
"Eh,Mahen...kok elo gak cerita cerita sih kalo bakalan jadi asdosnya prof.Aretha ? Gimana ceritanya ?" Cecar Adifa saat mata kuliah prof.Aretha terakhir.Bagi Adifa, mendengar kabar Mahendra menjadi asdos prof.Aretha adalah sama halnya dengan mendengar kabar bahwa tetangga sebelah rumahnya sedang dirawat di rumah sakit karena baru saja melahirkan anak kembar Tujuh puluh.
"Emang gue harus bikin pengumuman di masjid kampus kalau gue bakal jadi asdos nya Prof. Aretha ?"jawab Mahendra asal.ia pun melirik Aqila. "Eh,qilla.Kita makan siang bareng yuk?'
"Gue mesti pulang cepet nih,"ujar Aqilla.Ada nada sesal yang dibuat buat dalam suaranya
"Yaaah...,"Mahendra mengeluarkan nada kecewa."Ya udah deh mungkin lain kali,qilla."
"Maaf banget ya,Mahen,tapi gue janji deh Lain kali pasti gue mau Lo ajak makan siang,"Sahut Aqilla masih dengan nada menyesal.
"Oke deh, qila,mau gue anterin pulang ?" tawar Mahendra,tanpa basa-basi.
"Nggak usah deh, Mahen,kan gw bawa motor sendiri."
"Yaudah deh, nggak maksa,"Mahendra memilih mengalah dan membiarkan Aqilla pulang sendiri,tidak mau mendapatkan nilai minus bagi proses pendekatannya ini.Ia ngga mau usahakan Selama ini akan tersia-siakan.
Aqila pun tersenyum dan langsung pergi meninggalkan Mahendra dan adifa yang masih sibuk dengan pikirannya.
"Mahen, makan siangnya sama gue aja. Kebetulan juga gue lagi laper banget nih. Dan gue juga nggak buru-buru pulang kok, jadi traktirin gue ya,"tiba-tiba Adifayang sedari tadi sibuk dengan pikirannya tentang kabar mencengangkan atas terpilihnya Mahendra sebagai asdos Prof.Aretha segera menyahut.
"O-gah!"ucap Mahendra dengan penekanan yang begitu kuat pada setiap suku katanya,kemudian menyusul Aqila yang sudah hampir sampai di pintu ruang kuliah itu.
Adifa hanya bisa melongo saat Mahendra mengucapkan satu kata itu.andai saja di ruangan kelas itu ada seekor lalat yang terbang di sekitar mulutnya dan memutuskan untuk mampir memasuki celah itu, ia pasti kini sudah tersedak. Ia
pun memutuskan segera keluar dari ruangan
Aqila melajukan motornya melewati gang-gang kecil menuju rumahnya. Namun di sebuah gang kecil yang ia lewati. Terdapat segerombolan manusia berkerumun di sana,tanpa ingin tahu ada kejadian apa yang membuat seluruh warga harus memadati Gang yang memang sempit itu, Aqila langsung memutar balik motornya. Ia ingin segera menikmati empuknya kasur di kamar tidurnya
Akhirnya, Aqila memilih untuk melewati sebuah jalanan sepi, hanya ada beberapa pengendara saja yang lewat, tiba-tiba ia merasa dibuntuti. Diliriknya spion motor melalui ekor matanya untuk melihat keadaan di belakangnya. Benar saja.melalui kaca spionnya Aqila melihat dua orang lelaki tak dikenal mengenakan jaket kulit. Kedua lelaki itu berambut gondrong mirip dengan preman-preman yang ada di pasar malam.
Aqila segera menambah kecepatan laju motornya. Gini jarum speedometer nya menunjukkan angka 80. Ini adalah rekor nyaman dari motor tercepat selama ini. Detak jantungnya berdegup kencang. Perasaan takut mulai merembet benaknya.saat laju motornya Kian cepat, motor yang tengah berada tepat di belakangnya pun mengikutinya dengan lihai dan lincah. Kembali degup jantung Aqila, seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.
Aqila berusaha memastikannya sekali lagi. Apakah motor yang melaju tepat dibelakangnya itu itu kini benar-benar membuntutinya. Ternyata benar sebab saat Aqila mengurangi kecepatan motornya,pengemudi motor yang berada di belakangnya pun turut mengurangi kecepatan laju motornya. Sepintas diliriknya motor itu melalui kaca spion nya.terlihat samar-samar pengemudi motor itu tersenyum licik bagai singa kelaparan.bagai telur yang tengah berada di ujung tanduk, Aqila memejamkan matanya sejenak, bentar lagi gue pasti ******, batinnya.
Ketika kelopak matanya terbuka, Aqila kaget luar biasa. Entah sejak kapan motor yang dari tadi berada di belakangnya, kini tepat berada di sampingnya dan hampir menyalipnya di depan, Aqila tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya,bola matanya tak hentinya mengikuti kemana stang motor itu diarahkannya, Ya. Tepat di hadapannya dengan posisi melintang.Dia hanya bisa menatap adegan demi adegan itu dalam semilir suara angin. Tidak ada siapa-siapa di sini. Berteriak pun akan terasa percuma. Pertama kali dalam hidupnya nya, dia menyerah dan pasrah.
__ADS_1
...****************...
Mahendra berjalan dengan langkah diseret dan raut muka lesu. usahanya sejauh ini masih tetap sama belum membuahkan hasil. ataukah tidak akan pernah membuahkan hasil ?
"semua ini lo lakuin karena Aqila, kan"suara lengkingan seorang cewek tanpa basa-basi sanggup menyadarkan Mahendra dari lamunannya. Mahendra hanya mengernyitkan kening, tak mengerti apa yang tengah dibicarakan adifa.
melihat raut muka Mahendra yang entah nggak ngerti beneran atau pura-pura enggak ngerti, cepat-cepat Adifa menambahkan penjelasannya,"ya. keputusan lo untuk menjadi asdos nya Prof. Aretha. untuk menjadi seorang asdos yang monster itu, pasti seluruh mahasiswa di sini akan berpikir seribu kali terlebih dahulu,dan sekarang kenapa tiba-tiba seorang Mahendra menggali kuburannya sendiri dengan menjadi asdos nya sang monster itu?"
suara Adifa terdengar bergetar. cepat-cepat ia berusaha mengendalikan diri. Ia, takut suaranya yang terdengar bergetar itu disadari oleh Mahendra. Ia tak mau Mahendra menyadari perasaannya. perasaan yang selama ini berhasil ia pendam dalam dalam. karena ia tahu, sekuat apapun ia berusaha mengejar Mahendra, hati Mahendra bukan untuknya. tapi untuk Aqila, sahabat yang selama ini mewarnai kehidupannya, ia tak pernah menyesal memiliki perasaan ini, asal Mahendra tetap berada di sekitarnya, itu sudah lebih dari cukup, dan ia akan lega jika Mahendra bersama Aqila. karena adifa benar-benar tahu Aqila adalah orang yang paling pantas memiliki Mahendra.
...****************...
Mahendra melajukan motornya dengan gesit menyusuri tiap jalanan ibukota yang makin hari makin dipadati.sebelum pulang ke rumahnya ia berniat untuk mampir ke rumah tante nya untuk memberikan titipan dari mamanya tadi pagi. entah apa ia tak begitu tertarik untuk mengetahuinya. karena jalanan begitu padat, Mahendra memutuskan untuk melewati Gang demi Gang kecil yang bebas macet.
Tiba-tiba Mahendra berhenti. ia tersentak kaget melihat pemandangan di depannya.ia merasakan aliran darahnya mengalir lebih keras, degup jantungnya mengalun lebih cepat. sosok itu sangat ia kenali, sosok itu dikerubungi dua singa lapar. Ya, Aqila berdiri membeku dikerumuni oleh dua preman, yang satu berambut gondrong, dan bertindik, mengenakan jaket kulit hitam tebal,satunya lagi berkepala botak dan mengenakan singlet hitam sehingga deretan tato terlihat memenuhi lengannya.
"hai nona manis. berani sekali lewat daerah sesepi ini sendirian?"kata si gondrong
aqila masih terlihat diam membisu, bibirnya masih terkatup rapat, Iya tampak sekali ketakutan.
Mahendra memberanikan dirinya walau tidak begitu yakin dengan kemampuan beladirinya. suaranya sedikit bergetar,tapi raut mukanya diatur sedemikian rupa agar rasa takutnya tidak terlalu kentara.
Aqila membuka matanya untuk memastikan ia tidak salah mengenali suara."Mahendra....."bisiknya lirih.
Mahendra melirik Aqila sekilas dan tersenyum tulus padanya kemudian pandangannya dialihkan pada kedua preman pasar itu dengan tatapan tajam
...****************...
suasana semakin menegang. kedua preman itu pun saling bertatapan. si gondrong yang disinyalir sebagai bosnya tersenyum licik, kemudian menggerakkan dagunya sebagai kode perintah untuk menyerang Mahendra.
"jangan banyak bacot lu bocah ingusan!"Si botak pun langsung menyambar Mahendra.
Mahendra yang sudah memasang kuda-kuda dari awal, dengan sigap berhasil menepis sebuah tinju yang diarahkan Si botak untuknya.
diraihnya tangan si botak yang masih melayang di udara karena tinjunya yang gagal, memutar nya, dan mengunci tangan si botak itu ke belakang.sebelah tangannya yang tak memegang tangan si botak itu ayunkan ke depan tubuh kekar preman itu, dan mendekapnya kuat-kuat lehernya Si botak hingga tak dapat berkutik.
__ADS_1
dari arah belakang Mahendra,si gondrong berjalan mendekati punggung Mahendra dan hendak melayangkan tinjunya. dengan sigap Aqila mengumpulkan seluruh keberaniannya yang sedari tadi tenggelam, mengayunkan kakinya, dan menendang si gondrong sebisa-bisanya.
si gondrong dengan sigap menarik tangan Reva memutar tubuhnya, dan menjadikan tawanan sama persis dengan yang dilakukan Mahendra pada Si botak.
"rupanya lo mau bermain-main sama gua ya, nona manis?" dosisnya tanpa memerlukan jawaban.
"lepaskan!"terdengar suara Reva yang memetik dan terisak. buliran air mata yang sedari tadi ditahan nyak ini mengalir sudah.
"Aqila!"pekik Mahendra setengah berteriak.
seketika itu tatapan mata Mahendra menangkap balok kayu di tepi jalan.segera diraihnya balok itu dan setengah beralih ke arah si gondrong yang kini menjadikan Aqila sebagai diayunkan nya balok itu ke punggung si gondrong bertubi-tubi.
sambil memegangi punggungnya si gondrong menjauh dan melepaskan Aqila. pandangan Mahendra beralih ke arah Aqila yang kini masih segera diraihnya lengan Aqila dan ditariknya tubuh Aqila. merapat ke tubuhnya. didekapnya rata-rata tubuh Aqila, berusaha mengalirkan perasaan damai untuk gadis itu, diusapnya rambut Aqila dengan lembut.
"Lo nggak papa kan,aqila",? nggak terluka sedikitpun kan"tanya Mahendra dengan nada yang sarat dengan kekhawatiran.
Aqila menyebalkan poni yang menutupi wajahnya. dan ketika tangannya mendarat di lehernya. Ia merasa seakan-akan ada sesuatu yang hilang deringnya. Aqila terkisiap dan bangkit melepaskan dekapan Mahendra.
"kenapa Aqila?"Mahendra mengerutkan kening, tak mengerti dengan perubahan sikap Aqila.
Aqila terus meraba-raba lehernya dengan raut wajah gelisah.
"liontin....."desis Aqila lirih sambil terus mencari-cari di sekitar jalanan itu."jangan jangan terbawa oleh preman preman itu,"gumamnya pada dirinya sendiri,
Tiba-tiba Mahendra menemukan kilauan cahaya matahari yang terpantul dari sebuah benda perak. segera diraihnya benda itu
"Aqila, apa ini benda yang lo cari?"teriak Mahendra sambil menggantungkan benda yang baru saja ditemukannya diantara kepalan jemarinya yang terayun di samping wajahnya.
Aqila pun berjingkrak-jingkrak kegirangan saat melihat benda yang kini tengah berada di tangan Mahendra.segera dihampirinya Mahendra yang tengah mematung melongo saat melihat reaksi Aqila barusan.
"makasih ya, Mahendra, lo pahlawan gue hari ini",
"pasti orang yang ngasih liontin ini adalah orang yang begitu spesial"
Aqila hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Mahendra barusan. sebuah senyuman yang tidak dapat dipahami maknanya.
__ADS_1
...----------------...