meliukkan tubuh mereka yang panjang dengan cepat bersembunyi dibalik bongkahan batu.
Amarah Karatzi sudah memuncak, pedang bermata dua itu ia hentakkan kearea ia berpijak. pedang itu memancarkan cahaya merah, mengalirkan kekuatan dahsyat dan dari sana cahaya Merah berpencar membentur bongkahan batu tempat sembunyi pasukan ular.
Dhar Dhar!!!
Dua letusan keras membahana didasar bumi. bongkahan bongkahan itu pecah luluh lantak.
2 pasukan ular terkena ledakan dan pecah beberapa bagian, mereka hancur.
Soka yang melihat dua pengawalnya hancur Naik pitam, belum pernah ada mahluk yang bisa memusnahkan pasukannya.
Ia pejamkan kedua Mata, mbah Wersigeni melihat soka memejamkan matanya mengajak istrinya memejamkan mata.
"Kita serang bersama sama!!" teriak mbah Wersigeni. Suami istri itu mengangkat tangan kanan mereka dan dari ujung jarinya terlihat cahaya biru.
Seketika tiga cahaya biru melesat kearah Karatzi.
"Aduuh kurang ajar!!" tanpa pikir panjang ia menginjakkan kaki kakinya dan terbang keatas, satu detik saja ia terlambat hancurlah tubuhnya.
Tiga kekuatan cahaya biru itu menghancurkan semua batu disana, sia sia tembakan tembakan pukulan bak laser itu meleset. Namun layaknya lari sebuah peluru kendali, cahaya biru itu naik keatas mengejar Karatzi.
Semua kekuatan dikeluarkan Karatzi agar bisa melintas bumi dan keluar diatas sana, melepaskan dirinya dari kejaran sinar sinar biru.
"Biarkan, dia pasti akan terkena sinar sinar birumu! Yang penting dia telah meninggalkan tempat Buriah terkunci. Ayo kita keatas Bantu Syeh Muso!" teriak mbah Wersigeni.
__ADS_1
...~...
Nuri melirik kekiri dan kanan, ditengah hujan ia terbang kesana kemari. Nampaknya semua aman, Namun baru saja Nuri hendak kembali ketempat Dario. Sekelebatan ia melihat sosok wanita sedang berdiri dibalik sebuah pohon besar. Siapakah itu??
Penasaran Nuri melayangkan dirinya kearah pohon. Sia sia..ia kesana ternyata pergerakan sosok wanita itu begitu cepat bagaikan angin ia telah lenyap. Hmm..canggih juga pikir Nuri.
Mata Nuri melotot ketika tiba tiba ia menangkap sosok wanita itu telah berada didepan pintu rumah Kiyai Rohmat. Ia jadi panik, Dario ada didalam.
...~...
"Hai Dario.." terdengar suara halus diluar pintu.
Pak Narto dan Dario saling pandang, khususnya Dario ia mengenali suara itu!
Entah bagaimana, sekonyong konyong sosok wanita itu dengan gampangnya membuka kunci pintu rumah dan masuk kedalam. Kini, telah berdiri dihadapan Dario sosok Monica!
Monica yang muncul dihadapan Dario bukanlah sosok wanita yang ia kenal dulu. Rambutnya acak acakan, kedua matanya Merah menyeramkan, ketika ia tersenyum terlihat dua taring gigi tersembul diujung bibirnya.
"Kau telah mengecewakan diriku! Sudah saatnya kamu mati!" terdengar suara Monica melengking keras ditengah gemuruh hujan yang turun.
Nuri yang melihat sosok itu masuk kerumah iapun mengejar dan turun didepan rumah Kiyai Rohmat.
Dari luar Sana Nuri berteriak..
"Hai wanita busuk! Sini kau! Akulah lawanmu!"
Sambil tertawa ia berkata..
"Hehehe...Anak kemarin sore! Arwah gentayangan yang tidak punya tempat dimanapun! Berani sekali kamu memerangi diriku, Princess of darkness!"
Sedetik kemudian Monica memutar tubuhnya dan terbang dengan cepat kearah Nuri.
Dengan sigap Nuri mengeluarkan pedang pendeknya diadakan kepada Monica.
Dalam jarak 1 meter Monica berhenti, ia kaget melihat sosok lawannya memegang sebuah pusaka yang sangat terkenal itu. Sinar pedang itu menyilaukan pandangannya.
"Kurang ajar! Darimana kau dapat itu??!"
"Haha! Ayo maju sini setan!!" teriak Nuri keras.
Melihat pedang pusaka yang terhunus ditangan Nuri, Monica mengambil posisi kesamping. Kedua mata ia pejamkan, seketika sebuah rantai panjang yang untungnya lancip telah berada ditangannya.
Monica bengkit berdiri, dengan sekali hentak rantai itu menggelegar ditanah, percikan api keluar dari benturan ujung rantai kebebatuan.
__ADS_1
Wanita setan itu mengangkat tangannya memecutkan rantai kearah kepala Nuri.
"Mampus kau!!" teriak Monica.
Nuri kaget melihat serangan Monica, ia mencoba menghalau lecutan rantai dengan mengangkat pedang pusaka.
Letusan seperti suara petasan besar terdengar. Dario menutup telinganya mendengar dentuman keras. Ia berlari kearah jendela, dari sana ia mengintip kekasihnya yang sedang bertarung.
Akibat dari benturan itu, tubuh Nuri berguncang keras. Ia mundur beberapa langkah mengatur posisi kuda kuda.
Kembali Monica memancarkan serangan kedua dan ketiga, Namun selalu dipatahkan oleh Nuri.
Setiap kali terjadi benturan antara pedang pusaka Nuri yang beradu dengan rantai maut Monica pasti ada letupan api, bagi orang normal kejadian itu hanya seperti ada letusan letusan diudara.
Pada saat yang sama mbah Wersigeni, mbok Tsumargi dan yang lainnya telah merapatkan barusan dengan Syeh Muso dan yang lainnya.
Mereka berdiri tegak diangkasa membuat satu pagar berwarna putih yang kokoh.
Tidak jauh dari sana juga nampak jejeran sosok sosok Jin, siluman yang apabila sekilas akan terlihat berwarna merah ke unguan.
Tidak jauh dari deretan mereka berdiri sosok tinggi besar Usumeni. Rambut dikepalanya telah menjadi kobaran api, itu pertanda bahwa amarahnya sudah memuncak.
Usumeni mengangkat tangannya keatas dan dengan gerakan memukul tangan kanannya merobek awan, sebuah cahaya berwarna Merah terpancar menusuk kearah kelompok Syeh Muso.
"Awas, jangan lepaskan pegangan kalian! Ada serangan dahsyat!!" teriak Syeh Muso.
Jeleghaar!! Dentuman suara terdengar keras menghantam pagar putih barisan Jin Muslim.
Tembakan itu tepat pada sasarannya, seketika langsung menghantam sepuluh Jin Muslim. Para Jin Muslim porak poranda terkena hempasan sinar ghoib Usumeni. Asap Putih membimbing tinggi.
"Ya Allah!" teriak Syeh Muso.
"Sini kamu jahanam! Kau lupa siapa yang menghancurkan kaum mu jaman dulu!" Lanjut syrah Muso dengan geram.
Ia lalu mengumpulkan semua awan yang berserakan dilangit kehadapannya.
"Inilah saatnya kalian sahabat sahabatku menghancurkan anak setan iblis itu!" Syeh Muso mengangkat dua tangannya dan melemparkan gulungan gulungan awan yang kini berubah wujud menjadi berjuta juta anak panah yang berhulu api yang membara.
Dalam sekejap semua Jin jahat dan para siluman hangus terbakar, sekitar dua ratus anak panah melesat dengan cepat kearah Usumeni.
Ini bukanlah sekedar anak panah, inilah yang dinamakan Basu Rantang, kumpulan senjata super sakti kepunyaan para dewa kahyangan.
Selain bagian dada Usumeni yang langsung terbakar, wajahnyapun terkena hujaman anak panah.
__ADS_1
Usumeni teriak dengan suara keras, ia mencoba menarik anak panah yang pada masuk ketubuhnya. Namun setiap kali ia mencoba menarik justru Anak Anak panah tambah masuk kedalam tubuhnya.
...~...