
Bang Ezy tampak termenung. Ia tak mampu berkata apa-apa, karena sejatinya ia juga tak mau tinggal di rumah warisan angker tersebut dengan banyak alasan. Saat ini dia tengah melakukan training di perusahaan milik ayah kekasihnya.
"Bagaimana?" tanya Bang Imam kepada adiknya yang sedari tadi hanya berdiam diri.
"Ya sudah lah, Bang. Aku juga nggak bisa tinggal di sini." Bang Ezy menyerah.
"Makanya jangan sok merasa kasihan sama Karen. Toh, hanya dia yang aman jika tinggal di sini. Dia juga seorang gadis, belum ada beban apa pun. Makan, jajan, dan segala keperluannya sekarang kan kita yang harus menanggungnya," jelas Bang Imam membeberkan semua alasannya.
Malam semakin larut, waktu sudah menunjukkan pukul 01 : 00 WIB. Tanpa sadar semua orang penghuni rumah warisan itu terlelap dengan sendirinya.
***
"Allahu akbar, Allahu Akbar." Suara adzan bekumandang saling bersahutan dengan suara kokok ayam jantan yang sama bertugas untuk membangunkan semua insan di muka bumi.
Karen dibangunkan Bi Halimah agar segera bangun dan mandi air hangat.
"Non, bangun! Sudah waktunya shalat shubuh. Bibi sudah menyiapkan air hangat untuk, Non," ucap Bi Halimah sambil menahan kantuknya.
"Aduh, Bi. Padahal nggak usah repot-repot bikin air panas. Air dingin juga aku kuat, kok." Karen mengambil posisi duduk di atas kasur. Ia menatap wajah kantuk yang nampak pada wajah Bi Halimah.
"Bibi masih ngantuk? Atau jangan-jangan Bibi nggak tidur semalaman?" Karen terkejut ketika melihat kedua mata Bi Halimah nampak lelah dan sayu. Sejadah yang sedari malam tergelar di tempat yang sama semakin meyakinkan bahwa Bi Halimah memang tidak tidur.
"Bibi khawatir sama kamu. Takutnya makhluk ghaib itu datang lagi. Jadi, Bibi terjaga demi kamu." Bi Halimah mengutarakan alasannya mengapa ia sampai berjaga.
"Ya ampun, Bi." Kata-kata Karen terhenti, ia tak mampu berucap lagi. Bulir bening di pelupuk matanya muncul membias menjadi kaca-kaca. Seketika ia memeluk wanita paruh baya tersebut bersama linangan air mata.
"Bibi, terlalu mencemaskaku. Sampai tak memerdulikan kondisi kesehatan Bibi." Pelukan Karen semakin erat.
"Tidak apa-apa, Non. Begadang satu malam tidak akan berpengaruh buruk. Lagi pula, rasa kantuknya juga tidak ada," sanggah Bi Halimah sambil mengelus rambut panjang Karen.
__ADS_1
"Mending kamu cepat mandi. Basmalah dulu sebelum masuk kamar mandi," titah Bi Halimah.
"Iya, Bi. Tapi Bibi janji ya! Setelah ini, Bibi tidur saja. Jangan pikirkan masalah pekerjaan, pokoknya Bibi harus tidur. Aku nggak mau alasan apa-apa," titah Karen sebagai balasan untuk pengorbanan Bi Halimah tadi malam.
Bi Halimah hanya mengangguk. Kemudian, berdiri untuk membereskan bekas shalatnya dan merapikan kembali tempat tidur Karen.
***
Usai shalat, Karen segera memastikan Bi Halimah. Apakah ia menuruti perintahnya untuk tidur, ataukah mengerjakan pekerjaan lain? Ia melangkah turun melewati anak tangga yang nampak bersih layaknya sudah disapu dan dilap seseorang. Kecurigaannya pun bertambah, pasti Bi Halimah tidak menjalankan perintahnya.
Sampai di ruangan dapur. Benar saja, Bi Halimah tengah sibuk menyiapkan sarapan untuk seisi rumah.
"Eh, sini, Non. Bantu Bibi mengupas timun untuk toping nasi goreng." Bi Halimah mengalihkan tatapan kesal yang nampak di wajah Karen. Tentu saja, Karen menghampirinya dengan wajah masih cemberut.
"Sudah, jangan cemberut begitu. Nanti Bibi kasih kamu kabar yang pasti membuat kamu senang. Ini mengenai wasiat dari Pak Zainal sebelum meninggal," bujuk Bi Halimah.
Sudut mata Karen mendelik ketika ia mulai mengupas mentimun.
"Mau sekarang atau nanti saja?" tanya Bi Halimah sambil menatap lawan bicaranya.
"Sekarang saja, Bi. Ayok katakan!" Karen tak sabar menunggu kelanjutan kabar dari ART itu. Kabar baik apa yang bersangkutan dengan wasiat dari almarhum ayahnya?
"Jadi begini, sewaktu Bibi duduk bercengkrama dengan kedua orang tua Non Karen. Beliau sempat berwasiat, jika beliau sudah tiada, tolong wakafkan rumah ini ke pesantren tempat Non Karen mondok. Begitu katanya, Non." Bi Halimah memberikan kabar yang sama sekali tidak pernah Karen ketahui sebelumnya.
"Bibi serius?" tanya Karen yang masih belum mempercayai ucapan wanita separuh baya tersebut.
"Iya dong, Non. Masak Bibi bercanda di perbincangan seserius begini," jelas Bi Halimah sambil kembali menggoreng telur dadar sebagai pelengkap sajian nasi goreng.
Perasaan Karen berkecamuk saat ini. Ternyata keinginan ayah dan keinginan para abangnya sangatlah bertolak belakang. Almarhum berniat untuk mewakafkan rumah. Sementara para abang ingin menjual dan membagikan hasil dari penjualan rumah warisan ini sama rata. Kecuali, bagian untuknya, lebih sedikit dari pada bagian mereka.
__ADS_1
"Apa Bibi punya bukti percakapan itu?" Cepat tanggap Karen menanyakan hal penting mengenai perbincangan bibi.
"Bukti semacam apa maksud Non Karen? Bibi tidak paham," jawab Bi Halimah dalam kebingungannya.
"Rekaman percakapan atau apa lah, Bi. Selembar surat mungkin?" Karen semakin gereget dengan tanggapan Bi Halimah yang belum juga tersambung dengan maksudnya.
"Tidak ada, Non. Waktu itu kami hanya berbincang biasa, tidak terlalu serius. Cuma ya, yang Bibi dengar begitu wasiat dari almarhum. Memangnya kenapa, Non? Kok seperti tegang begitu?" Bi Halimah dibuat bertanya-tanya atas sikap yang Karen tampakkan.
"Begini, Bi. Jadi, abang-abang Karen itu menginginkan rumah ini dijual saja. Sementara barusan yang Bibi katakan, apa?" Karen menghela napas sesaat. Lalu, melanjutkan penjelasannya.
"Jadi, kalau kita hendak membeberkan wasiat yang ayah pesankan. Kita harus memiliki bukti-buktinya. Tidak mungkin jika kita melarang mereka untuk menjual rumah ini. Sementara, kita tidak memiliki bukti yang kuat," lanjut Karen memberi penjelasan.
"Aduh, benar juga apa yang dikatakan Non Karen." Kedua telapak tangan Bi Halimah mengusap kasar wajahnya. Merasa berkewajiban untuk menyampaikan amanat. Namun, tak ada bukti.
"Coba, Bibi ingat-ingat lagi. Barangkali Bibi melihat ayah menuliskan wasiatnya atau adakah orang lain selain Bibi dan kedua orang tuaku?" Karen memberi pertanyaan lagi yang lumayan memaksa Bi Halimah mengingat situasi pada saat itu.
Di rentang waktu satu menit, Bi Halimah membisu, akhirnya ia memiliki pencerahan untuk masalah tersebut.
"Oh, iya. Waktu itu kalau tidak salah. Ada dua orang tukang yang tengah membetulkan langit-langit rumah ini tepat di ruangan yang menjadi saksi perbincangan kami."
"Alhamdulillah." Karen mengucap syukur dengan harapan semoga saja kedua tukang itu dapat ikut memberikan kesaksian untuk ucapan almarhum.
"Bibi tahu di mana rumahnya?" tanya Karen kemudian.
"Tidak, Non. Tapi Bibi menyimpan nomor HP mereka. Karena mereka berdua adalah langganan almarhum," jawab Bi Halimah.
"Ya sudah, telpon saja mereka. Nanti kita atur strategi agar kita bisa menggagalkan rencana abang-abang. Lalu, kita berhasil mengabulkan permintaan ayah." Karen begitu antusias saat mengetahui keberadaan nomor mereka di HP Bi Halimah.
"Iya, sabar dulu, Non. Jangan sekarang." Bi Halimah mematahkan semangat Karen.
__ADS_1
"Kenapa, Bi?" tanya Karen sambil mengernyitkan dahi.
"Ini sarapannya ikut dingin dengerin percakapan kita," ungkap Bi Halimah sambil mengangkat nasi goreng yang sudah siap disajikan sejak tadi.