
Karenina mengambil langkah tegas dengan air mata yang terus berjatuhan menuju kamar akhwat. Jiwanya menolak. Namun, raganya tak pandai memberi perlawanan.
Brak!
Pintu kamar akhwat tak sengaja dibuka paksa Karen yang hatinya tengah kalut.
"Karen, kamu kenapa?" tanya Widya, salah satu penghuni kamar tersebut yang tadinya hendak keluar. Namun, tak sempat memegang gagang pintu karena lebih dulu terlonjak kaget dengan hentakan dorongan pintu dari Karenina.
Karenina berdiri mematung sejenak. Lalu, memeluk erat sahabatnya itu.
"Aku harus pulang," lirih suara Karen terdengar sayu.
"Lho, kenapa? Bukannya minggu kemarin kamu habis mudik, kenapa mudik lagi?" Wajah Widya nampak semakin heran dengan apa yang baru saja ia dengar.
Kemudian Widya melepaskan pelukan gadis cantik berkulit putih itu.
"Aku harus berhenti berjuang menjadi hafidz Quran di sini. Wid!" Tatapan wanita berparas oval itu kini penuh dengan kesedihan.
"Kakakmu tetap ingin kamu keluar dari pesantren ini?" tanya Widya penuh selidik.
"Iya." Karen menatap pilu.
"Egois." Satu kata penuh makna itu keluar dari mulut manis bernama Widya. Ia ikut merasakan kepedihan sahabatnya.
***
Dua hari yang lalu, Karen bersama sahabatnya Widya tak sengaja mendapatkan kabar dari sosial media tentang rumah yang tengah viral karena keangkerannya. Sontak, Karen dibuat kaget dengan berita tersebut. Bagaimana tidak? Rumah yang diberitakan adalah rumah yang memiliki seribu kenangan masa kecil bersama kedua orang tua tercinta.
Tak lama kemudian, berderinglah telpon dari kakak pertama Karen yang bernama Hadi. Ia menyuruh Karen untuk tinggal dan merawat rumah tersebut. Dengan janji akan mendatangkan guru privat untuk melanjutkan kegiatan belajar adik bungsunya. Karen menolak. Namun, Hadi tetap memaksanya dengan seribu alasan dan bujuk rayu.
***
__ADS_1
"Aku tidak mau keluar dari pesantren ini, Wid." Hati Karen semakin rapuh tatkala memindai ruangan kamar yang sudah ia tempati selama dua tahun bersama para sahabat fillah.
Belum sempat Widya menenangkan Karen, terdengar bunyi ketukan pintu dari arah luar.
"Karen, ayok! Cepat sedikit." Hadi mengetuk pintu dan memanggil adik bungsunya agar bergegas merapikan semua barang bawaan.
Widya menatap Karen yang hampir rampung mengemas isi koper. "Semoga ada jalan agar kamu cepat kembali lagi ke sini untuk mewujudkn impian kamu menjadi hafizdah dan pergi ke Turky."
"Aamiin." Pelukan hangat kembali ia dekapkan kepada gadis cantik yang memiliki misi yang sama.
Di waktu yang sama, beberapa pelukan Karen dapatkan lagi dari delapan akhwat lain yang sudah siap melepas kepergiannya.
***
Sampai di depan gerbang pesantren.
"Pak Kiyai dan Bu Hajah, Terima kasih atas bimbingannya selama ini. Saya akan berusaha mengatur jadwal-jadwal untuk Karenina." Bang Hadi berucap sambil menyalami kedua pemilik pesantren tersohor itu.
Karenina mengangguk pelan. Air matanya masih tak dapat ia sembunyikan. Sebagai perwakilan dari kesedihan mendalam akibat tekanan dan paksaan dari sang kakak.
***
Angin malam berhembus menyapa buhul-buhul orang yang berjalan di waktu malam. Pak Hadi membukakan pintu mobil bagi sang istri yang sedari tadi berwajah masam. Sedangkan Karen membuka pintunya sendiri dengan gerakan enggan tapi terpaksa.
Di sepanjang jalan, tak ada kata yang Karen ucap. Bahkan, ketika Mbak Dewi memberikan wejangan agar adik iparnya mau menuruti mereka dengan ikhlas, Karen malah menitikkan air mata. Sesekali Pak Hadi melirik ke arah belakang. Wajah yang nampak pada Karen tetap sama.
"Karen." Akhirnya Pak Hadi merasa kesal dengan tingkah adik bungsunya yang terus cemberut. Karen hanya melirik sedikit dengan sudut matanya. Tatapannya terus menerawang ke luar mobil melihat pemandangan di kegelapan malam.
"Kamu itu ya, harus nurut sama kakak kamu. Walau bagaimanapun, sekarang yang menanggung jawab kamu itu saya. Kakak tertua kamu." Sambil menyetir mobil, Bang Hadi terus memberikan nasihat yang sama sekali tidak masuk ke hati dan fikiran Karen.
"Nanti lah. Kalau rumah itu berhasil terjual cepat. Aku pasti kirim lagi kamu ke pesantren itu," lanjut pria bertubuh tegap memberikan harapan.
__ADS_1
Sebenarnya ia tahu betul bahwa sedikitpun Karen tak setuju dengan keputusan yang dia ambil. Akan tetapi, hanya Karen yang bisa diandalkan untuk menjaga rumah tersebut. Dengan alasan, Karen penghafal Qur'an ia pasti tidak akan diganggu syetan yang bersemayam di rumah itu.
Perjalanan yang lumayan jauh sekitar dua jam harus mereka lewati melalui jalan sunyi. Maklum pesantren mahal dan tersohor itu berada jauh dari perkotaan. Untuk keluar dari daerah itu, mereka harus melewati jalan sunyi dan sedikit becek karena hujan yang mengguyur tadi siang.
"Awas, Bang! Hati-hati, jalanan licin," ucap Mbak Dewi menghentikan ocehan suaminya terhadap Karen.
"Ini kok, susah sekali majunya." Bang Hadi berkali-kali menancapkan gas yang tak kunjung menghasilkan energi untuk bisa melalui terjalnya batu-batu yang berserakan sisa banjir.
"Karen, Mah, bisa turun dulu? Tolong dorong mobil di bagian belakang. Gasnya tidak berfungsi ini," titah Bang Hadi kepada kedua perempuan yang ada di dalam mobil.
"Aduh, Pah. Kok bisa sih? Enggak ah ... Mana gelap, hujan pula." Kakak ipar menolak titah suaminya. Ia malah menyuruh Karen yang turun ke luar sendirian.
"Kamu saja, Karen. Kamu kan kuat. Mbak kan habis operasi caesar. Jadi nggak boleh narik atau dorong beban berat. Gimana sih, Papah masak lupa sama kondisi Mamah." Mbak Dewi malah nyerocos mengeluhkan kondisinya pasca melahirkan.
Tak mau banyak bicara, Karen turun dari mobil dengan wajah lelah sedikit mengantuk.
Karen menginjakkan kaki di tanah yang licin, ia hampir hilang keseimbangan. Beruntung tangannya cepat memegangi pintu mobil yang belum sempat ditutup.
Karenina berjalan dengan penuh kehati-hatian. Ia melangkah pelan ke belakang mobil untuk melaksanakan tugas. Karen memang pernah menggeluti dunia persilatan. Lumayan, kekuatan fisiknya sudah teruji di sana. Itu lah mengapa Mbak Dewi menyebutnya kuat.
"Satu, dua, tiga. "
Dalam hitungan ketiga, Karen mengeluarkan tenaga sekuat mungkin. Mendorong dengan kekuatan penuh. Sehingga, roda mobil yang menjadi tumpuan benda berat itu berguling memindahkan bebannya beberapa centi meter.
"Ayok! Karen. Lebih kuat lagi," teriak Bang Hadi sambil mengeluarkan kepalanya sedikit ke luar kaca.
"Huft." Karen bergumam kesal.
Tiba-tiba, angin aneh yang terasa sangat dingin menyentuh tangannya yang masih menempel di badan mobil. Harum melati menyeruak di sekelilingya.
'Astaghfirullah. Harum melati dari mana ini?' tanya Karen dalam hati.
__ADS_1