Saat Aku Mulai Menyadarinya

Saat Aku Mulai Menyadarinya
Part 5. Rombongan Lasem


__ADS_3

ULUL


Seorang mengenakan pakaian serba putih, terlihat amat anggunnya berjalan menyusuri taman penuh bebungaan bak bidadari syurga. Baunya tercium harum dengan kerudung putih yang ujungnya berkelebatan ke belakang tertiup angin.


" Istri ku, jangan terlalu cepat, tunggu aku," yang ku panggil terus berjalan santai.


" Istri ku," panggil ku lagi, perempuan itu menoleh. Memamerkan wajah manisnya yang kemudian kabur di iringi cahaya keputihan yang menyilaukan mata.


" Gus,"


" Subhanallah," aku terbangun, mimpi rupanya. Tapi kenapa terasa begitu nyata, perempuan tadi?


" Fatih," panggil ku, menoleh ke arah laki- laki yang tadi membagunkan ku.


" Ngapunten Gus, Abah tadi minta suruh menghadap. Kyai Ghufron serta istri, dan satu santrinya datang. Mungkin hendak menjemput Neng Ifa," jawabnya agak sungkan.


" Neng Ifa, pulang?" Tanya ku memastikan masih dengan klemun- klemun karna ngantuk.


" mungkin saja begitu Gus."


" Ah, baik, saya naik dulu," kata ku berpamitan hendak ke ndalem.


~...


Aku, Abah, dan Umi berdiri di depan gapura sederhana Lonkali. Di hadapan kami, sebuah mobil terpakir menghadap muka jalan.


Jauzaatul Ulya Al Lathifa, dia mengenakan gamis berwarna hitam mengembang tanpa corak, kerudung merah dengan paduan hitam dan nevi dengan bros berbentuk bunga di dada bagian kiri.


Terlihat sangat anggun, masih dengan senyuman simpulnya yang menegaskan dia sedang bahagia, atau entahlah. Bahkan aku sangat sulit mendefinisikan sikapnya yang selalu saja lemah lembut, tapi memiliki tatapan tegas, perawakan seorang pemimpin, dan berwawasan keilmuan luas.


Aku hanya menatapnya sebentar- sebentar, dan bila tidak salah, diapun juga begitu. Hati ku mulai berdesir ringan. Allah, hanya Kau yang tau apa arti dari perasaan aneh ini...

__ADS_1


Setelah aku sungkem pada Kyai Ghufron, bersalaman pada Sigit, santri dari Janur Kuning Lasem, dan setelah Abah dan Umi saling berpamitan juga dengan rombongan Kyai Ghufron, mereka masuk ke dalam mobil, bersiap untuk pulang.


Aku masih menatap kepulan asap abu- abu yang keluar dari kenalpot panter hitam rombongan Lasem itu. Mereka yang perlahan pergi meninggalkan tanah Banyu Wangi, hingga kemudian hilang terbawa jarak yang kian jauh.


" Menurut mu giamana Nang?" Tanya Abah, aku menoleh penuh ta' dhim, tidak mengerti apa maksud dan tujuan Abah bertanya seperti itu.


" Ngapunten Bah, apanya yang gimana?" Tanya ku sesopan mungkin.


" Alah to Nang, mbok ndak usah pura- pura ndak tau kamu itu, maksud Abah mu itu, bagaimana dengan Neng Ifa, Putri Kyai Ghufron?" Sambung Umi dengan guyon, tapi sukses membuat ku sedikit tersentak untuk sesaat.


" Eh, nganu,


" menurut Ulul sih... M... Neng Ifa niku, cantik Mi, sopan orangnya, apalagi sekarang juga sedang diamanahi untuk memimpin kepengurusan di unit pesantren Lirboyo, wawasanya juga luas, mudah akrab," jawab ku apa adanya. Padahal aku juga hanya menemani Neng Ifa untuk berjalan- jalan setengah hari saja.


Abah hanya manggut- manggut mengetahui jawaban ku.


" Abah istirahat dulu kalau begitu," kata Abah, lalu beliau berbalik arah kembali masuk ke pesantren, menuju bangunan ndalem yang tidak terlalu besar.


" Semoga Abah lekas sembuh, Umi, nanti selesai kegiatan pesantren Ulul tak naik menjenguk Abah," kata ku. Umi mengangguk dan tersenyum.


" Jih pun, Umi, Ulul juga akan kembali ke gotaan," jawab ku.


"  Ya sudah, assalamualaikum," terka Umi.


" Wa alaikum salam," jawab ku.


Aku berjalan pelan menuju gotaan setelah memastikan Umi sudah benar- benar masuk ke ndalem menyusul Abah.


Abah sudah tidak bisa di bilang muda lagi, rambutnya sudah mulai berwarna putih sempurna. Kulit keriput, dengan beban fikiran beragam yang mungkin setiap harinya akan terus bertambah.


Sudah tidak ada lagi yang Abah inginkan hingga ujung keudzurannya dalam perkara dunia, kecuali kebahagian dzuriyyahnya di jalan keridhaan Allah.

__ADS_1


Allah, usia ku baru 25 tahun, masih bisa di bilang muda untuk seorang laki- laki, tapi Abah dan Umi selalu menyinggung masalah keinginan dan kesiapan ku untuk membina rumah tangga.


Mas Rifki dan Mas Hamdan, bagaimana dengan mereka? Apa fikiran mereka benar- benar masih kosong dengan perkara penyempurnaan separuh dari agama mereka?


Memang sepertinya akan lebih pas jika Abah dan Umi membicarakan masalah ini dengan Mas Rifki atau Mas Hamdan, yang dari faktor usia sendiri memang di atas ku. Tapi keadaan jarak yang terpaut sangat jauh malah menjadikan aku seakan lampiasan pengganti.


Astaghfirullohal' adhim, kenapa prasangka ku kotor sekali, Allah... Mudahkanlah segala perkara yang Kau jatuhkan pada ku, dan bimbinglah aku kepada apa yang Kau kehendaki, dalam kebaikan dan manfaat.


" Kok nglamun aja sih Gus? Jangan terlalu di bolehin lah, kalo maunya cuman nyabotase fikiran Nyan," terka Fatih tiba- tiba.


" Apa tah Tih, nggak ngeh saya sama bahasa kamu," jawab ku masih belum tau arah dari kata- kata Fatih.


" Nyan lagi mikirin Neng Ifa kan Gus? Baru aja pulang belum ada sehari Gus, masak udah segitunya," lanjutnya berargumen yang cukup " ndak banget" rasanya.


" Nggak lah, biasa aja tu," sangkal ku. karna memang bukan itu yang sedang ku fikirkan, hanya saja tentang, membina rumah tangga. Sebentar- sebentar, tapi keduanya juga berkaitan...


Ah... Ndak- ndak,


" Kalo Nyan yakin, tinggal bilang aja sama Abah Gus, minta Abah untuk mengkhitbahkan Neng Ifa secepatnya," usul Fatih.


" Wallahu a'lam lah Tih, nanti juga akan terlihat jalan yang harus saya lalui,


" Kamu itu, mikirnya saya nikaaaah, mulu,"


" He... Lagian Abah semakin sepuh aja kok Gus, biasanya kan kalo seseorang udah mendekati udzurnya, paling berharap dapat lekas menimang cucu, iya enggak coba Gus?" jawab Fatih dengan cengengesan.


" Tambah lagi Gus, kalo keburu di khitbah orang," lanjutnya menggoda ku. Tapi aku tidak marah, ataupun merasa jengkel sama sekali.


Aku menatap sorban berwarna putih dengan garis- garis kecil berwarna biru yang tersampir melintang dari bahu sisi kanan hingga bahu sisi kiri ku. Sorban ini adalah pemberian dari Neng Ifa kemaren sore.


Aku belum bisa yakin, atau percaya, atau sejenisnya, kalau apa yang ku rasakan saat ini, adalah fitrah Mu, Ya Allah... Ini hanya kekaguman semata atas akhlaq dan budi pekerti yang dia tunjukkan. Aku terus mensugesti diri ku sendiri kalau ini bukanlah apa- apa.

__ADS_1


__ADS_2