
Soni pun berdiri dan beranjak pergi.
"Eh, mau kemana?" tanyaku.
"Pulang. Karena seharusnya aku memang ga perlu datang ke sini denganmu."
"Maksudmu?"
"Ya, tadinya kupikir karena kau yang mengajakku maka aku menolak pasangan dansaku saat latihan. Kupikir lebih baik datang denganmu karena rumah kita dekat. Kupikir..." katanya tanpa menyelesaikan kalimat terakhirnya.
Lalu ia pun bergegas pergi.
"Tunggu."
"Kau bisa pulang dengan yang lain, kan? Jadi aku ga perlu..." ujarnya lagi tiba-tiba terhenti.
Saat itu teman-temanku memanggil. Dan Soni memilih pulang sendiri.
Sejak saat itu aku tak pernah lagi melihatnya. Ga tau kenapa. Tapi kemudian kudapat kabar kalau ternyata ia telah pergi. Ia mengambil kuliah di luar kota.
Di sana ada pamannya yang membiayai uang kuliahnya. Dan sebagai gantinya Soni bekerja di bengkel sang paman.
Setahun berlalu, Soni pulang pada saat akhir tahun. Meskipun aku berpapasan dengannya di jalan, ia bersikap seolah ga melihatku.
Sedih.
Tapi ini adalah salahku.
Tahun-tahun berikutnya berlalu. Ia sudah seperti masa lalu. Namun sepertinya hanya aku yang terpaku pada masa lalu.
__ADS_1
Seandainya malam itu, kami balikan. Ataupu jadian dalam artian yang sebenarnya. Keadaan ga akan seperti ini. Aku hanya bisa mendengar kabarnya dari para tetangga.
Malu rasanya jika aku bertanya secara langsung pada bibi. Meskipun aku dan bibi sering bertegur sapa.
Sekarang kudengar ia sudah bekerja dan lulus kuliah dengan hasil terbaik. Seharusnya aku ikut senang. Tapi rasanya aku menjadi semakin jauh dengannya.
Suatu hari aku membuka akun media sosialku. Sebuah akun bernama Soni mengirim pertemanan denganku. Tapi foto yang ada di profil adalah foto sebuah jalan menuju rumah kami berdua.
Kuterima permintaan pertemanan akun itu. Dan tampak banyak foto Soni saat bekerja.
Keren, pujiku. Tanpa sadar kuberikan jempol di fotonya. Lalu sebuah pesan masuk.
-Hai....
Sapanya padaku. Aku terkejut karena kulihat lampu on linenya ga menyala.
-Halo...
-Lagi apa?
Tanyanya. Aku berpikir sejenak. Harusnya aku jawab apa, pikirku.
-Lagi santai
Jawaban yang kupilih pada akhirnya.
Kukira percakapan akan berakhir begitu saja. Tapi sepertinya ia ga bermaksud mengakhirinya begitu saja. Ia menanyakan hal-hal sepele. Namun rasanya sangat menyenangkan.
Apakah aku rindu pada saat hubungan kami masih baik? Entahlah. Dan ia pun mengirim beberapa pesan lagi. Kemudian ia bertanya.
__ADS_1
-Apa kamu ga kangen sama aku?
Deg! Pertanyaan apa ini? Apa ini jebakan? Aku harus jawab apa?
-G
Jawabku singkat. Aku berbohong. Kukira memang lebih baik berbohong.
-Oh, sudah punya pacar ya? Pantas teman lama dilupaain.
-Ga kok. Aku belum punya pacar. Cuma sibuk kuliah aja. Mana sempat mikirin pacar.
-Kalau mikirin mantan? Sempat ga?
Aku hampir terjengkang atas pertanyaanya. Apa maksudnya? Oh tidak...!
-Ya, aku lagi mikirin mantanku. Saat ini pun aku lagi mikirin mantanku. Puas!
Kalimatku terlihat kesal. Tapi ia malah membalas dengan gif tertawa. Sial. Memangnya dia berpikir apa?
-Jangan ge-er deh. Mantanku banyak.
Jawabku cepat. Tapi langsung kujitak kepalaku. Bodoh! Batinku. Kenapa ga kugunakan kesempatan ini untuk mengajaknya balikan?
Soni tak lagi mengirim pesan. Aku rasa dia mungkin marah. Aku jadi bingung. Segera aku mengetik lagi. Tapi sebelum aku mengirimnya ketikan itu kuhapus lagi. Begitu seterusnya. Sampai sebuah pesan masuk.
Ia mengirim striker tertawa.
Dia mengejekku.
__ADS_1
Sial.