Sahabat Kecilku Jadi Pendamping Hidupku

Sahabat Kecilku Jadi Pendamping Hidupku
Episode 2


__ADS_3

"Aku sibuk, dan lagi pula aku ga bakal cocok di tempat itu," ujarnya.


Ya kutau kalau ia ga suka tempat-tempat yang ramai. Tapi aku mungkin pergi sendiri. Jadi aku memaksanya.


Lagi-lagi aku berhasil. Aku dan dia jadi pergi ke pesta. Dan untuk menyeleraskan dandananku dengannya, kupinjamkan dia pakaian kakakku.


"Ini jadi lebih bagus. Keren," kataku. Ia hanya tersipu malu. Pura-pura buang muka.


Sesampainya di lokasi pesta, aku segera berkumpul dengan teman dekatku. Bisa dibilang selama di pesta, aku lebih lama dengan mereka. Soni lebih banyak diam.


Kukira semua akan baik-baik saja. Hingga saatnya kulihat ia dihampiri oleh seorang teman wanita.


Untuk pertama kalinya kulihat ia banyak bicara dengan seorang gadis. Dan entah kenapa aku jadi kesal. Tetapi bukannya mendatangi Soni, aku malah mendekati anak lelaki di sekolahku.


Percakapan di antara kami terlihat nyambung dan menyenangkan. Diam-diam aku mencuri pandang pada Soni. Tapi sepertinya dia memang ga peduli denganku.


Kesal.


Sejak saat itu aku mulai uring-uringan. Dan berpikir untuk memutuskan hubungan kami.


"Ayo kita putus," ujarku.


Kukira ia akan bilang 'Ok' tapi ternyata ia malah bertanya 'kenapa?'.

__ADS_1


"Ya, karena kita ga saling suka. Dan ga cocok aja," kataku memutar bola mataku.


Ada rasa berharap kalau ia akan mencari alasan lain dariku yang minta putus. Tapi ternyata.


"Ok," jawabnya santai.


Ha...h baiklah. Lagipula hubungan ini tak mungkin kupertahankan. Pacaran tapi ga lebih dari sekedar status. Dengan alasan bodoh.


Akhirnya kami putus. Tapi kemudian aku berkata lagi.


"Son, kalau nanti setelah 5 tahun putus kau masih jomblo datanglah padaku. Coba tembak aku," ujarku tersenyum.


Soni menatapku lama.


"Oh, ok."


Lagi-lagi dia begitu. Ya sudahlah.


Hari-hari terus berganti. Soni ga banyak berubah. Tapi ia makin dekat dengan Santi. Bahkan aku sampai berpikir kalau mereka akan jadian.


"Aku ga boleh kalah," batinku.


Ya. Aku ga mau dia duluan yang punya pacar. "Masa aku harus kalah dari mantan."

__ADS_1


Namun entah apa sebabnya. Aku kesulitan untuk menerima seseorang di hatiku. Dan justru makin sering curi pandang pada Soni yang menurutku semakin keren.


Ia sering datang ke rumahku. Alasannya karena ia dekat dengan kakakku. Mereka juga sering bermain basket di lapangan dekat wilayah rumah kami.


Dan yang kudengar makin banyak gadis tertarik padanya. Aku jadi sedikit menyesal putus dengannya. Walau sikapnya padaku ga pernah berubah. Terutama pada saat aku butuh bantuan.


Kenaikan kelas pun tiba, kami tak lagi sekelas. Karena jurusan yang kami ambil berbeda. Aku pun semakin jarang melihatnya di sekolah.


Kami juga sudah makin jarang bertegur sapa. Hingga akhirnya acara perayaan kelulusan tiba. Sekolah mengadakan acara 'Prom'.


Ide gila pun muncul di kepalaku. Mengajak Soni datang ke 'Prom' sebagai pasanganku.


Kali ini aku ga meninggalkannya di acara 'From' sehingga teman-teman mengoda kami berdua.


Saat acara dansa tiba, aku melihat kalau ia cukup mahir dalam berdansa.


"Siapa yang menjadi pasangan dansamu selama ini?" tanyaku.


"Tentu saja teman sekelasku," ujarnya.


"Ya, tapi siapa? Kenapa kau tak datang bersamanya?"


"Aku mana bisa datang dengan dua pasangan ke 'Prom' kan?"

__ADS_1


"Tapi, kau bisa datang dengannya. Bukan denganku." Kalimat ini akhirnya kusesali setelah kuucapkan begitu saja.


__ADS_2