Sahabat Kecilku Jadi Pendamping Hidupku

Sahabat Kecilku Jadi Pendamping Hidupku
Episode 4


__ADS_3

Tapi kemudian ia berpamitan padaku. Dan sebelum benar-benar menghentikan percakapan ia mengucapkan selamat tidur padaku.


Aghhh...! Senangnya. Tapi kutahan. Aku hanya membalas dengan ucapan terimakasih.


Datar sekali. Pasti ia berpikir kalau aku membosankan.


Beberapa hari kemudian tepat 5 tahun sejak kami putus. Ya aku ingat betul. Aneh ya. Padahal saat jadian semua terasa seperti ga pernah ada namanya pacaran. Tapi aku malah ingat tanggal putus.


Mungkin karena saat itu kukira Soni bakal menangis. Tapi justru aku yang patah hati. Sebenarnya apa yang kuharapkan darinya?


Aku memutuskannya. Lalu khawatir dia tersinggung. Dan akhirnya aku yang justru jengkel sendiri.


Ah sudahlah.


Ada satu hal yang paling kuingat. Kata-kata yang kuucapkan saat kami putus. Mungkin ga ya dia ingat? Mungkin setelah putus dia malah ga menganggapku sebagai mantannya. Toh kami pacar bohongan.


Bunyi panggilan menyadarkanku. Teman-teman mengajakku reunian. Di sebuah kafe yang baru saja buka. Lokasinya berada tepat di depan sekolah SMA-ku.


"Ok aku pasti datang," jawabku.


Segera kususun rencana. Mempersiapkan waktu dan pakaian. Yah meski hanya reuni biasa, tapi aku sedikit berharap bisa bertemu seseorang di sana. Barang kali cowok dari temanku bawa teman yang akan diperkenalkan padaku.

__ADS_1


Harinya pun tiba. Aku dan teman-teman sudah berada di kafe menikmati makanan dan minuman. Lalu tiba-tiba seseorang menghampiri kami.


"Boleh bergabung?" tanyanya.


Suaranya sangat familiar. Aku segera menoleh. Kulihat Soni berdiri di belakangku. Keren. Itulah penilaianku pada penampilannya.


"Sini Son. Ayo masuk!" ujar Riri yang tampak semangat.


Seketika wajahku memerah. Kesal dan marah.


"Apa mereka jadian? Dan sengaja membuat reunian untuk pamer padaku?" batinku jengkel.


Semua orang berebut bertanya ini dan itu pada Soni. Dan dengan lancar Soni menjawab sambil tersenyum. Aku hanya pura-pura ga peduli. Tapi sesungguhnya ingin kutinggalkan tempat itu.


"Ya, kenapa?" balas Soni balik bertanya.


"Aku punya sepupu yang kuliah di luar negri. Orangnya cantik. Yang jelas ga akan mengecewakanlah. Kan bisa lihat sendiri sekeren apa aku. Ayahnya itu adik ayahku. Ibunya blasteran."


"Ah, mana mungkin gadis seperti itu mau pacaran denganku yang hanya anak kampung."


Alex memukul punggung Soni. "Dalam cinta semua hal itu boleh bro.... Yakinlah dia ga bakal nolak. Karena kau ini kandidat terbaik saat ini."

__ADS_1


"Lex, kenalin ke aku aja," ujar Richart.


"Sorry bro... adek gue ga boleh dapat barang murahan. Yang diobral sana sini," balas Alex mengejek.


Sebab ia tau kalau Richart itu playboy sejak SMA. Dan tentu saja dia ga mau sepupunya jadi mainan seorang playboy.


"Son, gimana? Mau ga?"


"Nanti deh, aku pikir-pikir dulu."


"Yah kelamaan tau. Takutnya dia bakal cari cowok lain nanti."


"Ya, kan ga mungkin dipaksakan juga Lex. Sepupumu di luar negri. LDR itu nyesek tau," timpal Riri.


Jelas sekali dia ga setuju dengan usul Alex. Sebab ia sudah menaruh hati pada Soni. Entah sejak kapan. Dan entah apa alasannya. Jika dilihat kuakui siapapun yang melihat Soni 98% pasti tertarik.


"Ri, aku pulang duluan ya," ujarku setelah mencoba bersabar hampir satu jam.


"Eh kok cepat? Baru juga pukul 10."


"Iya nih. Kok tumben pulang cepat."

__ADS_1


"Biasalah mama sudah manggil-manggil dari tadi," bohongku sambil menggoyangkan ponselku.


__ADS_2