Rumah Tangga Anak Remaja

Rumah Tangga Anak Remaja
Bab ke -5


__ADS_3

Sudah terhitung sejak kejadian seminggu lalu yang dimana Ailana mendengar suara tidak senonoh dari Dalam Gudang sekolah, kini dirinya tengah berada di sebuah cafe bersama kedua orang tua nya dan orang tua cowok yang akan di jodohkan dengannya untuk membahas perihal perjodohan itu.


Ailana diam menunduk, sebenarnya ia sudah merasa Bosan dengan obrolan orang para tua ini.


"Baiklah perjodohan akan segera dilakukan, satu minggu lagi!!." final Januar, sebagai orang tua dari cowok yang akan di jodohkan dengan Ailana satu minggu lagi.


Ailana tentu terkejut kala mendengar itu, ingin memberontak tapi tatapan penuh permohonan yang di layangkan oleh mamahnya membuat nya kembali mengurungkan niatnya. "sial..." umpat nya dalam hati.


"Baik Pak, saya berterima kasih Banyak, karna mau menerima putri saya untuk menjadi pendamping putra Bapak!!." Erick berucap, dengan nada lega. dengan begini ia tidak akan lagi mempunyai hutang pada Direktur itu, meskipun harus mengorbankan seorang putrinya terlebih dahulu, katakan saja jika dia memang bajingan. bisa-bisanya menjadikan sang putri sebagai alat pelunas hutang.


"iya, saya yang harusnya berterima kasih, karna anda mau mengorbankan putri anda sendiri untuk melunasi hutang." sahut Erika, sebagai orang tua laki-laki yang akan di jodohkan dengan Ailana.


Damn it!


terdengar seperti sebuah sindiran namun dengan nada sedikit menyanjung.


"A-ah, tidak, hahaha....tidak apa-apa, putri kami juga, toh, sudah siap untuk menikah!!." Balas Wina, sedikit gugup, dengan senyuman paksa yang di terbitkan nya.


Ailana tahu, Mamahnya itu sedikit tersinggung dengan ucapan wanita tadi, dan dia juga tahu bawa mamahnya itu tengah berbohong. mana mau ia kawin muda kalo tidak di paksa begini, manalagi sampai sujud, oh ayolah, sekecewa apapun dia pada orang tua nya, tetap saja ia juga manusia yang di lahirkan oleh Wina, lagipula Abah dan Ibu nya tidak pernah mengajarinya untuk tidak menghormati orang tua.


"owh, benarkah? kalo begitu syukur lah!!." Erika tersenyum kepada Ailana yang kini masih menundukan kepalanya. "cantik!!, putra kita pasti suka!!." Erika berucap, lalu menoleh pada sang suami yang kini mengangguk setuju.

__ADS_1


"ya, semoga saja!."


Di dalam perjalanan pulang, Ailana masih duduk termenung di kursi belakang mobil. kepalanya ia sandarkan pada pintu mobil dengan Jendelanya yang setengah terbuka.


Wina yang melihat putrinya tengah melamun itu, menghela napasnya pelan, ia tahu putrinya itu pasti tengah memikirkan bagaimana nasib nya setelah ini, tolong maafkan dirinya karna menjadi orang tua Egois dan tidak tahu diri.


Entahlah sepertinya memang tidak ada malu untuk dirinya, setelah melepaskan putrinya ia datang kembali lalu mengambilnya lagi, dan kini ia kembali melepaskan putrinya untuk menjadi alat pelunas hutang sang suami.


Aialan diam dengan pikiran yang berkecamuk, banyak pertanyaan-pertanyaan yang hinggap pada kepalanya, tentang cowok yang nanti akan menjadi suaminya. apakah dia akan menerimanya? apakah cowok itu akan Baik padanya? apakah cowok itu sudah siap untuk menjadi suaminya? apakah cowok itu orang yang Baik? mengapa tadi dia tidak datang keacara pertemuan? Jangan-jangan cowok itu sudah merencanakan aksi kabur dari pernikahan? Jangan-jangan cowok itu sudah mempunyai seorang pacar? apakah dia akan dicampakan? seperti yang ada di dalam Novel-Novel yang selalu ia baca.


Akh....entahlah tapi Ailana tidak yakin Jika ia akan berakhir bahagia dengan cowok yang Ailana saja tidak tahu bentuk rupanya bagaimana. yang terpenting kali ini adalah, ia harus bersiap-siap menangisi masa remajanya yang akan berakhir satu minggu lagi.


mobil yang Ailana dan kedua orang tua nya sampai pada pekarangan rumah, Wina masuk terlebih dahulu kedalam rumah diikuti oleh Ailana dan juga Erick dari belakang.


Ailana merenung Duduk di kursi sambil menikmati bintang-bintang yang bertaburan dan Bulan yang sempurna Bulatnya. diatas Balkon kamarnya Ailana menghela napasnya pelan.


ia pandangi ponsel Barunya, ada sedikit keinginan untuk menghubungi keluarga angkatnya di kampung, Namun apa boleh buat, ponsel pertamanya hilang saat pertama kali ia dibawa ke mall, alhasil ia dibelikan ponsel baru oleh Erick, Namun sayangnya ia tidak hapal satupun Nomer di sana. dan kini tinggal lah ia merutuki dirinya sendiri karna terlalu Bodoh, sampai Nomer ponsel pun tidak ada yang hapal sama sekali.


pendengaran nya samar-samar mendengar suara keributan, dengan cepat ia bangkit lalu berjalan keluar kamar.


Ailana berjalan menuruni Anak tangga, diruang tamu terlihat lah Keyla dengan kedua orang tuanya yang kini tengah sibuk memarahi Gadis itu.

__ADS_1


Ailana berjalan menghampiri ketiganya.


"kamu itu perempuan, Gak baik pulang malam, apalagi dengan pakaian yang seperti ini!!." Wina menelisik pada pakaian yang di kenakan oleh putri bungsunya itu. gaun sebatas lutut yang mencetak jelas lekuk tubuh Gadis itu.


Keyla memutar Bola matanya malas, "udahlah mah, ini kebiasaan Keyla, kenapa sih? semenjak ada Anak pungut itu mamah jadi sering marahin Keyla??."


Ailana yang merasa dirinya di bawa-bawa pun hanya mampu menghembuskan napasnya kasar. sialan, dia lagi dia lagi, yang menjadi objek ribut anatara Anak dan orang tua itu. rasanya memuakan. terlalu banyak Drama di rumah ini. sehingga membuat Ailana berdecih pelan.


"maksud kamu apasih??....dia Kakak kamu lho, jaga perkataan kamu. Gak baik, mamah Gak tau lagi harus ngomong yang bener kaya apa sama kamu???."


"udahlah, mah, Keyla capek!!." Keyla melenggang pergi dari sana, menghiraukan teriakan Wina yang terus memanggil Namanya untuk kembali.


saat di pertengahan tangga, ia berhenti sebentar hanya untuk melayangkan perkataan menohok pada sang Kakak. "Anak pungut, puas lo hah?? puas lo udah ngerebut kebahagiaan Gue?? cih." Keyla menyempatkan diri untuk menyenggol keras bahu Ailana. sehingga membuat Gadis itu sedikit terdorong ke belakang.


"anjing!!." Desis Ailana pelan.


...***...


pagi-pagi sekali di sekolah terdapat kericuhan disana, sehingga membuat Ailana yang baru saja sampai mengernyit heran.


langkah kakinya berjalan menghampiri kerumunan orang-orang yang kini tengah menyaksikan aksi Bullying, yang di lakukan oleh Tiga orang cowok kepada satu orang Gadis dengan kacamata bening tebal.

__ADS_1


Ailana membelalakkan matanya kala melihat penampilan Gadis cupu itu kini jauh dari kata Baik-baik saja.


__ADS_2