
Aku sungguh tak menyangka hal ini akan terjadi padaku. Seperti sebuah lamaran di telivisi.
"Oh tidak, tunggu dulu. Mungkin ini hanya perasaanku saja. Atau khayalanku. Aku pasti bermimpi." Aku menepuk pipiku.
Tapi suasananya tak berubah. Wajahku makin memanas. Jantungku berdegup kencang. Lalu kulihat ke arah Soni. Ta-tapi di mana dia?
Eh? Dia ada di bawah. Berlutut sambil mengangkat sebuah kotak kecil yang terbuka.
"Maukah kau menikah denganku?" tanyanya padaku. Musik seketika berhenti.
Seluruh pusat perhatian tertuju padaku. Seperti seorang gadis yang dipilih sebagai ratu Prom.
"Katakan ya!" seorang wanita yang duduk dekat meja kami berteriak.
Lalu semua orang berteriak hal yang sama. "Katakan ya!"
"Trima... trima... trima...." Kalimat memenuhi seluruh ruangan.
Kututup wajahku, dan mengangguk. Sialnya Soni tak terima jawaban seperti itu.
"Apa jawabmu?" tanyanya.
"Ya aku terima!" ujarku membuang rasa maluku mencengkram kerah bajunya.
Tepuk sorak dan siulan pun terdengar kembali. Soni berdiri dan membungkuk memberi hormat pada setiap orang di sana.
"Terima kasih dukungannya." Lalu ia menarikku dalam pelukannya.
"Mulai hari ini, dia resmi sebagai kekasihku. Dan aku akan segera melamarnya. Doakan aku semoga lulus tahap seleksi calon mertua."
__ADS_1
Kucubit pinggangnya geram. Ia hanya tersenyum. Lalu ia pun membawaku pergi. Tapi sebelum itu ia membayar makanan dan memberikan tip yang lumayan pada pelayan.
Aku tak menyangka. Dia yang dulunya sangat kikir bisa seroyal itu demi aku.
"Kita harus cepat. Kalau tidak nanti ayah mertua akan memecatku," katanya yakin.
"Ayah mertua?"
"Ah maksudku calon ayah mertua," ralatnya.
Aku menyunggingkan senyum dan kami pun naik ke atas mobil.
"Sudah berapa lama kau merencanakan ini?" tanyaku di atas mobil.
"Sudah 5 tahun," jawabnya 5 detik kemudian.
"Apa? Lima tahun?"
"Ta-tapi... kenapa sampai harus genap 5 tahun. Kenapa ga dari kemarin-kemarin?" tanyaku hampir menangis.
Ia tampak bingung.
"Tau ga... aku sudah lama suka sama kamu. Aku mau balikan dari dulu. Tapi aku malu. Dan kau..." kataku menutup mulutku.
Aku berusaha berhenti menangis. Untuk apa aku menangis. Harusnya aku gembira, kan? Tapi aku memang gembira. Aku terlalu gembira malah.
"Maaf kan aku. Aku merasa belum pantas bahkan sampai hari ini. Jika bukan karena takut kehilangan kesempatan maka aku ga akan pernah berani menyatakan perasaanku."
Kami lalu terdiam. Kucoba redakan tangisku. Ia merangkulku.
__ADS_1
"Aku mencintaimu. Lebih lama. Sejak pertama kali aku melihatmu. Datang ke tempatku. Dan kalian sekeluarga pindah di depan rumahku."
"Hah? Sejak itu? Bukankah kau masih kecil?"
"Entahlah, mungkin aku sudah memegang kata-kata bibi. Kalau aku harus menjagamu."
Aku berhenti menangis. Kuseka sisa air mataku.
"Terimakasih sudah mencintaiku," kataku menunduk malu.
"Kalau kau sendiri? Sejak kapan kau mulai menyukaiku?"
"Sejak Prom night."
"Hah? Masa? Bukannya kau selalu bersama cowok-cowok lain?"
"Ya, itu karena aku lihat kau dengan cewek lain...." Aku merengut.
"Masa sih? Kok bisa. Padahal malam itu aku justru terus mikirin kamu."
"Kalau mikirin aku kenapa ketawa-ketawa sama cewek lain?"
"Saat itu aku bayangin kamu yang ada di hadapanku. Biar bagaimanapun aku menahannya, tetap saja aku cemburu. karena kau lebih dekat pada yang lain."
"Son, tau ga sih. Kamu itu... benar-benar mengaduk perasaanku. Mulai sekarang kamu ga boleh lagi dekat-dekat cewek lain."
"Kamu juga ga boleh dekat-dekat cowok lain."
"Deal!" seru kami kompak.
__ADS_1
Tamat