
"Aqila, gimana cara kencan lo sama Mahendra malam minggu kemarin ? sukses,kan ?" berondong Adifa Yang benar-benar Tak sabar mendengar kisah sahabatnya, langsung dari Aqila. "apa Mahendra nembak lo ?"
"adifa, kita tuh cuma makan malam biasa, please lah, jangan melebih-lebihkan, apalagi pakai menyebutnya sebagai kencan segala !" sahut Aqila gemas.
"oke oke, sekarang gue ralat pertanyaan gue, gimana acara 'makan malam biasa'Lo dengan Mahendra?"
"Nah,itu baru benar."Apa bedanya dua orang cowok dan cewek janjian makan malam di malam minggu, batin Aqila.
"Biasa aja kok, kita cuma ngobrol-ngobrol kayak biasanya,"Sambung Aqila
"jadi... Nggak ada acara tembak-menembak?"pekik adifa tak percaya.Ada nada lega yang terdengar.
"Lo pikir kita lagi di medan perang apah ? pakai acara tembak-menembak segala ? "
"Ah,elo, Aqila.... Acara menyatakan cinta maksud gue."
"nggak, Adifa, Kita cuman ngobrol kayak biasanya,"
"Lo ini kenapa sih ? emang Apa kurangnya Mahendra ? jelas-jelas Dia cinta mati sama lo.Eh, lo nya malah cuek gini,"ujar adifa setengah bergumam.Sebenarnya dadanya sesak mengutarakan.Adifa benar, Aqila nggak buta, dia juga nggak tuli, Aqila bisa menangkap sinyal cinta Mahendra yang begitu dalam untuknya, Tapi entah mengapa dia masih belum sanggup membuka hatinya untuk Mahendra.
"Kan udah gue bilang, gue menganggap Mahendra itu sebagai sahabat gue. dan kenapa lo terus-terusan jodoh-jodohin gue sama dia ?" Aqila menatap Adifa penuh kecurigaan.kedua matanya disipitkan mencari sinyal sinyal aneh yang mungkin dipancarkan oleh adifa melalui raut wajahnya.
"Atau jangan-jangan lo berkomplot sama Mahendra ya? istilahnya Mahendra nyuruh lo buat nyomblangin dia sama gue ? " tebak Aqila, masih dengan mata yang sengaja di sipit sipit kan.
Entah mengapa ada perasaan lega dalam diri Adifa.
"Bukan nyomblangin,tapi berusaha membuka mata hati lo bahwa ada seseorang yang benar-benar sayang sama lo." Ralatnya.
"Ya, sama aja kali, Difa."
"emang Mahendra kurangnya apa sih, Aqila? kejar adifa.
"Dia nggak kurang apa-apa He's so perfect,kan gue udah bilang kalo gue nggak mau mikirin tentang hal itu dulu, Ya udah deh gue harus pulang sekarang. Sampai besok ya." cepat-cepat Aqila beringsut meninggalkan sahabatnya itu.Hal yang selalu ia lakukan ketika Adifa membicarakan perihal perasaan.Selalu melarikan diri.
...----------------...
Sinar mentari membumbung tinggi siang itu.Membakar kulit kulit tanpa ampun hingga air air asin mengucur melalui pori-pori kecil makhluk penghuni bumi.Hal itu juga dirasakan oleh Aqila yang sedang mengarungi jalanan menuju rumahnya.
Pertanyaan dari adifa sebelum ia meninggalkan kampus tadi membekas di hatinya, hingga membuat konsentrasinya pada jalanan agak buyar.Ia mencoba berpikir keras, Mungkin Adifa benar, apa yang kurang dalam diri Mahendra ? wajahnya jauh dari kata biasa, apa lagi jelek. Baru lulus dari kampusnya dan sekarang melanjutkan S2 di salah satu perguruan tinggi favorit di ibukota.Jadi asdos juga.Apa lagi yang kurang ?
Mungkin kini ia harus mempertimbangkan kembali perkataan Adifa, dengan mencoba membuka hatinya pada Sosok Mahendra yang benar-benar tulus menyayanginya ?, sudah siapkah Ia dengan ide ini ? pertanyaan itu sontak membanjiri benak dan pikiran nya walaupun begitu hatinya tak bisa memilih. Seseorang telah lebih dahulu mendiami bilik hatinya, ataukah memang dasar Ia yang belum mau untuk membuka hatinya untuk orang lain ?
Konsentrasinya kini sudah melayang jauh, tidak sedikit pun berada di jalanan yang tengah dipadati oleh berbagai kendaraan itu.
Aqila kini terus melajukan motornya sampai entah darimana munculnya, tiba-tiba saja di depannya berdiri seorang cewek yang tengah berteriak keras.Aqilla sekuat tenaga mengendalikan motornya, kejadiannya terlalu cepat.Lalu terdengar suara sesuatu yang bertumbukan keras, Aqila merasakan tubuhnya melayang sejenak, kemudian ia jatuh tersungkur di atas aspal.
Semuanya menjadi gelap, dan Aqila tak ingin tau apa yang selanjutnya terjadi padanya.
Sedangkan cewek yang ia tabrak tadi kelihatannya lebih parah.Kucuran cairan merah kental berbau amis terus mengalir dari tubuh cewek itu.Keduanya sama-sama tak sadarkan diri.
...----------------...
Tiba-tiba terdengar suara ponsel adifa yang meraung-raung minta diangkat dari dalam tasnya.Sejenak Adifa mengernyitkan kening saat membaca nama yang tertera di layar ponselnya."Mas,Bagas ?.Tumben dia nelpon,"gumamnya sambil menekan tombol jawab."Halo,ada apa ,Mas ? kok tumben nelpon ? Nyari aqila ? tapi gue nggak lagi sama Aqila, Mas, dia udah pulang duluan tadi katanya sih buru-buru,"cerocos Adifa pada orang di seberang sana tanpa memberinya kesempatan bicara.
" Gue telepon lo bukan untuk nyari Aqila kok,Difa.Justru gue mau ngasih kabar...Kalo Aqila mengalami kecelakaan..."
"Apa,Mas ? Aqila kecelakaan ?!Adifa terbelalak kaget.Mahendra yang sedari tadi di sampingnya pun tak kalah kagetnya, degup jantungnya mulai berpacu kencang.
"Iya, Difa.Nah,gue kasih tahu lo karena gue pikir cuman lo satu-satunya teman dekatnya yang gue tau."
"Terus sekarang keadaan Aqila gimana ? Dirawat di rumah atau di Rumah sakit, mas ? "Adifa tak dapat menyembunyikan ada kekhawatiran nya sedikit pun.
__ADS_1
"Dia masih pingsan, Difa, dia dirawat di rumah sakit melati, dekat kampus sekalian kok."
"oke Mas gue segera ke sana." Klik.Adifa mengakhiri telponnya.
"serius lo, Difa, Aqila kecelakaan ?! gimana keadaannya sekarang gue mau ikut jenguk dia dong," cecar Mahendra. Raut wajah khawatir pun tak dapat ia sembunyikan lagi.
"Dia masih pingsan Mahendra,dan sekarang dia dirawat di rumah sakit melati."
"Gue tau tempatnya, Ayo cepat kita ke sana ! "Mahendra menarik tangan Adifa menuju tempat motornya di parkir.
Untuk pertama kalinya Mahendra menggandeng tangan Adifa , ada rasa bahagia yang menyembul dari hati adifa.
Duh, Adifa Apa sih yang lagi lo pikirin ? sahabat lo lagi terkapar lemah di rumah sakit masih aja lu sempet sempetin mikir yang aneh-aneh. gerutunya pada diri sendiri.
Tak sampai lima belas menit keduanya pun tiba di rumah sakit, Mahendra pun meloncat dari motornya dan berlari cepat menuju dalam rumah sakit.Adifa hanya bisa diam melihat pemandangan itu,pemandangan yang sering membuat deretan tulang rusuknya terasa nyeri.
Adifa mengerjap dan segera tersadar dengan pikiran-pikiran bodoh itu.Kondisi Aqilla lebih penting, pikirannya
"Mahendra... tunggu gue kenapa sih lo lari secepat itu !
teriak Adifa setengah berlari, mencoba menyamai derap langkah Mahendra.
Mahendra berhenti melangkah dan berbalik ke arah Adifa,
"Cepetan ! lelet banget sih lo kaya siput yang kakinya diikat aja !" gerutu Mahendra.
" Lo tuh yang terlalu cepat dan ninggalin gue !" Sahut Adifa tak mau kalah.
"Ya udah....Cepetan,bawel !"
Akhirnya berhasil juga Adifa menyamai langkah Mahendra yang memang sengaja di panjang-panjang kan.Keduanya pun melangkah beriringan memasuki rumah sakit menuju kamar rawat Aqila.
Tidak perlu waktu lama untuk menemukan kamar Aqila.Setelah sampai di depan pintu kamar, Adifa memutar engsel pintu kamar rumah sakit itu dan tersenyum ramah saat melihat dua orang sangat dikenalnya, Bagas, kakak Aqila, dan Tante Dina, bersama ibu Aqila.
Adifa menurut masuk beserta Mahendra yang mengekor di belakangnya.Hatinya pun lega saat melihat Aqila yang sudah siuman.
"Aqila enggak apa-apa kok, Dia baru aja sadar.Sorry kalau jadi buat kalian khawatir,"sambung Bagas.
"Mas Bagas? apaan sih berlebihan tahu enggak! sampai ngasih tahu mereka berdua.Gue kan nggak kenapa-kenapa cuma lecet lecet doang,"gerutunya sambil menunjuk beberapa luka kecil di keningnya yang kini diperban.
"lain kali lo harus lebih hati-hati lagi, qila nih sobat lo yang paling bawel sampai melotot kaget saat dengar lo kecelakaan,"timpal Mahendra ikut ikutan nimbrung.
"Lo kan yang merasa paling khawatir, Mahendra,"goda adifa sambil tersenyum jahil.
"apa-apaan sih lu,Difa!"Mahendra terlihat bersemu merah.
"Tuh kan wajah lu merah ? nggak usah salting lagi di depan keluarganya Aqila, mereka semua biasa aja kok." Adifa jadi punya kesempatan mengejek Mahendra.
Bagas dan Tante Dina ikut-ikutan tersenyum mendengar gurauan Adifa.Kini posisi Mahendra sudah skakmat tak dapat berkutik lagi.
...----------------...
"Mas, cewek yang gue tabrak gimana keadaannya, ?" tanya Aqila pada kakaknya saat hendak keluar dari kamarnya,luka Aqila memang tidak terlalu serius hanya lecet-lecet kecil di kening dan beberapa bagian di lengan tangannya.Jadi Ia tak perlu harus sampai menginap berhari-hari di rumah sakit.
"Dia dirawat di sini juga tuh kamarnya tepat di samping kamar lo,"jawab Bagas sambil mengayunkan jari telunjuknya ke arah samping.
"gue mau lihat keadaannya dulu, boleh ya Mas ?" pinta Aqila setengah merajuk
"boleh aja, Mau gue temenin ?"Bagas menawarkan dirinya untuk menemani Aqilla.
"nggak usah deh, Mas, biar gue sendiri aja."
__ADS_1
"Ya udah kalau gitu gue tunggu di depan ya."
Aqila hanya mengangguk.Ia pergi meninggalkan kakaknya menuju ke kamar sebelah.
perlahan-lahan,Aqila membuka pintu sebuah kamar Rumah sakit tepat di sebelah kiri tempatnya dirawat.Terdapat suara engsel pintu berdecit,saat pintu terbuka Aqila mendapati Ada sosok cewek sebayanya terbaring dengan mata terpejam di ranjang rumah sakit.Di samping ranjang itu Tengah duduk sosok wanita paruh baya seperti itu ibunya,wanita tua itu melemparkan tatapan nanar pada cewek yang tengah terbaring tak berdaya itu.Sepertinya Ia amat terpukul melihat keadaan itu.
"Maaf,Tante boleh saya masuk ?" tanya Aqila agak ragu
wanita paruh baya itu pun menoleh sekilas dengan kening yang berkerut penuh tanda tanya."Siapa ya ? Apa kamu teman Olive ?"
"Bukan tante,Saya Aqila. saya yang menabrak dia tante."jawab Aqila ragu, ada rasa takut yang menyergap dalam benaknya.Jelas saja keadaannya jauh lebih baik dari cewek yang kini terbujur kaku itu, sejumlah selang-selang medis melilit di beberapa bagian tubuh mungilnya itu.
Hening sejenak."saya ke sini mau minta maaf sekalian mau melihat keadaannya, Tante,"tambah Aqila,setelah memastikan bahwa Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut wanita itu.
"Iya,Nak Aqila.kakak kamu tadi juga sudah kemari dan juga sudah meminta maaf pada tante.Awalnya tante kurang terima dengan keadaan ini tapi melihat ketulusannya, tante yakin ini memang jalan yang digariskan oleh Tuhan,"sahut wanita itu sambil sesenggukan.
"sekali lagi saya minta maaf,Tante ini memang kesalahan saya karena kurang berhati-hati berkendara."
"Sudahlah, tidak ada gunanya kamu menyalahkan diri sendiri, semuanya kini sudah terjadi."
"Bagaimana keadaannya, tante?"
"Dokter bilang, Olive kekurangan banyak darah, sedangkan stok darah yang sama dengan golongan darah Olive sudah habis.Sekarang dokter sedang berusaha mencari cara untuk mendapatkan golongan darah yang sama dengan golongan darah Olive.Jika sampai besok dia tidak mendapatkan darah nyawanya akan terancam." wanita itu menjelaskan dengan terbata-bata, tangisnya pun pecah.
. "Emang golongan darahnya Olive apa Tante?" tanya Aqila agak ragu.Apakah pertanyaan ini bisa membantu.
"Golongan darah nya B," jawabnya singkat.
"kebetulan golongan darah saya juga B tante.Saya akan memberikan darah saya, membantu sebisa saya untuk Olive, Tante, karena saya sangat menyesal."
"Benarkah itu,Nak Aqilla ? Tante sangat berterima kasih sekali.Tapi Apakah keadaan kamu juga baik dan bisa mendonorkan darah ?"
"Baik kok, Tante,sekarang saya akan menemui dokter untuk menanyakan tapi bagaimana pun saya akan tetap berusaha sebisa saya, saya harus menemui kakak saya di depan terlebih dahulu kasihan dia dari tadi nunggu saya,"pinta Aqila.
"Baiklah nak Aqila, silakan saja,Tante bener-bener terima kasih sekali atas kemurahan hati nak Aqila."
Aqila menyunggingkan sebuah senyum tulusnya pada wanita itu dan berbalik untuk kemudian meninggalkannya.
...----------------...
"Mas Bagas !!!" pekik Aqila keras-keras setengah berlari menuju kakaknya yang tengah menunggunya di depan pintu depan rumah sakit.
"kemana aja sih lo ? lama banget ,"gerutu Bagas.
"Iya maaf deh. kayaknya kita harus menunda kepulangan kita deh,Mas."
Bagas mengerutkan keningnya,"Kenapa lagi apa lo merasa sakit ? bagian mana yang sakit, patah tulang ?"cecarnya dengan nada khawatir.
Aqila hanya tertawa geli mendengar berondongan pertanyaan dari kakaknya itu.
"nih anak malah cekikikan serius gue,monyong!"umpat Bagas.
"Don't worry be happy si sapi makan stroberi, kakakku tercinta." Aqila pun tergelak.
"Kenapa kita harus tinggal lebih lama di sini?"
Aqila pun menceritakan maksud baiknya itu pada Bagas,awalnya Bagas agak ragu dengan rencana itu karena kondisi Aqilah baru saja yang pulih.Tapi Aqila terus meyakinkan bahwa dia akan baik-baik saja.Sekantong darah yang keluar dari tubuhnya tidak akan membuatnya memburuk.
"kalau itu memang udah jadi keputusan lo gue bisa apa kalau udah ngadepin adik gue yang super duper keras kepala dan nggak bisa dibantah ini."
Aqila hanya bisa menyengir kuda, mendengar kakaknya berceloteh seperti itu, walaupun mereka masih suka berantem karena hal-hal sepele,tapi dalam hati mereka diam-diam sebenarnya saling mengagumi pribadi masing-masingnya.
__ADS_1
Don't worry be happy si sapi makan stroberi
~Aqilla 2020~