
"Ada apa, Bang?" tanya Karen kepada Bang Hadi yang tengah menggendong Dedek Keysa yang masih menangis.
Bang Hadi menghampiri Karen kemudian mengutarakan maksudnya.
"Karen, kamu sudah lama kan mondok di pesantren? Apa kamu tahu atau pernah mempelajari tentang ilmu ruqiyah bagi orang yang kerasukan?" tanya Bang Hadi kemudian.
Karen terdiam sejenak. Mencoba mencerna apa yang dimaksud Bang Hadi.
"Tolong, bacakan surat atau ayat yang bisa mengeluarkan makhluk ghaib dari tubuh keysa," pinta Bang Hadi sambil memegang kedua pundak Karen.
"Aku pernah melihat Pak Kiyai membacakan surat Al-fatihah, Al-ikhlas, An-nas, Al-Falaq, dan ayat kursi ketika beliau meruqiah salah seorang santriwati yang dirasuki syetan." jawab Karen dengan kata terbata.
"Ya sudah. Bacakan sekarang untuknya!" titah Bang Hadi tanpa basa-basi.
"Em, maap. Bapaknya juga bisa melakukannya dengan hati yang bersih dan memohon pertolongan kepada Allah." Karen menatap Bang Hadi.
"Aduh, sudah lupa lah. Zaman apa Abang belajar menghafal surat-surat itu. Ayo lah, sama kamu saja, darurat ini."
'Astahfirullah, bahkan surat pendek saja Bang Hadi lupa, kemana saja ia selama ini? Terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga ia total melupakan akhirat,' desis Karen di dalam hatinya.
"Cepat, Karen. Astaga. Kamu tidak kasihan apa, melihat keponakan kamu nangis terus?" Bang Hadi menekan Karen untuk segera melantunkan ayat dan surat penangkal syetan. Karen mengangguk dan mendekati Keysa.
"Bismillah ...." Karen menghela napas sebelum ia melantunkan bacaan pengusir syetan. Ia meletakkan telapak tangannya menempel pada kening Keysa.
Selanjutnya, Karen mulai dengan membaca surat Al-Fatihah. Dilanjutkan surat-surat pendek lainnya, dan diakhiri dengan ayat kursi. Awalnya Keysa memberontak dengan kekuatan yang tak sepadan dengan umurnya. Bang Hadi bersama Bang Imam menahan tangan Keysa. Sementara, Mbak Dewi bersama Mbak Nurul memegangi bagian kaki Keysa.
Akhirnya, adik bungsu yang tengah mereka andalkan itu berhasil mengusir makhluk ghaib di dalam tubuh anak dari Bang Hadi. Semua orang di sana mengucap hamdallah. Berbarengan dengan ucapan mereka, angin kencang seperti angin topan kecil berputar menabrak barang apa saja yang ada di sekitar tempat itu. Gelas-gelas yang bertenteng di lemari terbuka seketika berjatuhan terkena angin tersebut. Beberapa lukisan kaligrafi pun satu per satu ikut terjatuh. Sehingga pada akhirnya gumpalan angin itu menuju kaca jendela. Menerobos paksa sampai jendela itu pecah berkeping-keping.
Dari kejadian tersebut, maka tumbuh lah keyakinan pada diri dan hati Karen. Bahwa ternyata benar adanya tentang apa yang digosipkan di media sosial tentang rumah ini sampai begitu viral.
__ADS_1
"Please, Ibu, Bapak. Janganlah ganggu hidup kami. Biarkan kami menjalani hidup dengan tenang," cetus Bang Imam yang mulai melepaskan cengkraman tangannya dari bagian tubuh Keysa.
"Astaghfirullah, Bang. Tega banget menuduh ibu sama bapak kayak gitu. Yang tadi itu syetan atau nggak jin kafir yang mau fitnah orang tua kita." Sontak Karen membantah ucapan Bang Imam dengan keyakinannya.
"Kamu bicara seperti itu karena kamu belum pernah bertemu ibu sama bapak dalam bentuk arwah penasaran, kan?" tebak Bang Imam yang merasa perkataannya dicela adik perempuannya itu.
"Ya Allah, kendati pun makhluk ghaib itu menyamai wajah almarhum dan almarhumah itu pasti untuk menipu kita. Syetan dan jin kan bisa bebas mengubah bentuk mereka menjadi apa pun. Maka, jika hanya menjadi orang tua kita itu tidak lah sulit bagi mereka." Karen belum puas membela dirinya karena merasa benar.
"Aduh. Jam berapa sih, ini? Jangan ribut-ribut lah. Besok saja teruskan perdebatan kalian. Yang terpenting adalah Keysa sudah baikkan. Aku capek, aku ngantuk. Aku mau tidur saja." Mbak Dewi mengangkat tubuh kecil keysa yang masih berkeringat. Lalu ia memilih pergi ke kamar tamu setelah mengajak sang suami ikut bersamanya.
Bang Imam dan istrinya hanya duduk terpaku setelah mendengar kata-kata Karen. Mencoba meresapi apa yang dikatakan Karen.
"Ya sudah. Yuk, Bi!" ajak Karen sambil menggandeng lengan Bi Halimah.
"Iya, tapi sebentar, Non. Saya harus membersihkan kepingan kaca yang berserakan itu." Telunjuk Bi Halimah mengarah ke jendela yang sudah rusak akibat hantaman angin ghaib.
Satu per satu anak tangga bersuhu dingin Karen naiki. Ada perasaan percaya tidak percaya dengan keadaan rumah yang berubah drastis. Cahaya yang menerangi sekeliling ruangan rumah itu tetap sama. Namun, auranya terasa berbeda. Sesekali bulu kuduk gadis cantik berusia delapan belas tahun itu berdiri.
***
Sudah di pertengahan malam, waktunya Karen menghamparkan sejadah dan menghadap kiblat. Ia melangkah masuk ke kamar mandi yang tersedia di kamar tidurnya.
Air dingin menyapa telapak tangannya dalam rukun wudhu pertama. "Bismillah." Karen memulai syarat sah untuk beribadah menghadap Illahi.
Di rukun wudhu yang keempat. Lagi, Karen mencium bau melati. Lalu, ia merasakan ada sosok makhluk tengah berada di belakangnya. Sudut mata Karen melirik sedikit ke belakang. Namun, tak nampak apapun. Ketika ia mengembalikan pandangannya ke depan cermin yang menempel di samping wastafel kamar mandi.
Kedua mata Karen terbelalak kaget melihat sosok perempuan berambut panjang, berwajah hitam campur darah tengah menatap tajam ke arahnya. Sosok itu hampir saja mencekik leher Karen dari belakang. Karen tak bisa berteriak. Mulutnya terasa kaku dan langkahnya seakan tertahan. Tak ada yang bisa ia lakukan selain memejamkan mata dan membaca beberapa kalimat dzikir.
"Non ... Non Karen. Buka pintunya, Non!" Bi Halimah mengetuk pintu kamar mandi beberapa kali. Ia khawatir dengan keadaan anak majikannya yang sedari tadi tidak keluar kamar mandi.
__ADS_1
Panggilan Bi Halimah tidak dijawab Karen. Ia semakin khawatir. Bunyi ketukan keras itu mengundang rasa penasaran Bang Ezy, ia menghampiri Bi Halimah yang sedari tadi memanggil Karen.
"Ada apa, Bi?" tanya Bang Ezy sambil mencari keberadaan adiknya yang tak nampak di situ.
"Non Karen sepertinya masih berada di dalam kamar mandi, Den. Sudah bibi panggil-panggil tapi Non Karen tidak keluar juga," sahut Bi Halimah dengan wajah panik.
"Coba aku dobrak saja pintunya, Bi." Bang Ezy mengambil sikap sempurna berkesiap untuk membuka paksa pintu kamar mandi.
Brak! Pintu kamar mandi berhasil dibuka. Bi Halimah dan Bang Ezy mendapati Karen tengah berdiri mematung di pojok kamar mandi.
"Astaghfirullah, Non," seru Bi Halimah sambil merangkul Karen.
"Benar-benar sudah tidak aman rumah ini," ketus Bang Ezy sambil membopong Karen. Kemudian, membawanya ke atas kasur.
"Bi, minta kayu putih!" Pria bertubuh tinggi kurus itu mencoba membuat Karen sadar.
"Ini, Den." Bi Halimah langsung mengambil benda yang diminta Bang Ezy.
Setelah penciuman Karen dipancing harum dari minyak kayu putih. Akhirnya Karen sadar dari pingsannya. Ia memeluk erat Bi Halimah, mengapus perasaan takutnya.
"Tenang ya, Non. Bibi nyalakan dulu murottal. Supaya, Non bisa tidur," ucap Bi Halimah menenangkan.
Bi Halimah meminta izin pergi ke lantai atas untuk menyalakan rekaman murottal yang biasa diputar saat acara pengajian berlangsung. Speaker yang sengaja Almarhum Pak Zaenal pasang di setiap sudut ruangan, berhasil menggemakan lantunan ayat-ayat Illahi ke setiap sudut ruangan. Setelah selesai, Bi Halimah kembali menemani Karenina yang masih dalam keadaan takut.
"Lebih baik, Aden keluar saja. Sepertinya Aden ngantuk sekali. Biar saya yang menjaga Non Karen," saran Bi Halimah untuk Bang Ezy. Ia pun segera meninggalkan kamar Karen. Lalu, pergi ke ruang tengah ikut duduk bersama Bang Imam dan istrinya.
"Kasihan kalau Karen ditinggal di sini sendirian, Bang," sahut Bang Ezy memecah keheningan di antara pasangan suami istri yang duduk tepat di seberangnya.
"Ya habis bagaimana lagi, Bang Hadi punya kesibukan sendiri. Abang juga apalagi? Ya kalau kamu mau tinggal di sini menemani Karen. Ya silakan. Abang malah seneng kalau kamu mau," jawab Bang Imam.
__ADS_1