Rumah Warisan Angker

Rumah Warisan Angker
Musyawarah Keluarga


__ADS_3

Ya ampun, Bibi. Kirain apa?" Karen tersenyum, tangan kanannya menutup mulut manisnya yang hampir tertawa. 


"Kreak." gagak hitam tiba-tiba saja terbang di langit-langit dapur. Lalu, keluar melalui jendela yang dibiarkan terbuka demi mengundang udara pagi untuk menyegarkan ruangan yang terasa pengap. Sontak keduanya merasa terkejut dengan kepakkan sayap dan suara nyaring yang berasal dari burung tersebut


"Bi, sejak kapan burung itu ada di ruangan ini?" tanya Karen nampak bingung. Bibi hanya menggelengkan kepala sambil komat-kamit memohon perlindungan kepada yang Maha Kuasa agar dilindungi dari kejahatan yang nampak maupun yang tak nampak. 


Mereka berdua pun menyudahi perbincangan seriusnya. Karen membantu Bibi menyajikan hidangan sarapan untuk keluarga yang sudah mulai duduk di meja makan menunggu hidangan hangat ala Bi Halimah.


***


"Silakan, sarapannya sudah siap," ucap Bi Halimah kepada semua anggota keluarga. 


Wangi bawang merah yang digoreng begitu mendominasi harum dari sajian tersebut. Setelah semua hidangan siap, dari mulai makanan pokok yang mengandung karbohidrat, makanan penutup, air susu, air teh manis, dan buah-buahan sebagai pencuci mulut. Maka, mulailah acara sarapan pagi di rumah besar nan megah itu dengan diawali do'a sebelum makan yang dipimpin Karen. 


Sarapan pagi telah usai. Bang Hadi meminta semua anggota keluarga berkumpul di lantai tiga untuk memusyawarhkan tentang rumah warisan itu.


Acara musyawarah pun tiba. Bang Hadi memulainya dengan mengucap salam. 


"Assalamua'laikum, saudaraku. Dalam kesempatan ini, saya ingin mendiskusikan bagaimana rencana selanjutnya untuk mengurus penjualan rumah ini. Apakah ada yang ingin memberi masukan?" tanya Bang Hadi kepada para adiknya. 


"Begini saja, kita sama-sama membuat promosi semenarik mungkin untuk memikat hati orang lain. Mungkin dengan cara menyebar brosur yang di dalamnya mencakup keterangan lokasi dan harga rumah ini." Bang Imam memberi usulan dengan semangat. 

__ADS_1


"Tapi kita harus memperluas jaringan target penjualannya. Kendalanya, warga di kampung ini sudah banyak yang mengklaim bahwa rumah ini adalah rumah angker. Apalagi, beritanya sudah sempat viral. Bagaimana caranya agar berita itu tidak meluas, apalagi sampai melebar ke perkotaan. " Kini giliran Bang Ezy membeberkan kenyataan yang berkenaan dengan rumah warisan tersebut. 


"Ya, kita harus bertindak tegas kepada orang yang sudah membuat rumah ini viral karena keangkerannya." Bang Hadi langsung menjawab pertanyaan Bang Ezy. 


Ketiga saudara kandung itu asik mengatur strategi jitu agar rumah cepat terjual. Sementara Karen berusaha menahan opini atas ketidak setujuannya yang belum memiliki bukti. 


Tiba-tiba Bang Hadi menegur Karen yang masih termenung mengalihkan pikirannya dari perbincangan ketiga kakaknya. 


"Nah, itu lah mengapa abang meminta kamu untuk tinggal dan merawat rumah ini dengan baik. Sebisa mungkin kamu harus bisa memberikan kesan baik tentang rumah ini. Minimal kepada penduduk setempat. Bercengkrama lah dengan mereka. Berikan kesan bahwa rumah ini tidak seperti yang ramai dibicarakan."


Untuk sementara, Karen hanya mampu mengangguk memberikan isyarat setuju sebelum tiba saatnya untuk menolak rencana mereka. 


***


Rapat selesai. Satu persatu kedua abang bersama istri-istrinya pamit undur diri dari rumah tersebut dengan alasan memiliki rumah pribadi yang khawatir jika ditinggalkan dalam waktu yang lama. Sementara, Bang Ezy harus menginap satu malam lagi sebelum hari esok ia pun harus kembali melanjutkan misinya di perusahaan ayah kekasihnya. 


Sekitar pukul 10 : 00 WIB. Karen meminta Bi Halimah untuk tidur sampai pukul 13 : 00. Setelah itu, Karen meminta Bi Halimah menelpon dan mengunjungi dua orang tukang yang tadi pagi bibi ceritakan. 


Karen mengisi waktu untuk menunggu jam tidur bibi dengan menyirami tanaman yang ada di depan rumah. Ia siapkan satu gentong air yang diisi penuh dengan air kran yang tersedia di luar rumah. Sambil menunggu gentong besar itu penuh, Karen mencabuti rumput yang tidak sengaja tumbuh di sela-sela tanaman di beberapa pot bunga.


Ketika ia tengah asik membersihkan rumput, tiba-tiba burung gagak yang sempat ia temui di ruangan dapur jatuh di hadapan mata kepalanya dalam keadaan tak bernyawa. 

__ADS_1


"Astaghfirullah." Karen reflek mengucap kalimat istighfar karena kaget. 


Gadis itu melihat ke sekeliling rumah, ke kanan dan ke kiri. Namun, tak nampak seorang pun di sana. Nyatanya, hanya mereka bertiga yang menjadi penghuni rumah tersebut. Bi Halimah, Bang Ezy, dan Karen. 


'Siapa yang melempar burung ini sampai mati?' gumam Karen dalam hati. Ia mencoba melihat ke arah lantai ketiga, yaitu lantai paling atas. Pandangannya dipertajam ketika dirinya melihat bayangan seorang wanita yang tengah berdiri menatap tubuh Karen yang terpaku di taman depan rumah. 


Karen mengusap wajahnya satu kali. Sekali lagi ia perhatikan, tapi bayangan itu telah hilang bersama lambaian gorden yang nampak tersapu angin. 'Aneh, padahal jendela kamar itu tertutup. Angin dari mana?'  gumam gadis berparas cantik itu kemudian. 


Hatinya terus bertanya-tanya. Tanpa sadar air kran yang mengalir telah memenuhi gentong besar yang sempat ia biarkan diisi penuh dengan air. 


"Astaghfirullah. Aku jadi lupa tengah mengisi air. Gara-gara burung itu." Karen terkejut lagi ketika mendapati burung yang tadi jatuh itu menghilang. Ia semakin tak mengerti dengan kejadian yang ia alami. Namun, ia sadar. Ia tengah menjadi bahan candaan makhluk ghaib saat ini. Tanpa terlalu memikirkan hal itu, ia melanjutkan misi sebelumnya. Yaitu, menyiram bunga yang rata-rata sudah hampir layu. 


Satu per satu tanamannya ia siram air secukupnya. Memastikan semua tanaman kebagian air dari tangannya. Tiba-tiba beberapa petani yang terdiri dari dua laki-laki dan tiga wanita melewati rumahnya. Ia disapa ramah oleh warga yang baru saja pulang dari pekarangannya.


"Non, Karen. Kapan pulang, Non?" tanya salah seorang warga itu. 


"Kemarin malam, Bu," jawab Karen sambil menebar senyum. 


"Mari, Pak, Bu. Singgah dulu." Gadis berkulit putih itu mengajak para petani itu untuk singgah ke rumahnya sebagai bahasa basa-basi.


Kelima orang itu hanya tersenyum dan menggelengkan kepala. Sebelum akhirnya mereka mengambil langkah maju meneruskan perjalanannya. Sambil pamit, salah satu bapak petani itu memberikan pesan kepada Karen untuk berhati-hati tinggal di rumahnya. Karen hanya tersenyum dan mengangguk pelan. 

__ADS_1


__ADS_2