Saat Aku Mulai Menyadarinya

Saat Aku Mulai Menyadarinya
Part 4. Inisiatif Chyka


__ADS_3

DIKO


Aku menatap ponsel ku yang sudah tergeletak di atas meja. Tanpa sadar aku mulai tersenyum- senyum dengan sendirinya, ya, begitulah, setiap kali aku memikirkan tentang Ozi.


Rasanya, ingin sekali aku terus ada di sisinya. Aku merebahkan diri di atas kasur, masih terlalu dini untuk tidur.


" Dik, Diko! Lo belum tidur kan?"


" Diiikoooo!!!"


Aku langsung bangkit dengan rasa khawatir menuju arah balkon.


" Ada apa Chyk?" Tanya ku masih dengan ekspresi penuh kecemasan pada Chyka yang sedang berdiri di balkon kamarnya, yang memang berhadap- hadapan langsung dengan kamar ku.


" Hay?" Ucapnya enteng diikuti senyum yang dibuat super manis.


" Malem Dik, lagi ada sibuk nggak?" Tanyanya.


" Huh, Chyk, gua kira lo kenapa- napa tauk," gerutu ku.


" He... Maap- maap, orang tadi di telfon juga gak masuk, tumben jam segini udah off, padahal kan gua lagi butuh lo banget,"


" Terus aja sana, kalo butuh, ngebetnya abis," balas ku sok kesel.


" Gimana kok, lo lagi lenggang gak malem ini?" Tanyanya lagi.


" Kenapa emang?" Jawab ku balik dengan nada bicara yang ku buat acuh.


" Cye... Pangeran Tikus bisa marah juga ternyata," ucapnya dibuat- buat lucu.


" Bodo' banget, udah ah, ngantuk gua, malem," terka ku berpura- pura marah dan mengakhiri pembicaraan.


Aku berjalan hendak masuk ke dalam kamar. Dan, satu... Dua... Ti-


" Iih... Lo mah ngeselin banget deh, Dik!" Teriaknya.


" Ga denger, ga denger," goda ku, lalu terdengar suara- suara umpatanya seperti biasa.


Chyka gak banyak berubah, aku sama dia udah jadi temen deket semanjak kecil, ya, gitu deh, aku malah lebih pengen nganggep dia adek daripada sekedar temen deket. Hubungan kita bener- bener sangat akrab. Sampek- sampek pada ngiranya pasangan kekasih.


" Gimana-gimana? ha! Chyka baweel plus ngeselin, mau manfaatin gua buat apa lagi?" Tanya ku dengan mendongakkan kepala menuntut jawaban.


" Jalan yuk," ajaknya. Ekspresi kesalnya langsung berubah jadi senyum yang khas banget.

__ADS_1


" Kemana?" Tanya ku bingung.


" MalMing lah, bosen di rumah aja," jawab Chyka to the point.


" Ck, dasar, emang nasib jomblo sejati, ngenes aja terus, awkawk..." Jawab ku.


" Apaan, kaya lo kagak jomblo aja, sama ngenesnya kalik,"


" Ye... Jangan asal klaim kau wahai manusia, gini- gini gua mah orren- johitz- jogha ya..."


" Apaan tuh?" Tanyanya penasaran.


" Orang keren, jombo nge hitz, jomblo bahagia," jawab ku.


" Ye... Dasar,"


" Yudah hayuk nih, katanya mau MalMing an, mumpung masih belum terlalu malem, gih ganti baju," suruh ku.


" Oke," balasnya masuk ke dalam kamar.


" Pake baju panjang yang tebel Chyk, angin malem gak baik buat lo," teriak ku.


Akupun ikut masuk ke dalam kamar untuk berganti baju, lalu turun ke bawah, mengeluarkan sonic ku dari garasi, memanaskannya.


CHYKA


" Udah siap nih? Pakek penampilan kak gini?" Tanyanya membuat ku mengerutkan dahi bingung.


" Iyalah, kayak mau kemana aja sih Dik, katanya suruh pakek baju panjang yang tebel," jawab ku enteng. Lalu, dia melepaskan jaket donker yang dia pakek, menyampirkanya di kedua bahu ku.


" Gua gak mau lo sakit, dipakek," suruhnya, berbalik arah hendak menutup garasi.


Aku, huh, Diko... Perlakuanya kepada ku selalu bisa membuat ku semakin berharap semua perasaan ini akan terbalas, mungkin aku lancang bisa sampek sayang ke kamu lebih Dik. Aku sepenuhnya sadar, kalo lingkungan kita hanyalah sebatas sahabat dan temen deket. Friend Zone.


" Gak usah baper deh," terkanya mendekat ke arah ku. Menyentil dahi ku.


" Sakit tauk!.."


" Hiye... Dasar manja..."


" Eh, manja- manja, lagian siapa juga yang lagi baper ke elo?" Jawab ku gelagapan. Memakai jaket yang tadi dia kasihin ke aku.


" Nah loh, tuh lo bengong, apalagi kalo gak ngebayangin seberapa beruntungnya lo bisa jalan sama gua, langka lo ya gua mau jalan sama cwe',"

__ADS_1


" Ck, basi! Playboy tengil kya lo gak doyan jalan bareng cwe', ga percaya gua mah," ledek ku.


" Lo lama- lama kya si judes ya, lanjut- lanjutin aja tu, panggil gua tengil lah, tikus lah, " jawabnya.


" Ozi maksud lo?"


" Siapa lagi?" Tanyanya balik.


" Yaudah, yuk," dia naik ke atas motornya.


" Om sama tante?" Tanya ku menoleh ke arah rumah Diko.


" Biasa, lagi pada sok sibuk sendiri- sendiri. Kak Alda lagi ada acara di kampusnya, gih naik, buruan,"


suruhnya.


" iya, pak bos!" jawab ku.


Aku naik di boncengannya, kemudian Diko melesat pergi membelah jalanan malam Ibu Kota yang belum bisa di bilang sepi. Aku melingkarkan kedua tangan ku ke perutnya, kemudian bersandar ke punggung kokoh Diko.


Aku kenal dengan wewangian yang dia pakek, bahkan udah cukup terbiasa. Nyaman, itu yang ku rasain setiap deket sama Diko, dari dulu, semuanya emang gak pernah berubah. Kecuali hati ku yang tiba- tiba aja masuk dalam zona tidak aman hubungan kami, "jatuh cinta".


CHYKA


" Mau ke mana nih, tuan putri ku yang ngeselin?"


" Ke toko kue deket- deket sini aja Dik, biar gak kemaleman,"


" Toko kue? mau ngapain?" Tanyanya dengan sedikit menoleh ke belakang.


" Menurut lo? Ya beli kue lah Dik, masak beli celana dalem, lo ada- ada aja sih, gitu aja kok masih ditanyain," jawab ku terlihat kayak orang berwawasan luas.


" Ya gua tau, kalo di toko kue itu belinya pasti kue, maksud gua tu, beli kue buat apa, Chyka cantik, manis ku, sayang ku, cinta ku... Perasaan ulang tahun gua juga udah kelewat lama, kalo mau anniv, kyaknya kitanya juga belum jadian kan?" jawabnya.


Aku tersentak, anniv... Stop Dik, please, jangan buat aku semakin.... Sakit... Untuk yang kesekian kalinya sama kata- kata kamu. Kita udah bukan anak kecil yang bisa ngelempar kata- kata kayak gitu dengan enteng lagi, Diko... Gua mohon...


Aku memukul punggungnya pelan.


" Gak usah mancing- mancing gua kesel deh," terka ku. Diko cuman meringis dan cengengesan gaje.


" Buat Ozi," jawab ku mencoba menetralkan perasaan, dan tetep kelihatan baik- baik aja.


" Ozi? Dia ulang tahun? Kapan Chyk?" Tanyanya kaya wartawan ulung yang sukanya nuntut jawaban maksa.

__ADS_1


" Iya, besok senin," jawab ku


__ADS_2