Rumah Merah

Rumah Merah
Perjuangan ahir kelompok putih.


__ADS_3

Syeh Muso melihat sisi kiri dan kanannya, barisan para Jin Muslim bersama sama dengan lelembut yang sealiran dan simpati kepada agama Islam berdiri berjejer jejer dilangit.


Syeh Muso sendiri berdiri tegak digaris paling depan, ia bangga melihat kobaran bendera berwarna hitam dengan tulisan Syahadat yang biasa disebut Ar Rayah berkibar tertiup angin kencang diangkasa. Disamping bendera Islam itu berkibar juga bendera bendera kaum lelembut bertuliskan aksara Jawa yang dirajut dengan benang emas bertuliskan "Sangkan Paraning Dumadi".


Syeh Muso memutar tubuhnya dan menyingkap jubahnya, sambil mengelus jenggotnya yang panjang ia berteriak lantang..


"Bismillahirohmanhim! Demi nabi yang kami cintai dan demi kekuasaanmu ya Allah hari ini kami akan perang total melawan kaum jahanam! Berikan kami kekuatan dan keselamatan lahir bathin! Allah Akbar! Allah Akbar! Allah Akbar!"


Teriakan suara Syeh Muso menggelegar diangkasa, seluruh pasukanpun menjawab dengan teriakan yang sama bahkan Jin yang bukan Muslim ikut meneriakan nama Allah.


Baru saja Syeh Muso hendak memukul genderang perang tiba tiba ia melihat sebuah cahaya kecil Putih Naik keatas dan terjun kembali secara cepat kebumi.


"Kiyai Rohmat kamu liat itu?!" katanya.


Kiyai Rohmat tertegun, ia memicingkan kedua matanya. Kiyai Rohmat tidak percaya apa yang ia lihat, ia mengucek ucek kedua matanya.


"Ya Allah Gusti!" teriaknya.


"Tinggalkan kami, cepat periksa kepadepokan, periksa apa yang terjadi disana" ucap Syeh Muso.


Tanpa pikir panjang Kiyai Rohmat merapatkan baju atas dan terbang turun ketempat padepokannya.


Syeh Muso kemudian menabuh genderang yang ia pegang sebanyak tiga kali dan melepaskan selendang yang ia ikatkan dipinggangnya.


Sebuah letupan keras terlihat ketika Syeh Muso memukulkan kain selendang itu. Seluruh pasukan kemudian mengikuti dengan mengeluarkan senjata mereka dan semua bendera kini dikibarkan kencang kencang, Apabila ada seekor burung terbang didekatnya pasti musnah tertimpa panasnya hawa yang terpancar dari bendera bendera itu.


"Aaaarrrrhhh!!" teriak seorang siluman monyet yang bertubuh besar, seluruh badannya tertutup bulu tebal dan panjang. Sosok ini bernama Kungrapa. Kungrapa adalah kepala pasukan sayap kiri dari pasukan Jin dan siluman Karatzi.


"Ayo Alexis!! Kita serang sekarang! Tunggu apa lagi??!!" teriak Badrakuma seorang kepala Jin dan siluman bagian sayap kanan.


Masing masing sayap berkekuatan 300 gabungan Jin dan siluman. Mereka datang dari ujung pulau Papua sampai pegunungan di pulau Bali.


Alexis yang sedang mengawasi kekuatan Lawan terhentak atas ajakan para Jin untuk maju perang. Ia mengangkat tangan kiri sebuah panji berwarna merah diangkat tinggi tinggi, sebelah kanan ia menarik sebuah tombak panjang yang unjungnya berkobar api.


"Kita serbu sekarang!! Serang!! Serang!! Musnahkan mereka dan makan dagingnya!!" teriak Alexis dengan penuh semangat.


...~...

__ADS_1


"Tahan pasukan jangan ada yang bergerak! Tunggu sampai aku beri perintah!" teriak Syeh Muso.


Dari kejauhan awan hitam kini berubah menjadi merah darah. Angin kencang menghembuskan nafas kematian.


Sekitar jarak 100 meter, Syeh Muso naik keatas langit dan berteriak..


"Pasukan! Maju dan bantai mereka!! Hiiiaaaa!!!"


Dibarengi dengan siulan dan gemuruh tameng ditabuh kencang oleh para Jin dan siluman menerjang kencang kedepan. Bendera bendera Islam berkibar kencang.


Tidak ayal lagi, pertempuran telah berkobar...


Syeh Muso dengan gagahnya memecutkan selendangnya kekiri dan kekanan. Siapa saja yang terkena pukulan selendang langsung hancur menjadi debu, sia sia mereka yang hancur lebur langsung dikirim keneraka jahanam.


Mbah Wersigeni dan mbok Tsumargi memimpin pasukan dimasing masing sisi. Mbah Wersigeni sisi kanan sambil mengibarkan bendera Jawa, Khususnya mbah Wersigeni memfokuskan sasarannya kepada Badrakuma. Mbah Wersigeni tau silsilah keluarga Badrakuma. Kakeknya pernah memimpin pertempuran antara Jin gunung dan Jin dasar bumi. Kakeknya Badrakuma sempat melukai kaki teman mbah Wersigeni. Sedangkan mbok Tsumargi memimpin sisi kiri dengan gabungan pasukan Jin Muslim dan para panglima perang dasar bumi.


Matanya terbuka lebar ketika melihat Badrakuma mengamuk diatas kuda hitamnya. Mbah Wersigeni memegang erat tongkat sakitnya, ia melesat kencang dan menabrakkan dirinya kepada kuda hitam itu.


Seketika kuda hitam itu ambruk, keempat kakinya patah dan meringkik kencang merasa sakit yang luar biasa. Mbah Wersigeni dengan sigap loncat dan menghantamkan tongkat sakti kekepala kuda hitam itu, yang mana langsung pecah berserakan diudara.


Mbok Tsumargi dan para pejuang Islam sudah berhasil menghancur totalkan sisi kiri pasukan Alexis. Ahirnya yang tersisa tinggal Kungrapa, kepala sisi kiri itu turun dari langit membawa sekuntum bunga neraka. Ia menyebabkan kearah mbok Tsumargi.


"Tameng tubuh kalian!!, bunga Jatunra akan datang!!" teriak wanita tua itu.


Mendengar itu seluruh pasukan Jin Muslim dan para panglima menutup tubuh mereka dengan mantra.


Benar saja beratus ratus bunga bak meteor terbang dengan kecepatan tinggi menerjang posisi mbok Tsumargi dan pasukannya.


Sambil menunduk Mbok Tsumargi memohon kepada sang Hyang Widi agar diberikan senjata ampuh. Dalam sekejap tiba tiba ia memegang sebuah cawan berwarna emas.


Setelah badai bunga neraka lewat mbok Tsumargi berdiri dan melemparkan cawan emas dengan kekuatan super kencang.


Cawan itu terbang dan mengenai leher Kungrapa, langsung kepala raksasa berambut gimbal itu terlepas dari tubuhnya, seluruh tubuhnya yang besar itupun hancur berantakan.


Teriakan sorak sorai dari pasukan mbok Tsumargi membahana di seantero langit.


Alexis yang melihat kekalahan disisi kiri juga melihat panglima sisi kanan Badrakuma sudah kepepet dan berdarah darah, ia melakukan sesuatu yang biasa dilakukan para syetan terkutuk. Ia terbang setinggi tingginya dan meninggalkan medan perang. Ia lari ketakutan dengan kencang ya terbang kearah kepulauan Bermuda di Amerika Selatan tempat leluhurnya berada dan ia tidak kembali lagi. Dasar setan pengecut!

__ADS_1


Seluruh pasukan mbah Wersigeni sudah meniupkan terompet kemenangan ketika melihat tubuh Badrakuma hancur berkeping keping ketika tongkat sakti mbah Wersigeni berhasil menghantam keras kekening sosok besar itu.


"Kembali! Semua kembali kebarisan!!" teriak Syeh Muso.


"Biarkan mereka lari! Kita berikan ampun kepada mereka! Biar jadikan hari ini sebagai hari peringatan bahwa kekuatan putih akan selalu menang! Alhamdulillah!!"


Seluruh pasukan Kanan dan kiri kembali berjajar dengan rapih disamping Syeh Muso.


"Sesuatu telah terjadi dipadepokan ayo kita kesana!" ucapnya dengan lantang kepada seluruh pasukan.


...~...


Kiyai Rohmat sempat melihat pertarungan berat sebelah antara Karatzi dan Brojokala. Mungkin satu jurus lagi Karatzi akan hancur mati.


Ia langsung turun, Namun ketika diatas atap rumah ia tertegun melihat sinar putih sedang berdiri didepan rumahnya.


"Assalamualaikum Kiyai" ucap sosok yang seluruh tubuhnya bersinar putih itu.


"Mualaikumsalam..siapakah kakanda?" jawab Kiyai Rohmat lembut.


"Tidak usah Kiyai ketahui siapa ini, Saya hanya ingin menceritakan bahwa Dario telah tewas. Namun karena belum waktunya maka ia akan tetap didunia ini bersama dengan Nuri sampai nanti waktunya pulang"


"Innalillahi.." jawab Kiyai Rohmat pelan.., ia berusaha mencekam kesedihannya.


"Berikan salam kalian kepada Kiya Rohmat" ucap sosok itu, dan dari balik sosok putih itu muncul Dario bergandengan tangan dengan Nuri.


Dario langsung bersujud dan mencium tangan Kiyai Rohmat.


"Kalian tinggal bersama Kiyai disini ya..." ucap Kiyai Rohmat dengan sedih sambil mengusap kepala Dario dan Nuri.


"Baiklah, sudah saatnya aku akan menangkap Karatzi yang jahat itu membawanya ketempat yang seharusnya ya berada..Salamualaikum Kiyai"


Sosok putih menghilang dari pandangan dan mendekat kearah dua sosok yang sedang bertempur.


Kiyai Rohmat turun dan melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah...


...~...

__ADS_1


__ADS_2