
FATIH
Setelah semua kegiatan selesai, aku berniat ingin menambah hafalan Alfiyah buat setoran besok akhir pekan.
Saat berjalan pulang dari madrasah ke gotaan, dari kejauhan terlihat seorang duduk terpekur menatap indahnya maha karya Allah di atas sana.
" Assalamualaikum," terka ku.
" Wa alaikum salam,"
" Ndak madrasah Gus?" Tanya ku langsung, ikut duduk di anak tangga gotaan sisi kanan Gus Ulul. Sepulang dari studynya, biasannya beliau akan ikut memperdalam kajian ilmu nahwu atau alat di kelas senior.
Beliau merupakan jebolan dari almamater yang sama dengan Abah, di Banjar Melati sebagai Tabarukkan Al Qur'annya yang mampu beliau khatamkan selama 2 tahun di Ndalem Mbah Arwani, Kudus, salah satu guru sepuh Al Qur'an di Indonesia.
Sempat menyantri di Tebuireng untuk memperdalam kajian kitab kuning sebelum memiliki fikiran untuk mengambil tahfidz sejak lulus sekolah dasar, juga rutin mengikuti kilatan- kilatan di pesantren- pesantren salaf sepuh daerah Jawa.
Setelah itu melanjutkan pendidikanya ke jenjang perkuliahan dengan menjadi salah satu mahasiswa di universitas ternama Ibu Kota, mengambil jurusan Sastra Indonesia dan Matematika sekaligus.
Dan sekarang mengabdikan ilmu- ilmu yang beliau dapat di pesantren sederhana tempat beliau dilahirkan. Usianya baru 25 tahun.
" Enggak Tih, Pak Kaji Safari ada acara, nggak ada yang mbadali, jadi disaur besok malam jum'at,"
" Oh," aku turut memandang langit malam padang bulan yang tengah terlihat elok- eloknya.
" Kayaknya Neng Ifa suka deh Gus sama Nyan," simpul ku, membuat Gus Ulul langsung menoleh ke arah ku dengan ekspresi kaget.
" Ah, apaan sih kamu Tih," sangkal Gus Ulul.
" Gus, kan Gus sendiri yang mengajarkan kepada saya, kalo membina bahtera rumah tangga itu tidak harus dilandasi dengan rasa cinta di hati, tapi cukup dengan keimanan dan tujuan yang sama- sama bermuara kepada Allah, karna dengan keharmonisan dan pijakan yang pas, cinta akan hadir dengan sendirinya," ucap ku meniru kata- kata Gus Ulul beberapa waktu yang lalu.
" Saya belum kefikiran sampai ke situ aja Tih, kesanya terlalu cepat," jawab Gus Ulul.
" Nyan ingin menunggu apa lagi Gus? Ilmu juga udah mumpuni, cukuplah jika dijadikan bekal membina rumah tangga, apalagi Neng Ifa juga jebolan pesantren, putri seorang Kyai alim, faham agama, cantik, dan sopan,"
" Mungkin saya perlu bermunajat lebih untuk jodoh saya, saya nggak mau terlalu terburu- buru dan akhirnya masuk ke dalam keputusan yang salah, karna setelah menikah nanti, saya akan bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan dua buah keluarga yang memiliki latar belakang berbeda, juga istri dan anak- anak saya kelak Tih, Mas Rifki sama Mas Hamdan juga belum pada menikah,"
Subhanallah, Gus ku adalah sahabat ku yang sangat bijaksana...
" Ya, semoga yang terbaik deh buat Nyan,"
" Amin..."
" Ngomong- ngomong, tadi di kasih apa Gus sama Neng Ifa," tanya ku membuat Gus Ulul terlihat menahan rasa malu.
" Apa sih Tih," sangkalnya.
" Nggapapa Gus, kebetulan sore tadi saya dari rumah budhe di tepian, jadi saya pun sebenernya udah liat Nyan sama Neng Ifa jalan- jalan di pantai," terka ku membuat Gus Ulul hanya terdiam.
" He... Istirakh Gus, kayak sama siapa aja," canda ku membuatnya tersenyum simpul.
Agenda ku pun berubah dengan sendirinya, "ngaji urip" hinga tak terasa malam telah larut menjelang.
Sebelum pergi tidur, aku dan Gus Ulul bangkit menuju surau pesantren yang berada di sisi kanan bangunan ndalem untuk mendirikan shalat malam dan curhat pribadi dengan Dzat Pemilik jiwa seluruh barisan di padang mahsyar kelak.
OZI
" Dert... Dert..."
Aku meraih smart phone hitam ku yang tergeletak asal di sisi ranjang, merebahkan diri.
__ADS_1
" Tikus tengil," baca ku lamat- lamat. Aku hanya menarik nafas panjang, makhluk itu, kenapa coba gak bosen- bosen gangguin hidup orang, udah kayak setan bener- bener. Aku membukanya,
" P,"
" Gila,"
"iya😊,"
" Gaje ui,"
"😳😳😳 Gaje tu bukanya warga kebun binatang yang ada belalainya ya?"
" Gajah😒,"
" Salah sebut nama, pas kenalan si dia kagak jelas sih😅😅😅,"
" Sehatkah anda?"
" Lo kenapa sih Dik?"
" 😚rindu..."
"Gamutu deh,"
" Ye... Apaan. oh ya ini jam berapa sih?"
" Jam 10,"
" Pagi pa malem?"
__ADS_1
" Malem,"
" Juga Zi😊😊😊,"
" Mimpi indah ya,"
" Kagak jelas banget sih lo Dik,"
Tanpa sadar aku tersenyum. Ku lirik dibagian kiri teks yang barusan ku ketik, satu centang abu. Dia off line.
" tok, tok, tok," aku menoleh, lalu menatap jam weker di atas meja tidur di sisi ranjang, jam 9 lewat lima menit. Aku melangkah ke arah pintu.
" Ckreek..." Tersenyum, mengenakan jaket hitam dengan jins ketat dan rambut berantakan.
" Eh elo kak, masuk gih, " terka ku membuka pintu lebar- lebar, melangkah masuk ke dalam kamar diikuti Kak Revan.
" Jam segini abis dari mana kak?" Tanya ku, memosisikan diri di bibir ranjang.
" Abis dari kafe, sip siang," jawabnya lagi- lagi dengan tersenyum.
Revan Azandy Al Fairuzi, ganteng, cool, ideal, idola cwe' banget, perhatian, penuh kasih sayang, dan banyak banget pokoknya, yang pasti semua hal yang baik- baik buat kakak satu- satunya yang amat sangat ku cintai ini.
Beberapa tahun terakhir Kak Revan emang berinisiatif kerja part time untuk mencukupi kebutuhan semesteranya, keadaan perusahaan makin memprihatinkan karna fokus Mama yang sedikit terpecah karna faktor rumah.
Papa mulai jarang pulang lagi seperti tahun- tahun lalu. Aku gak pengen berfikir negatif atau berburuk sangka, tapi nyatanya sikap Papa emang agak kaku dan terkesan dingin.
" Kamu udah makan?" Seketika pikiran- pikiran ngawur ku terbang gitu aja.
" Udah kok, bareng Mama tadi, sama Bi Inah, kakak sendiri? Udah makan?" Tanya ku balik.
" Hacyhi...h,hh.. Udah kok, tadi pas mau pulang dari kafe sekalian makan," jawabnya.
" Astaga kak, kesehatanya dijaga dong, kalo sakit gak usah malu bilang sama Ira, kan nanti bisa Ira rawat," cerocos ku.
" Kakak keujanan di jalan ya? Kok rambutnya basah gini," tanya ku dengan nada mengancam, membuat sederet gigi putih itu kembali terlihat.
" Tinggal kasih minyak angin, tidur bentar juga sembuh kok Ra, udah, kamu istirahat juga gih, dah malem," jawab Kak Revan mengelus puncak rambut ku seperti biasa.
" Ye... Ira udah bukan anak SD yang kalo udah jam sepuluh harus tidur kali kak," sangkal ku.
" Sampek kapanpun, kamu itu tetep adik kecil kakak Ra, yaudah, kakak ke kamar dulu," timpal Kak Revan berjalan menuju pintu.
" Udahan nih, gitu doang?" Tuntut ku
" Hm... Dingin nih, kakak mau ganti baju,"
" Yaudah deh kalo gitu, selamat istirahat ya kakak ganteng ku, malem," kata ku dengan nada manja.
" Juga," jawab Kak Revan sebelum menutup pintu dengan lembut.
" Kak," panggil ku, membuatnya urung menutup pintu kamar ku.
" Iya,"
__ADS_1
" Jangan sakit," pinta ku yang hanya dijawab dengan senyuman sederhana.
Kak Revan, dia adalah orang pertama yang akan meledek ku habis- habisan saat aku curhat yang mellow- mellow, atau apapun yang bisa dia buat bahan ngejek aku, tapi Kak Revan juga orang pertama yang akan ngibur aku saat aku sedih, ngasih solusi saat aku butuh, dan menguatkan saat aku lagi rapuh- rapuhnya.