
Akhirnya aku pun berhasil berpamitan. Dan dengan suara pelan aku bertanya pada Soni, "Apa kau belum mau pulang?"
Tanpa menunggu jawaban aku pun segera pergi. Dan di luar aku menarik napas dalam-dalam. "Ugh... sesak sekali rasanya."
Aku pun segera memesan sebuah aplikasi G dan menunggu mobil jemputan. Sekitar 15 menit barulah mobil itu datang. Saat hendak masuk seseorang menarik tanganku dari belakang.
"Tunggu," katanya.
"Kau?" Aku heran kenapa Soni tiba-tiba menarik tanganku.
"Mau naik?" tawarku mencoba sebaik mungkin menjadi malaikat.
"Maaf pak, pesanannya batal." Soni pun membayar sejumlah uang.
Lalu Soni menarik tanganku. "Ayo ikut aku."
"Eh, tapi aku... tunggu...."
"Ayo naik mobilku," ajaknya sambil menarikku ke arah sebuah mobil.
"Naik," suruhnya sambil membukakan pintu mobil itu. Aku melongo.
"Ayolah, bukankah kau juga mau pulang? Kita searah dan pastinya lebih aman pulang denganku." Senyum tersungging di wajahnya.
Aku pun naik duduk di depan. Dengan tersenyum Soni segera duduk di kursi supir. Sepanjang perjalanan kami hanya duduk dan diam. Soni memutar sebuah lagu. Lagu romantis.
__ADS_1
Seketika aku terhanyut dalam keheningan. Tanpa menghayati lagu yang sudah berganti. Dan kemudian aku menyadari kalau arah yang dilalui oleh kendaraan Soni salah jalan.
"Eh? Stop, stop mobilnya. Di mana ini? Kau lupa jalan pulang ke rumahmu sendiri?" tanyaku.
Soni tampak bingung. Ia pun menghentikan mobilnya. Lalu memeriksa lokasi melalui aplikasi GM.
"Kita tinggal memutar, kan?" tanyanya.
Aku mengerutkan kening. "Kau beneran lupa?"
"Ga juga," katanya.
"Lantas kenapa kau lupa? Dan kita sudah jauh keluar jalur yang seharusnya."
"Ga juga sih," ujarnya sambil melihat ke luar.
"Ayo turun," suruhnya.
"Apa? Turun? Tapi kita belum sampai. Jangan bilang kau mau mengerjaiku ya?" Aku cemberut.
"Ga, ayo turun." Soni pun turun lalu membukakan pintu untukku.
"Ada apa sih? Kalau ga niat mengantarku, seharusnya jangan membatalkan aplikasi jemputku," omelku.
"Siapa bilang? Aku akan mengantarmu pulang. Tapi sebelum itu, aku ingin mengajakmu masuk ke sana. Aku lapar."
__ADS_1
"Untuk apa ke sana? Kau bisa pergi sendiri."
"Lalu meninggalkan seorang gadis sendirian di mobil. Sedangkan aku menikmati makanan sendirian di dalam. Bagaimana kalau nanti aku tersedak makanan akibat kekenyangan."
"Jangan bicara omong kosong."
"Ayolah. Ikut denganku."
Kami pun masuk. Kurasa aku ga keberatan untuk makan sedikit lagi. Masalah gemuk, kupikirkan lain kali saja. Sampai di dalam Soni memesan makanan. "Kau mau pesan apa?" tanyanya.
"Yang ini saja," ujarku.
Dan kemudian kami menikmati makanan kami. Saat sedang menyantap makanan Soni memanggil seorang pelayan. Lalu meminta secarik kertas. Menuliskan sesuatu di sana.
"Ada apa? Kau ga suka makananmu?" tanyaku heran.
"Suka kok. Apalagi makannya sama kamu."
Hampir aku tercekat mendengar kalimatnya. Aku sedikit batuk. "Pelan-pelan," katanya menepuk punggungku.
Aku hanya mengangguk lalu melanjutkan makanku. Sebelum selesai makan. Seseorang menyebutkan namaku. Dia adalah penyanyi di restoran tersebut.
"Lagu ini adalah permintaan seorang pria yang sedang jatuh cinta bernama Soni. Untuk seorang gadis cantik bernama Lusi dan judul lagu ini 'Jadilah Milikku'."
Tepuk tangan terdengar dari seluruh pengunjung. Seketika wajahku memerah. Lampu menyorot ke arahku. Aku menunduk.
__ADS_1
"Son, ini apa-apa ih?" tanyaku sedikit berbisik.
"Kau ga suka? Mau kusuruh mereka berhenti?" tanyanya pura-pura polos.