Rumah Warisan Angker

Rumah Warisan Angker
Gangguan Mahluk Ghaib


__ADS_3

Karen celingukan, melirik ke kanan dan ke kiri. Namun, hanya kegelapan yang nampak. Ia tak sadar, sebenarnya ia telah ditemani sosok makhluk gaib penghuni daerah tersebut yang merasa terganggu dengan suara deru mobil milik Bang Hadi. Makhluk itu bertubuh tinggi besar dengan mata lebar dan berdarah. Sosok itu kerap hadir dan mengganggu siapa saja yang melewati jalan tersebut. 


Sekali lagi ia mengucap istighfar dan do'a agar dijauhkan dari gangguan syetan yang terkutuk. Wajahnya menunduk, ia berharap semoga beban yang ia dorong segera pulih dari mogoknya.


Perlahan mobil itu pun sedikit berlaju pelan. Akhirnya, kekuatan tangan Karen mampu mendorong mobil dengan muatan dua orang penumpang. Karen merasa lega, tanpa menghiraukan harum wewangian bunga berukuran kecil berwarna putih itu ia pun segera masuk kembali ke dalam mobil. Namun, ketika hendak menarik pakaian gamisnya yang masih menjuntai ke tanah yang becek, Karen kesulitan. Seperti ada yang menahan tarikan tersebut. 


"Aduh. Cepetan kenapa sih, Karen. Lama amat." Nampaknya Mbak Dewi mulai gelisah. Mungkin dia juga sudah merasakan makhluk apa yang sedang mengikuti mereka. 


"Ini, apa. Gamisku susah masuk mobil. Entah tersangkut benda apa," jawab Karen sambil terus menarik pakaian bawahnya.


Suasana semakin tak karuan. Akhirnya, Bang Hadi keluar dari mobil itu untuk membantu Karen. Pria yang berumur empat puluh itu berdiri di samping badan mobil. Memegang pintu mobil lalu melihat pakaian gamis Karen memang tersangkut sesuatu di bawah mobil. Bang Hadi kemudian membungkukkan badannya lalu melihat ke bawah mobil. Tiba-tiba. 


"Aahh!" Teriak Bang Hadi terkaget-kaget dan segera berlari ke dalam mobil tersebut. Dengan nafas ngos-ngosan Bang Hadi nampak panik. Seperti orang yang telah berpapasan dengan hantu. 


"Kenapa sih, Pah? Bikin kaget saja." Mbak Dewi ikut sewot melihat tingkah suaminya yang nampak ketakutan. 


"Sudah. Pokoknya kita harus segera meninggalkan tempat ini," ucap Bang Hadi sambil membenahi posisi duduknya. Berkesiap memacu gas untuk meninggalkan tempat itu. 


"Sudah, gunting saja bajunya!" kata Mbak Dewi sambil mengeluarkan perkakas dari box yang tersedia. 


"Ya, jangan dong, Mbak! Ini gamis kenang-kenangan dari ibu." Karen sedikit merengek tegang dengan saran kakak iparnya. 


"Ya memangnya kamu mau terus-terusan di sini?" gertak Mbak Dewi lagi. 


"Aku coba tarik lagi ini." Sekuat tenaga Karen menariknya. Sekitar satu menit, ia berhasil menarik bagian bawah pakaiannya. 


"Ahlamdulillah," ucap Karen sambil membenahi posisi duduk. 

__ADS_1


Beberapa menit kemudian setelah mobil dapat melaju normal kembali. Sesuatu yang aneh terjadi lagi. 


"Em .... bau amis dari mana ini?" Lagi, Mbak Dewi yang duduk di samping Bang Hadi mulai mengeluhkan indra penciumannya. 


"Astagfirullah ... ini Mbak. Di ujung bajuku ada noda darah." Karen baru menyadari ternyata di bagian bawah bajunya yang sempat susah ditarik ke atas itu terdapat noda darah yang begitu banyak dan kental. Tentu saja bau amisnya tercium di ruangan pengap mobil milik Bang Hadi.


"Ya ampun. Mbak bilang juga apa? Gunting saja bajunya."


Dalam waktu satu menit, tiba-tiba mereka bertiga terdiam. Sama-sama berfikir darah apa yang mengotori gamis Karen. 


Bang Hadi menancapkan gas. Kali ini mobil dapat dikendalikan dirinya dengan ucapan basmallah.


'Aku lupa. Ternyata dari tadi aku tidak sempat mengucapkan basmalah. Terasa kelu lidah ini untuk mengucap kalimat tersebut,' gumamnya dalam hati sambil terus mengendarai mobil supaya cepat keluar dari daerah tersebut.


Sementara di bangku belakang, Karen masih sibuk mengelap pakaian yang terkena darah dengan menggunakan lembaran tisyu.


"Yang bersih, Karen!" seru Mbak Dewi sambil menahan mual yang menyerang area mulutnya.


Satu jam telah berlalu, sampai lah mereka di warung nasi pinggiran. Perasaan lega pun akhirnya mereka rasakan karena telah berhasil melewati jalanan sunyi. 


"Pah, kita makan dulu, yuk! Lapar nih," ajak Mbak Dewi kepada suaminya.


"Makan apa malam-malam begini?"


"Apa saja ... yang penting bisa pakai ganJal perut nih." Tangan Mbak Dewi menggoyangkan lengan Bang Hadi. 


"Huft, ya sudah. Karen, kamu mau ikut?" Bang Hadi menoleh ke belakang. Mengajak adik bungsunya untuk ikut turun bersamanya. Namun, Karenina nampak tertidur pulas.

__ADS_1


"Yah, ketiduran dia. Ya sudah yuk! Kita saja yang turun," ajak Mbak Dewi.


"Abang antar kamu saja. Abang nggak selera makan malam-malam begini," tegas Bang Hadi sambil mengunci terlebih dahulu mobilnya sebelum turun.


Bang Hadi dan istrinya berlalu pergi. Tinggalah Karen seorang diri di dalam mobil yang terparkir di seberang rumah makan.


"Ka ... re ... n," bisik seseorang membangunkan lelap Karenina. Namun, saat hendak membuka mata, ia kesulitan karena ternyata ia tengah mengalami ketindisan.


Suara itu semakin jelas dan nyaring. Namun, tetap saja gadis berjilbab panjang itu tak mampu menggerakan badannya meski hanya untuk membuka mata.


Dalam hatinya terus mengalir ayat-ayat suci Al-Qur'an. Ia berharap peristiwa ketindisan yang ia alami segera berakhir. Akan tetapi, lantunan di dalam hatinya kalah fokus dengan bisikan ghaib itu.


"Jangan ... mau ... tinggal di sana. Kalau kamu tetap tinggal di rumah itu. Aa ... ku akan terus mengganggu hidup kamu." Suara tanpa wujud itu terdengar  jelas mengancam dirinya. 


Semakin kuat ia melawan, semakin kuat pula tekanan yang syetan itu perbuat. Akhirnya, Karen memilih diam, melemaskan semua otot dalam tubuh. Lalu, mencoba pasrah dengan kejadian yang ia alami selanjutnya.


Perlahan cengkraman ghaib itu hilang seketika. Terbuka lah kedua mata Karen. Ia memindai seisi ruang sempit di dalam mobil dengan keringat dingin membasahi wajah. Jantungnya berdetak lebih dari batas normal. Ia duduk terpaku sendiri dan tentu saja tanpa Bang Hadi dan Mbak Dewi.


"Astaghfirullah." Karen mengusap pelan wajah tegangnya. Ketindisan bukan kali pertama ia alami, kejadian itu sering terjadi tat kala ia terlelap dan tak sempat membaca do'a. Akan tetapi, kali ini Karen dibuat berfikir serius mengenai ancaman yang dilontarkan syetan atau jin pada kejadian ketindisan tadi. 


Karen termenung dalam kagetnya.  Ia bertanya-tanya, apakah ketindisan yang menimpa dirinya itu ada kaitannya dengan rumah orang tua? Ataukah ia terlalu memikirkan apa yang tengah viral mengenai rumah angker? 


'Astaghfirullah, a'udzubillahi minasyaithoni rajim.' gumam karen dalam hati. Mencoba menghapus semua prasangka buruk yang hampir saja mempengaruhi pikirannya. Gadis cantik itu terus berusaha menanamkan iman dan keyakinan bahwa tuduhan yang warga kampung bicarakan itu semua tidak benar. Karen meyakini bahwa ayah dan ibunya adalah orang-orang sholeh. Tidak mungkin mereka menjadi hantu. Jika lah benar yang dikatakan mereka tentang penampakkan itu, pasti penghuni baru rumah orang tuanya adalah jin yang tengah menebar fitnah bagi almarhum dan almarhumah. 


Karen memeluk Qur'an berukuran kecil dengan erat di dadanya. 'Tidak ada kekuatan yang lebih dahsyat dari kekuatan Sang Maha Raja. Semoga dengan bacaan Qur'an yang akan Karen lantunkan di setiap harinya,  mampu mengirim kembali makhluk ghaib itu ke tempat asalnya. Aamiin.'


Tok Tok Tok. 

__ADS_1


Pintu di ketuk dari luar oleh seorang bapak-bapak penduduk di sana. Membuat Karen yang terhanyut dalam do'a dan harapannya.  Sontak terkaget dan spontan melirik ke kaca di sebelahnya.


Laki-laki tua itu memberi isyarat yang tak jelas. Seperti memberi tahu sesuatu. Namun,  tetap tidak dapat diterka. Kelihatannya, laki-laki yang mengenakan penutup kepala yang hampir menghalangi kedua matanya itu menderita tuna wicara. Semakin bingung lah Karen yang sampai detik itu tak dapat menerima informasi apa pun selain peragaan tangan yang tak jelas. Untuk memperpendek arahan dari pria asing itu,  Karen menganggukkan kepalanya berulang kali. Berpura-pura mengerti karena sebenarnya ia tengah diselimuti perasaan takut dan kalut. 


__ADS_2