
OZI
" Aku duluan ya bu," aku mencium tangan ibu dengan tergesa.
"kak, bi, udah telat nih," kemudian berangsur pada kak Revan dan Bi Inah.
Aku berlari menuju garasi, mengeluarkan sepeda motor ku, menstarternya.
Saat ku naiki rasanya tidak seperti biasanya, akupun kembali turun untuk memeriksanya sebentar.
" Anjirrr!..."
Dan, ya, benar saja, ke dua bannya kempes.
Aku kembali hendak masuk ke rumah, tapi langkah ku terhenti saat aku menabrak Kak Revan.
" Aduh Ra, pelan- pelan dong, kenapa sih buru- buru amat? Sans..." Terka Kak Revan tersenyum melihat tingkah ku yang ia anggap sangat lucu pagi ini.
" Gara- gara kakak sih, pake ngajak Aira jalan tadi malem, jadinya Aira bangun kesiangan, Aira ada ulangan Matematika pagi ini nih, gurunya ganas tauk," jawab ku.
" Yaudah sana berangkat, ntar telat," suruh Kak Revan dengan nada santainya.
" Anterin... Motor Ira kempes, kafe kakak kan satu arah sama sekolah Ira," rayu ku.
" Ah, ndak ah, kayaknya kakak juga udah telat nih, ada jam pagi juga di kampus, baru inget," sangkalnya.
" Iih, kakak..."
" Kakak duluan ya," terka Kak Revan mengeluarkan motornya.
" Mumpung masih jam segini, cari angkutan umum aja Ra," saranya meninggalkan ku.
Astaga, huh! kenapa juga harus hari ini...
Akhirnya mau gak mau aku ikut sama ide Kak Revan buat ngangkot, karena jam segini bakal susah banget cari taksi kosong di daerah sini, meski sambil ngumpat gajelas sendiri di jalan.
" Pak- pak, tunggu- tunggu," teriak ku berlari menghampiri gerbang kokoh sekolah yang udah mau dikunci.
" Tumben neng telat?" Tanya Pak Indra, penjaga sekolah ku, dengan ramah.
__ADS_1
" Iya Pak, lagi sial," jawab ku asal- asalan sambil nylonong masuk menuju kelas. Aku berlari secepat mungkin di koridor yang sudah sepi dari lalu lalang siswa. Dan, ya, 2 IPA 1. Aku membuka pintu yang tidak tertutup rapat-
" Biyuuuuurrrr..... Glodyaaaak gledak duk," seketika jantung ku berdegup sangat kencang saking terkejutnya, di iringi rasa dingin yang membanjiri tubuh ku. Baju ku basah, dan sebuah ember tanggung berwarna merah muda tergeletak tanpa daya di depan ku.
Tak berapa lama, seisi kelas tertawa renyah, menertawakan ku. Ash... Siapa juga sih yang bikin acara kayak gini.
Aku menatap jam di lengan kiri ku, kemudian berjalan dengan rusuh menuju kamar mandi.
~...
" Untung aja, tas gua gak basah, syukur hari ini juga ada mapel penjas, sial banget gua hari ini, apalagi coba abis seragam gua basah," aku membuka pintu kamar mandi dan berjalan santai kembali ke kelas.
" Grrr... Ulangan blo'on, lupa gua, bisa- bisanya gua santai- santai gini, ******! " terka ku tak jelas.
Dan, benar saja, feeling ku udah gak beres liat pintu kelas yang tertutup rapat, apalagi gak ada gaduh- gaduh lagi dari temen- temen.
Aku memberanikan diri untuk membuka pintu, berjalan ke arah meja guru dengan was- was, lantai tepat di bawah pintu yang tadi basah sekarang sudah kering tak meninggalkan bekas setetespun, bahkan terlihat bahwa sebelumnya lantai itu gak papa.
Sebenernya aku agak bingung, plus kaget juga sih, plus bersyukur, plus gak karuan juga tapi. Gajelas ah.
Bingung aja kenapa yang sekarang sedang duduk di meja guru malah Bu Diah, guru sejarah, bukanya Bu Reni, guru matematika ku.
Kaget karena kenyataanya Bu Reni itu gak kalah bengisnya sama Bu Diah, ku pastikan kalo Bu Reni belum sarapan pasti bakal di sate nih, sumpah,
Bersyukur sih iya, karna ga jadi ulangan, belum belajar juga soalnya, nah, gak karuanya ini nih, yang-
" Brak!!" Aku terdiam, berusaha untuk menerima semua cobaan ini dengan ikhlas dan lapang dada. Sabar...
" Udah telat, gak pakek seragam juga, kamu pikir ini sekolah nenek moyang kamu?" Tanya Bu Reni dengan tatapan teganya.
" Kalo iya emang kenapa Bu? Bawel amat sih, dengerin dulu kalik penjelasan gua, apa gimana, main cerocos aja. Siapa juga yang mau telat, gini- gini gua ngalamin peristiwa sulit nih bu," jawabbku yang hanya berani ku lontarkan dalam hati yang sudah mubal rasanya karna sesak oleh ke sialan.
" AIRA! Jawab Ibu! Orang lagi di tanya malah ngelamun ndak jelas," sentak Bu Reni. Membuat ku sontak menatap jam di lengan kirivku.
" Ah, iya Bu, maaf, kan saya juga baru telatnya dua puluh menit doang," jawab ku.
" Sumpah, blo' on abis lo Zi... Mancing singa namanya kalo lo kek gitu ma," umpat ku lagi secara refleks dalam hati. Ya gak mungkin loss lah, bisa- bisa malah jadinya cari mati.
" Apa? Dua puluh menit itu baru? Enteng ya kalo kamu ngomong, kalo mindset pemuda pemudi Indonesia kaya kamu semua, mau jadi apa negri kita Ra?" Cerocos Bu Reni tanpa bosan.
__ADS_1
" Mundur pelan- pelan aja bu, dari pada enggak di gubris, kan sakit," celetuk Tije, kemudian di lingkupi tawa seisi kelas.
" Balik kanan bubar jalan kali ya, kalo mundur pelan- pelan, belum pro, ya nanti kesleo tau rasa lah.." Sambung Alfian, lagi- lagi di iringi oleh ledakan tawa seisi kelas.
Dasar, aku mah nggak ngerasa tersinggung, cuman, mereka itu agak embisil kayaknya ya, gak sadar sikon banget sih mau bercanda. Mana nih Bu Reni udah melotot- lotot lagi!
" Diem! Semuanya diem!" Bentak beliau. Seketika kelas menjadi hening. Seakan- akan mereka baru tersadar dari dosa yang barusan mereka lakukan.
" Aira, sekarang kamu turun ke lapangan, hormat ke arah tiang bendera selama jam pelajaran saya," suruh Bu Reni.
" Elah Bu, mapel Ibu kan sampek nanti istirahat, panas Bu, bisa patah kaki saya nanti Bu, dispensasi lah bu..." Mohon ku yang sama sekali tak digubris.
" Itu salah satu latihan setia pada Tanah Air, kalo dalam hitungan ke tiga kamu masih belum keluar juga, Ibu tambah hukuman kamu sama bersih- bersih toilet, satu... Dua... Ti-"
" Iy, iya Bu, siap," terka ku menyanggupi sembari berlari ke luar kelas. Huh, emang dasar, sungguh tega banget sih sama murid sendiri juga. Ogah banget kalo sampek di tambah harus bersihin toilet sekolah yang banyaknya mintak ampun itu.
~...
" Saatnya jam istirahat pertama, it's time for the first break," dengan dahaga yang sudah menjadi satu dengan nafsu makan dan minum yang meningkat, aku langsung menurunkan tangan ku yang entah sudah patah menjadi berapa bagian, di tambah kaki ku yang mungkin sudah mengecil saking lelahnya berdiri.
Istirahat, waktu yang sangat ku tunggu- tunggu, akhirnya...
Akupun bergegas menuju kantin, rasanya cacing- cacing dalam perut sudah tidak bisa diajak damai. Untung saja aku cwe' yang bermental " wonder women", betah juga berdiri di bawah lampu dunia empat jam pelajaran.
Saat hendak memasuki kantin, di meja bagian pojok, seperti biasa, sudah ada si Chyka dan Febri, juga alien- alien burik kayak biasanya. Alfian, Kevin, dan Tije. Tije... Sebentar- sebentar, Diko? Kok tumbenan banget sih gak ada? Aku memutuskan untuk berjalan mendekat, turut bergabung.
" Siang guys," sapavku ikut duduk di tempat biasa aku duduk.
" Eh Chyk, gua balik kelas dulu ya, mendadak kenyang nih," kata Febri.
" Yakin nih?" Tanya Chyka.
" Iya, duluan ya," balas Febri berjalan pergi yang hanya di balas dengan anggukan oleh Chyka.
" Ay, tunggu daku kalik," Kevin menyusul dengan setengah berlari.
" Eh Fan, turnamen kita jadi besok awal bulan iya enggak?" Tanya Tije dengan wajah serius. Bahkan dari tadi tidak ada yang berusaha membalas sapaankl ku.
" Iya nih, ke ruang olah raga dulu yuk, kayaknya ada berkas- berkas susulan yang harus di isi deh, kemaren Bang Tofan ngechat gua suruh bilangin yang laen soalnya," kata Alfian bersiap pergi.
__ADS_1
" Gua ngikut Fan, Je, ruang olah raga kan searah kalo sama perpustakaan, gua mau cari referensi buat makalah akhir Bahasa gua," timpal Chyka. Kemudian mereka bertiga pergi tanpa menengok ke arah ku, seakan- akan aku bukanlah siapa- siapa. Atau sekedar hantu, atau bahkan bayangan yang gak keliatan.
Selama jam istirahat, aku hanya menghabiskan waktu dengan bengong di kantin. Sendirian. Gua ngerasa, ada yang ga beres.