
ULUL
" Maaf ya, mungkin kalo di sini Neng Ifa sempet ngerasa bosan atau gimana," kata ku merasa sungkan pada putri Kyai Ghufron, yang notabene adalah kakak angkatan satu almamater serta guru tasawuf Abah saat nyantri di Banjar Melati dulu.
" Ndak kok Gus, Ifa malah seneng bisa silaturahim ke sini, kemaren juga mba- mba udah pada ngajakin Ifa keliling deket- deket sini." Jawabnya dengan senyum yang merekah sederhana.
Subhanallah, wajah merona dengan balutan jilbab merah muda dan gamis senada itu terlihat sangat cantik.
Sungguh, sangat sejuk hati ini melihat paras wanita- wanita yang dirindui oleh syurga Mu Allah, perempuan yang menyimpan kecantikanya hanya agar engkau ridhoi jalanya.
" M... Ngomong- ngomong, apa Gus Ulul tidak terfikir untuk hijrah seperti Gus Hamdan sama Gus Rifki?" Tanya Neng Ifa menatap ku sekilas. Aku dan Neng Ifa hanya berselisih usia 4 tahun. Jadi mungkin karena jarak usia yang tidak terlalu jauh, kami jadi terkesan akrab dan nyambung.
Aku tersenyum sekilas,
" Mungkin jika dilihat, bisa menjadi tokoh penting dan mengarungi samudra pembelajaran di negeri peradaban Islam para sohabat dan tabi'in adalah sebuah kehormatan Neng, juga sekaligus kebanggaan hakiki dalam hati karna kedekatan akan mereka, tapi, Allah mungkin menempatkan saya pada jalan yang lebih mulia, terus berada di sisi Abah dan Umi saat beliau- beliau mulai mengenyam hari tua, Insya Allah," jawab ku.
" Subhanallah, Ifa suka sama pandangan Nyan, Gus,
" Ifa boleh tanya sesuatu?" Terkanya masih dengan nada lembut yang khas.
" Tanyakan saja, Neng Ifa nggak perlu permisi jika ingin menanyakan sesuatu pada saya, jangan sungkan," timpal ku menanggapi.
" Bisa, Nyan memberi tau Ifa tentang cinta menurut pandangan Nyan?"
" Jadi Nyan cuman mau tanya itu?" Tanya ku memastikan.
" Saman aja Gus, saya kan lebih muda dari Nyan, Ifa emang dzurriyah dari Abah, kakak angkatan dan guru Abahnya Gus Ulul, tapi di sisi lain, Ifa tetaplah Ifa, yang maqomnya sendiri belum diberi keterbukaan. Jadi, perlakukan Ifa seperti junior- junior atau teman Nyan saja." Sangkal Neng Ifa.
H... Maha suci Engkau Allah, aku baru mengenal Neng Ifa karna kunjunganya 2 hari yang lalu ke Lonkali. Itupun hanya dari desas desus pembicaraan para santri putri, tapi di hari ke tiga keberadaanya, Kau memberi ku kesempatan lewat amanah Abah untuk mengetahuinya secara langsung.
" hm...
__ADS_1
" Jadi, menurut saya, cinta itu adalah sebuah senjata. Seperti pedang, pisau, busur, atau sejenisnya. Seberapa besar manfaat dan mudharatnya, itu tergantung pada fa'ilnya, atau pelaku yang memegang kendali atas obyek tersebut.
"Cinta itu fitrah, Sunnatulloh, Allah menghadirkan segala sesuatu dengan kecintaan Nya, termasuk rasa cinta, jadi, kita dituntut untuk memenuhi hak dari cinta, yaitu mengawalinya dengan awal yang baik, dan merawatnya dengan cara yang baik pula, karna pada dasarnya cinta adalah wujud dari kesucian. Hal yang harus dijaga agar tetap suci."
" Ada yang lain?" Aku menoleh kearahnya sebentar.
" Cinta itu bukan dari seorang laki- laki kepada seorang perempuan, atau sebaliknya. Bukan pula dari orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, atau sebaliknya, tapi cinta adalah sebuah wujud dari rasa kerelaan kita untuk melepaskan sesuatu, jika itu akan menimbulkan sebuah kebaikan dan menciptakan manfaat, dari pada kita merengkuhnya lebih dalam,
" Tapi itu menurut saya saja, entah sejalur dengan apa yang saman maksudkan atau tidak,"
" Ifa suka kok sama argumen Nyan," jawabnya.
" Ngomong- ngomong, Neng Ifa kenapa mendadak bertanya masalah cinta, saman lagi naksir ya sama seseorang?" Tanya ku yang hanya disambut senyum sederhana itu lagi.
" Apa Gus Ulul pernah jatuh cinta?" Tanyanya.
" Saya? Kalau saya, banyak banget yang sedang saya cintai untuk saat ini,"
Aku tersenyum, rona merah di wajahnya sangat terlihat jelas. Angin berhembus ringan menyapa tubuh kami yang terkena semburat keemasan sang surya, sore telah menjelang. Perlahan air laut yang menepi mengenai kaki- kaki kami pun terasa lebih dingin.
" Belum, Allah belum memberi saya kesempatan untuk jenis cinta yang beresiko itu,
" udah sore, sebaiknya kita kembali ke pesantren," ajak ku.
" Mari," jawabnya. Kami berjalan bersandingan menuju pesantren yang jaraknya tidak terlalu jauh.
" Saman akan pulang ke Lasem kapan?" Tanya ku sekedar ingin tau.
" Mungkin satu atau dua hari kedepan Gus," terkanya. Aku manggut- manggut sebagai jawaban dari pernyataan yang ia sampaikan.
Neng Ifa adalah teman diskusi dan berbagi yang menyenangkan, perempuan berwawasan luas dan santun. Mengagumkan. Allah... Jika mungkin Kau berkenan menambatkan hati ku padanya, pasti akan ku jaga ia dalam kesucian.
__ADS_1
" Astaghfirullohal'adhim, ada apa dengan ku,"
" Ada apa Gus?" Tanya Neng Ifa dengan wajah bingung.
" Ah, saya tidak papa, "
Tak terasa, gapura sederhana Lonkali yang terbuat dari pring telah nampak, 10 meter di depan sana.
" Gus,"
" Dalem," jawab ku.
" Terima kasih atas waktunya,"
" Hm, sudah kewajiban tuan rumah untuk memuaskan hati tamunya,"
" Ini, buat Nyan," mengangsurkan paper bag bercorak batik yang sedari tadi ia bawa. Aku menerimanya dengan canggung.
" Sebagai simbol persaudaraan kita, semoga Allah senantiasa melindungi Nyan, assalamualaikum," ucapnya, kemudian berlalu lebih dulu.
" Wa alaikum salam," aku menatapnya memasuki gapura pesantren menuju lingkungan santri putri, karna Neng Ifa sendiri juga tidak berkenan untuk bermalam di ndalem dengan tanpa mengurangi rasa hormat dan ta' dhimnya kepada Abah dan Umi, kemudian beralih pada paper bag yang berada di pegangan ku secara bergantian. Aku masih diam, pada posisi ku, 10 meter di depan gapura Lonkali. Allah...
" Subhanallahiwal hamdulillahi wala-"
" Nglamunya lanjutin di gotaan aja Gus, sok manggak,"
Aku menoleh,
" Itu, si Fahrizal adzan masak sampek enggak ngeh," lanjutnya berjalan mendahului ku masuk.
" Astaghfirullohal'adhim..." Aku melanjutkan langkah ku memasuki pesantren mengiringi langkah Fatih.
__ADS_1