
Ailana segera berlari menghampiri Gadis dengan penampilan acak-acakkannya itu, ia membantu Gadis tersebut untuk beranjak dari Duduknya.
matanya menatap tajam pada segerombolan orang-orang yang kini malah asik menonton sambil merekam pada kamera ponsel mereka.
"lo semua apa-apaan sih??." Ailana mengedarkan pandangan nya pada orang-orang yang kini malah asik bersorak.
"Huuuuuuhhhhh....Gak asik, udah biarin aja si cupu itu, lagi Enak-enak di bully juga, ganggu aja lu!!." seru seluruh penonton, menyoraki Ailana yang kini menatap tajam kearah mereka.
"Gilak, lo semua, Anak orang kalian bully!!...sinting." murka Ailana. "kalian kira dengan ngebully Anak orang, kalian jadi manusia yang kelihatan keren?? Enggak anjing!! Enggak!!....lo semua kek sampah tau Gak sih!!."
"turunin ponsel lo, turunin Gak??....turunin anjing!!." dengan kasar Ailana menepis ponsel milik salah satu dari orang-orang yang ikut andil dalam menyoraki nya tadi. tangannya menunjuk kearah kerumunan orang-orang tersebut. "hapus rekaman Bullying kalian tadi, kalau Nggak, abis lo semua di tangan Gue!!." Ailana menarik Gadis tadi menjauh dari kerumunan orang-orang itu.
tanpa Ailana sadari, Tiga orang cowok sebagai pelaku dari aksi Bullying tersebut, tengah menyeringai dari balik kerumunan orang-orang.
"lumayan juga, dia bakal jadi korban kita selanjutnya!!." lirih sang ketua, namun masih bisa di dengar oleh kedua temannya.
Ailana membawa Gadis itu masuk kedalam uks, ia berjalan untuk mengambil kotak p3k guna mengobati luka-luka pada Gadis yang baru saja terkena aksi Bullying tersebut.
"M-makasih, ya." ucap pelan Gadis tersebut.
Ailana mengangguk, setelah selesai mengobati ia berdiri di depan Gadis yang baru saja ia tolong itu. tangannya terlipat di depan Dada. "siapa Nama lo??."
kepalanya yang menunduk ia taikkan, dengan ragu ia menjawab. "Lia."
Ailana mengangguk, "Gue Ailana!!...." Balasnya, lalu berucap kembali."lo kenapa bisa di Bully kek tadi??."
Lia menunduk takut, tangannya kembali bergetar kala mengingat perlakuan kasar dari orang-orang yang sering membully nya. "aku juga Gak tau, mungkin karna aku berpenampilan cupu!!." ungkapnya.
Ailana mengernyitkan keningnya bingung, "masa sih cuma gara-gara berpenampilan cupu, sampe kena Bullying gitu??!."
Lia menggelengkan kepalanya, "aku juga Gak tau, dari semenjak pertama aku masuk ke sekolah ini, aku udah di jadiin bahan Bullyan sama mereka, padahal aku Nggak tau salahku dimana??." kelas Lia, panjang lebar.
Ailana menggaruk belakang kepalanya yang tak Gatal, sedikit aneh dengan para pelajar orang kota. masa hanya karna berpenampilan cupu langsung kena Bullying?. maklum ia kan tinggal di pedesaan jadi jarang sekali menyaksikan Bullyan di sekolah nya dulu. sekolahnya yang dulu lebih nyaman, aman, tentram sentosa. tidak ada aksi kekerasan atau saling mencela pada sesama teman.
__ADS_1
Ailana menganggukan kepalanya, lalu berucap kembali, "okey, Gue cabut duluan ya." setelahnya ia pergi, meninggal kan Lia yang kini masih duduk terdiam di brankar uks.
Di salah satu Gudang tak terpakai yang sengaja mereka jadikan Basecamp. Jagaskar, Romi dan fikran, ketiga cowok itu kini tengah asiknya menikmati aksi bolos.
jangan heran, sebagai Anak pemilik sekolah, tentu hal yang mudah untuk menjadi orang yang berkuasa bagi Jagaskar. tidak ada yang berani padanya termasuk para Guru dan anggota OSIS. mereka semua bertekuk lutut padanya, tentu tidak ada yang mau berurusan dengan Anak pemilik sekolah. meskipun Anak tersebut melakukan hal tidak senonoh, yang bisa saja mencemari nama baik sekolah tersebut.
seperti hal nya dengan sekarang, tiga orang Gadis yang berprofesi sebagai Adik kelas, berjalan menuju kearah Gudang tersebut atau bisa kita sebut sebagai Basecamp.
siulan terdengar membuat bulu kuduk ketiga gadis itu seketika berdiri, mereka tahu bahaya sebentar lagi mengancam. tapi lebih bahaya lagi kalau mereka menentang.
Jagaskar maju terlebih dahulu, matanya tak luput meneliti dari ujung rambut sampai ujung kaki para Adik kelasnya. "lumayan??!!." gumamnya, dengan seringaian.
"yang ini aja, kita bawa mereka buat nanti malem??." ujarnya, yang langsung diangguki oleh ketiga temannya.
"siap!!." Fikran.
"okey, Bos!!." Romi.
"ssttttt....jangan brisik, bisa Gak??."
Zara nyengir lebar, ia menganggukkan kepalanya, lalu berujar pelan. "Gilak, sih. setelah di skors, kek nya Geng berandalan sekolah mulai kembali bikin masalah!!."
"kasian juga yang kena Bully, untung lo tolongin,"
Ailana mengangguk, ia mengetuk-ngetuk dagunya menggunakan ujung pulpen. "heran deh Gue, orang kena Bully bukannya di tolongin, malah di rekam, sakit nih penghuni sekolah disini."
"udah biasa itu mah, Gue dulu juga Gituh, kaget sama takut. kaget liat aksi bullying, takut kalau Gue yang bakal di jadiin objek Bullying selanjutnya, tapi untung aja Nggak."
"lo juga harus hati-hati sih, mulai sekarang."
"kenapa??."
"karna lo udah berani nyelametin cewek tadi. yakin sih Gue, kalau lu yang bakal jadi korban selanjutnya."
__ADS_1
Ailana menggeplak bahu Zara. "jangan Nakutin lu!!."
Zara meringis, ia mengusap-usap bahunya yang terasa sakit itu. "iisss....siapa yang becanda, gue serius ege!!. percaya dah, sama Gue!!.....pokonya gue udah peringatin, jangan gegabah, lu harus jaga diri."
Ailana memasang muka melasnya, lalu merapatkan duduknya pada sang teman, "Gue takut anjirr, jangan nakutin napa!!."
"anying, geser, sempit ege!!." Zara terus berusaha mendorong Ailana yang malah semakin mepet kepadanya. "anjrit, susah banget timpal geser doang!." kesal Zara, yang kini memilih bodo amat.
"takut anjirr, salah siapa nakutin gue??!!."
"heh, bocah, siapa yang nakutin eluuuu...gue kan cuma ngingetin lu supaya berhati-hati mulai sekarang!."
...***...
Ailana berjalan masuk ke dalam rumahnya, langkah gontainya membawa kearah dapur untuk mengambil minum, saat dirasa tenggorokannya terasa kering.
ia meneguk air bening dari dalam gelas kaca, rasa dingin langsung menguar didalam tenggorokannya.
sedang asik minum ia di buat terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundak nya dari arah belakang. kepalanya menoleh mendapati sang ibu yang kini tengah tersenyum kepadanya.
"Maaf ya, kamu jadi kaget!!." ujar Wina, berasa bersalah.
Ailana menggeleng, lalu meletakkan gelas ditangannya keatas meja.
Ailana menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan sang ibu, ia mengernyitkan keningnya saat melihat raut Wina yang seperti ingin mengatakan sesuatu. "ngomong aja mah, gak perlu ragu!!."
Wina menoleh pada sang putri, ia menghembuskan napasnya pelan, lalu berujar dengan hati-hati. "Besok kamu jangan sekolah dulu ya."
"kenapa??." tanya Ailana, dengan raut bingung.
"hari pernikahan kamu tinggal 5 hari lagi, besok kamu harus fitting baju. kalau soal undangan, Mamah sama tante Erika yang udah siapin semuanya." ungkap Wina. pada sang putri yang kini diam terkesiap.
"sebentar lagi ya?."
__ADS_1