
Akhirnya, yang ditunggu Karen datang juga. Sudah sekitar tiga puluh menit Karen diam seorang diri di dalam mobil. Dari kejauhan nampak Bang Hadi bersama istrinya berjalan menuju mobil miliknya.
"Sumpah, enak banget masakannya." Mbak Dewi beropini sambil membuka pintu mobil.
"Ah, kamu pasti nyesel nggak ikut turun tadi. Masakapnnya enak, perutku yang kosong langsung terisi penuh. Bang Hadi saja yang tadinya nggak nafsu makan. Eh, dia habis satu piring tuh," ucap wanita bertubuh tinggi besar itu.
"Sudah ngomongnya? Coba diam lah! Berisik sekali, nanti aku nggak bisa konsen nih." Bang Hadi membungkam mulut istrinya dengan kata-kata menyela.
"Hm, nih. Buat kamu." Sebelum memasangkan tali pengaman, Mbak Dewi memberikan satu box makanan siap samntap kepada adik iparnya.
Karen tak memiliki selera makan sedikit pun. Sudah dua kali suasana hatinya merasa tidak senang saat Bang Hadi menjemput untuk mudik. Pertama, ketika ia dijemput untuk menyaksikan pemulasaraan jenazah kedua orang tuanya pada dua minggu yang lalu. Kemudian, yang kedua yaitu kali ini. Terbayang lah sudah di benaknya. Kehampaan akan menerpa dirinya ketika berada di rumah itu kelak.
Walau tak selera, Karen iseng membuka box makanan dari Mbak Dewi. Sontak, Karen tercengang hampir melompat ke kursi di sampingnya.
"Aaaa ...." Jeritan Karen menggema di dalam mobil. Dua orang yang tengah duduk di depan pun sama dikagetkan oleh teriakan adik bungsu yang kini duduk memojok dan menutup wajahnya.
"Apa sih, Karen?" tanya Mbak Dewi sambil menoleh ke belakang dan memperhatikan box makanan yang dibuang begitu saja.
"Aaaa ...." Mbak Dewi ikut teriak ketika ia melihat puluhan cacing tengah bergerak dan menggeliat tak beraturan di dalam box makanan pemberiannya. Tak lama kemudian rasa mual menyerang rongga mulut Mbak Dewi. Ia tak dapat menahannya hingga akhirnya semua makanan yang ia katakan enak itu keluar lagi.
Perjalanan terhambat lagi, Bang Hadi harus memberikan pertolongan pertama kepada istrinya. Bang Hadi menyuruh Karen membung cacing dalam box tersebut jauh dari mobilnya. Terpaksa, Karen menurut. Walaupun dirinya pun merasa geli dan ingin muntah.
__ADS_1
Setelah situasi mulai membaik. Mual yang diderita Mbak Dewi pun berangsur pulih. Tak lama dari itu, perjalanan yang tinggal satu jam lagi pun dilanjutkan kembali. Sambil mengelus dada dari ketakutan, Karen teringat saat ada pria lusuh yang mengetuk pintu mobil yang ditumpanginya tadi. Ia membayangkan lagi isyarat tangan pria itu. Ternyata pria separuh baya itu melarangnya untuk keluar dari mobil dan makan di warung hantu itu. Dan ternyata, warung yang tadi kelihatan bersih dan bagus itu. Kini, hanya sebuah gubuk yang terlihat kumuh.
***
Sampailah mereka di rumah megah bertingkat tiga milik orang tuanya. Rumah itu berdinding kokoh dengan ukiran berwarna emas di setiap tiang penyanggah bangunan tersebut. Di dalam rumah tersebut terdapat lima kamar. Dua kamar di atas dan tiga kamar lainnya berada di lantai bawah. Sementara lantai ke tiga masih dibiarkan kosong. Biasanya tempat itu sering digunakan untuk pengajian rutin keluarga. Namun, sejak sakit yang diderita ibu dan ayah Karen. Pengajian jarang dilangsungkan. Masing-masing sanak saudara sibuk mengurus Pak Zainal dan istri. Salah satunya berobat ke rumah sakit ternama. Namun, takdir berkata lain, setelah satu bulan sakit yang menyerang. Kedua orang ternama di kampung itu harus kembali ke rahmat Allah tanpa keterangan riwayat penyakit yang jelas.
Sejenak Karen menatap pintu berwarna putih yang berdiri kokoh di antara dinding megah itu. Biasanya, selalu ada ibu dan ayah yang setia menunggnya dengan sambutan selamat datang. Kini, tak ada lagi kehangantan itu. Sambil memejamkan mata, Karen hanya mampu mendo'akan yang telah tiada. Semoga mereka tenang di alamnya.
Di sana sudah berkumpul semua anak-anak Pak Zainal yang ikut menunggu kepulangan Karenina si adik yang penurut dan sedikit pendiam itu.
Dari halaman depan rumah terdengar suara tangisan anak balita yang sangat histeris. Mbak Dewi tahu betul bahwa itu adalah tangisan anaknya yang bernama Keysa. Ia menghamburkan diri berlari ke arah sumber suara dengan diikuti suaminya. Sementara Karenina masih kesulitan mengeluarkan koper-koper dari bagasi.
Bu Halimah, seorang ART di rumah tersebut berlari menghampiri Karen yang tengah repot memindahkan semua barang bawaannya.
"Nggak apa-apa, Bi. Aku bisa sendiri kok," jawab Karen sambil tersenyum manis.
"Ayok! Bibi bantu separuhnya, Non!" Bi Halimah tidak tega membiarkan Karen kesulitan sendiri.
"Non, tampak ngantuk sekali, jam berapa dari sana?" Seperti biasa Bi Halimah yang telah bekerja sedari Karen berusia dua tahun itu selalu memberi perhatian layaknya ibu kedua bagi Karen. Bahkan, saat semua orang sudah meninggalkan pusara Pak Zainal dan istrinya. Bi Halimah setia menemani Karen di dekat pusara kedua orang tua sampai berjam-jam lamanya.
"Tadi sekitar pukul 21 : 00 WIB, Bi. Oh, iya. Itu yang menjerit-jerit anaknya Mbak Dewi? Kenapa Bi?" tanya Karen sambil melangkah masuk ke rumah megah itu.
__ADS_1
"Bibi juga enggak tahu kenapa itu anak. Semenjak ditinggal orang tuanya buat jemput Non Karen, dia menangis tak karuan. Menangis pilu tapi tak nampak ada air mata yang keluar setetespun." Bi Halimah mengutarakan apa yang dia lihat.
Segenap keluarga tengah berada di ruang keluarga. Ada Bang Imam yaitu kakak kedua bersama istrinya yaitu Mbak Nurul, dan terakhir Bang Ezi yaitu Kakak ketiga yang masih lajang. Umurnya selisih empat tahun dengan Karenina. Semua orang hanya melirik sekilas ke arah Karen, karena mereka masih disibukkan dengan tingkah aneh Keysa yang menjerit tak karuan.
Karen diantar Bi Halimah masuk ke kamarnya di lantai dua. Sesampainya di kamar lantai dua, Karen menginterogasi Bi Halimah.
"Bi, memangnya benar berita yang sempat viral tentang rumah ini?" Karen tak sabar mendengar cerita dari orang yang tak pernah meninggalkan rumah ini. Namun, belum sempat Bi Halimah menjawab, hal aneh terjadi.
Brak!
Tiba-tiba mereka berdua dikejutkan oleh figura foto yang jatuh dari atas lemari Karen. Keduanya sama-sama mengucap kalimat istighfar. "Astaghfirullah." Setelah itu mereka terpaku dan saling menatap.
Bi Halimah melangkah mendekati Karen. Lalu, berbisik. "Non, jangan nanya soal yang begituan tengah malam begini. Besok saja, ya."
Karen mengangguk dan mengerti apa maksud Bi Halimah. Di menit kemudian terdengar lagi suara orang berlari ke arah kamar Karen. Lalu, datanglah Bang Ezy dengan nafas terengah.
"Karen. Kamu dipanggil Bang Hadi, cepat turun!" Hanya perintah itu yang keluar dari mulut Bang Ezy. Setelah itu ia berlari lagi ke lantai bawah.
"Ada apa ya, Bi?" tanya Karen penasaran sambil bergegas menemui kakak pertamanya itu sambil dibuntuti Bi Halimah.
"Mungkin Dedek Keysa semakin parah." Opini dari Bi Halimah membuat langkah Karen diperlambat. Berpikir sesaat, apa yang diderita bayi malang itu?
__ADS_1
"Ayok, Non." Bi Halimah menggandeng tangan lembut Karen yang sudah berjalan sejajar dengan dirinya.
Langkah Karen sudah menginjakkan kakinya di anak tangga terakhir. Ia bergegas melihat kondisi anak berumur tiga tahun yang nampak semakin parah menjerit dan meraung-raung tanpa air mata.