
Mahendra melompat dengan sigap dari tempat duduk saat sadar bahwa Adifa Daania Khanza dan
Aqila Nafeeza Zahra , dua sahabat yang benar-benar tak terpisahkan itu , sedang berjalan menuju ruang kuliah.Ia berjalan dengan langkah kaki yang di lebar-lebar kan setengah berlari, di lebar-lebar berusaha menyamai langkah kaki mereka.
"Hai,Cewe cewe", sapanya sambil cengar-cengir tepat sesaat setelah melompat di depan dua cewek itu. kedua cewek yang ada dihadapannya itu hanya dapat memasang wajah kaget, mata keduanya melotot seakan-akan baru menelan paku payung satu kilo.
spontan Adifa pun mencermahai Mahendra." Apa-apaan sih Lo, Mahen! ngga bisa apa Lo nggak pakai acara ngagetin gitu? gue yang sehat bugar ini bisa jantungan kalau tiap hari lu ngagetin gue kayak gitu!. Dan sampai itu terjadi, elo orang pertama yang gue cari kalau gue meninggal dan gue pastiin, hidup lo bakal enggak tenang!"
Begitulah adifa, sekali buka mulut enggak bakalan bisa berhenti sampai nemuin tanda titik yang pas. Iya kalau titik yang pas itu ada di Tangkuban perahu, masih deket. Kalau titik yang pas itu adanya di puncak Himalaya? Kebaya enggak berapa deret kata yang bisa dijadiin kereta untuk kita sampai ke sana.
"Nih anak sekali buka mulut panjangnya ngalahin pidato capres lagi kampanye aja"cibir Mahendra
__ADS_1
Aqila hanya bisa terkekeh geli melihat dua orang itu, kemungkinan buat akurnya sama halnya dengan menanam pohon apel di gurun sahara.
"Padahal gue cuman nyapa satu kalimat doang, tapi balasannya satu proposal acara pensi akhir tahun ",balas Mahendra yang agaknya masih belum juga puas menegakkan aksi protesnya pada adifa.
"Bukan masalah sapaan Lu yang bikin gue kesel,tapi cara lo yang mendadak muncul seperti jelangkung yang datang tak diundang itu yang bikin gue kesel!"cerocos Adifa tak mau kalah
Sekali lagi, Aqila tersenyum geli, lalu meninggalkan mereka. Mungkin mereka masih ingin melanjutkan duel debat ria mereka,ia tak ingin cari penyakit datang dengan terlambat sedetik pun .karna dosen nya kali ini namanya Prof.Aretha Zayba Almira,harus benar benar on time dan ngga mau memberikan dispensasi pada mahasiswanya yang datang terlambat walaupun satu menit, kalau sedang marah, bisa-bisa kata mutiara versi kebun binatang akan mengalun lancar di bibir tipisnya itu. Suaranya yang lantang dan menggelegar, bisa-bisa membuat lawan bicaranya tak berkutik, itu bahkan untuk bergerak dan bernapas pun akan berpikir ke kedua kalinya.
Kedua orang yang sedang berdebat ria itu pun melongo melihat kepergian Aqila
Mahendra masih gencar-gencarnya mendekati Aqila.Iya benar benar terpikat oleh sosok cantik dengan lesung pipit yang terpatri di kedua pipi serta senyuman manis yang dilihatnya saat pertama kali bertemu di acara ospek kampus universitas Indonesia. Ia tak peduli jika harus berhadapan dengan si cerewet adifayang merupakan teman akhirnya sejak SMA dan menjadi sahabat dekat saat memasuki perguruan tinggi.
__ADS_1
Saat itu Mahendra menjadi ketua panitia ospek. Ia mengulurkan mandat bahwa seluruh panitia ospek tak boleh mengerjai Aqila.caranya itu berbeda dengan cara yang dilakukan para senior pada umumnya jika tertarik kepada juniornya. Biasanya untuk menarik perhatian juniornya,para senior akan menghargai juniornya habis-habisan hingga Junior itu bersumpah serapah dalam hati. Mulai dari doa agar ban motor bocor sampai doa agak menyandang status perjaka tua yang nggak laku-laku
Sayangnya, meski Aqila bersikap sangat baik pada Mahendra, tapi tak juga ada tanda-tanda bahwa Aqila akan membalas perasaan Mahendra . Tapi Mahendra nggak akan menyerah semudah itu. Walau harus melawan badai dan menyebrangi lautan sekalipun, pasti akan ia lakukan. Demi rasa sayangnya yang sudah terlanjur terpaut pada Aqila
Prof.Aretha memasuki ruang kuliah.suara derap kaki nya saja dapat membuat seluruh mahasiswa yang ada di kelas itu menahan nafas. Prof.aretha memang sudah terkenal sangat tidak ramah. Saat kuliah berlangsung, mata harus terpusat ke depan. Ketahuan sedikit saja ngobrol di dalam ruang kuliah, bisa ditendang keluar kelas dan tidak akan diizinkan memasuki kelasnya selama semester.dan sudah dapat dipastikan bahwa mahasiswa bernasib sial itu akan mendapatkan nilai E di mata kuliah Prof Aretha. Banyak mahasiswa yang berpikir keras, bagaimana dulu suami Prof.Aretha melakukan pendekatan pada makhluk yang dijuluki monster pembunuh oleh para mahasiswanya itu. Jangan-jangan suaminya tergabung dalam ISTI alias ikatan Suami takut istri.
"Baik, saudara ini adalah pertemuan pertama kita Di semester ini. Di semester yang lalu lalu kalian sudah pernah saya ajari, jadi sepertinya saya tidak perlu lagi menjelaskan aturan-aturannya saya buat secara sepihak, karena anda lah yang harusnya mengikuti saya dan bukannya saya yang harus mengikuti kalian semua". Jelas makhluk yang mungkin masih ada hubungan darah dengan serigala itu
"Dalam pertemuan pertama di mata kuliah ekologi ini saya akan memperkenalkan asisten dosen saya, dia yang membantu kegiatan perkuliahan kita hari ini, saudara Mahendra silahkan masuk".
Mahendra pun memasuki ruang kuliah. Seketika itu wajah Adifa memucat, tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Tanpa sadar jari telunjuknya diarahkan ke sosok wajah Mahendra, sedangkan di sebelahnya, Aqila hanya mengerutkan kening. Ada ekspresi kaget ya segera dapat ia kendalikan.
__ADS_1
"Selamat pagi adik adik. Saya Mahendra. Mungkin adik-adik sudah banyak yang mengenal saya. Jadi nggak perlu banyak waktu untuk perkenalan. Saya dari jurusan biologi sudah lulus tahun lalu,"ucapnya saat mengawali perkenalan."Saya bukan orang yang mengetahui lebih banyak. Jadi saya juga masih perlu banyak belajar. Mohon jangan sungkan mengingatkan saya jika saya melakukan kesalahan". Mahendra mengakhiri perkenalan yaitu dengan seulas senyum di bibir.Sekilas ia melirik wajah Aqila melalui ekor matanya.
Aqila pun tersenyum mendengar kata-kata Mahendra yang terdengar begitu bijaksana dan cool. Tak seperti suara monster bergelar profesor yang tengah berdiri di samping Mahendra saat itu.