Sahabatmu Yang Tulus

Sahabatmu Yang Tulus
BAB 4 : kabut tebal dan hati yang terkunci


__ADS_3

"ADIFAAAAAA" teriak Mahendra antusias.yang disebut namanya hanya bisa bingung menatap Mahendra yang begitu bersemangat.


"Lo sudah minum obat pagi tadi ? Gue juga gak tuli tau ! Ngapain mesti teriak teriak ? Malu tuh diliatin sama Mahasiswa lain nya."


"Sebodoh amat sama anak-anak mahasiswa.yang penting hari ini gue seneeeeeeng Buanget" Mata Mahendra menyorotkan binar bahagia


"Emang apa sih yang bikin Lo bahagia kek gini ? atau kucing Lo dirumah beranak lagi ? atau Lo dapat kabar akan jadi miliader Karena habis menang lotre ?"Jawab Adifa Asal


"Ah,elo.Ini kabar lebih membahagiakan daripada anak kucing gue beranak atau menang lotre !"


Adifa mengernyit kan keningnya masih juga belum ngeh dengan maksud Mahendra. " Terus ?" Tanyanya menunggu lanjutan cerita dari Mahendra.


"Aqilla...Adifa...., Aqilla mau gue ajak dinner malam Minggu besok" jawab Mahendra sambil jingkrak-jingkrak.Seluruh mahasiswa yang melihatnya aksinya menatap penuh ke anehan.


Sejenak Adifa merasa jantungnya berhenti berdetak,sepertinya ada benda keras yang menghantam bagian dadanya bertubi-tubi. Iamerasa ngilu. harusnya dia tahu,alasan kebahagiaan Mahendra nggak akan pernah jauh-jauh dari Aqilla.


"Eh,Difa, kira-kira kalau gue nembak Aqila di hari itu gimana? Apa itu momennya yang tepat?"lanjut Mahendra masih dengan nada antusiasnya yang tak kunjung surut.


Adifa hanya mengangkat bahu. lidahnya semakin kelu, tenggorokannya tercekat, seperti ada benda asing yang berusaha mencekiknya. Ia ingin mundur dan berlari dari hadapan cowok itu. cowok yang telah meniupkan badai di hatinya hingga porak poranda.Ia berusaha membendung air matanya sekuat tenaga sebisa mungkin.


"Menurut Lo,Difa ada perasaan ngga sih sama gue ?"


Adifa tak tahu harus berkata apa.Ia berharap ada hembusan badai yang akan meniupnya menjauhi cowok yang tak pernah henti-hentinya mengajukan pertanyaan yang dapat mencabik-cabik hatinya.Adifa pun mengangkat bahunya lagi sebagai jawabannya.


"Nih anak dari tadi cuman ngangkat bahu doang,"


"Ya,karena gue juga nggak tau.Kan harusnya Lo yang tau,selama Lo melakukan pendekatan ke dia responsnya gimana ? Kalo responsnya Positif,pasti Lo akan diterima kalo Lo nembak dia di acara dinner Lo itu."susunan kata itu dibuatnya sedatar mungkin agar Mahendra nggak akan pernah menangkap dan nada getir di suaranya.


"Iya,juga sih , gue juga nggak terlalu yakin. gue merasa kalau dia menutup diri dari semua cowok.dia juga nggak pernah nunjukin tanda-tanda bahwa dia merespon positif perasaan gue,"sahut Mahendra sambil manggut-manggut.

__ADS_1


"Ya kalau gitu moment dinner lo besok bukanlah , waktu yang tepat yakini dulu dia. Jadi lo harus lebih berusaha lagi buat PDKT sama dia"


"long bread lo ngerasa nggak sih Difa,kalu Aqila itu selama ini selalu menutup diri sama cowok. gua yakin,selain gue pasti ada lusinan cowok yang juga melakukan pendekatan sama dia karena lo tahu lah dia cantik, cerdas, ramah lagi,"


"lusinan,? lo kira piring apa!"cibir Adifa,"ya mungkin aja belum ada yang nyantol sama dia"lanjutnya


"selama lu sahabatan sama Aqila, pernah enggak dia bahas cowok? walaupun cuma sekali aja?"


Adifa terlihat berpikir keras mencoba mengingat mengingat momen curhat-curhatan nya bersama Aqila. sedetik dua detik tiga detik. tak kunjung Ia temukan.


"nggak pernah, Mahendra.kalau kita lagi curhat-curhatan paling dia curhat tentang kakaknya yang suka jahil sama dia. anjing tetangganya yang suka menggonggong saat dia lewat. terus sama masalah-masalah kampus, nggak pernah sekalipun dia bahas soal cowok, bilang ketemu sama cowok ganteng nggak pernah,"


"udah gue juga ada kabut tebal yang menyelimuti hatinya. dia kayak mengunci rapat hatinya nggak ngasih kesempatan pada seorang pun untuk menghapus kabut itu,"sahut Mahendra setengah bergumam lebih pada diri sendiri


...****************...


proses perkuliahan hampir usai. kali ini bukan mata kuliahnya prof.Aretha, melainkan Mata kuliahnya pak botak, dosen biokimia, suasana kelas hening, sebagian mahasiswa ada yang serius mendengarkan, ada yang mencatat, bahkan ada yang melamun ria.


"bukan kencan kok, cuman dia ngajakin makan malam biasa,"jawab akila sambil terus mencatat


"sama aja judulnya kan kalian keluar berdua. pas malam minggu lagi"


"terserah lo deh nganggepnya apa, tapi yang jelas....gue anggap cuman makan malam biasa"sahut Aqila memandang Adifa sejenak,dan menyimpulkan senyum sebelum kembali memfokuskan diri pada buku yang ada di depannya.


Baru saja Adifa akan membuka mulutnya untuk menimpali ucapan Aqila, tapi suara pak botak terdengar nyaring."Baiklah


saudara. jam kuliah kali ini sudah usai.tolong kalian pelajari kembali bab yang saya ajarkan hari ini. karena saya kurang puas dengan hasil kuis minggu lalu. minggu depan kita adakan kuis lagi jadi, tolong pahami betul materinya."


seisi kelas hanya mengiyakan meski dalam hati mereka menganggap bahwa mata kuliah biokimia adalah momok yang menakutkan. derajat keseraman soal-soal kuisnya ngalah-ngalahin setan penghuni pohon trembesi.menurutnya menghafal nama-nama ikatan asam Itu sama aja mempercepat waktu menuju akhirat.

__ADS_1


"lu masih belum nyadar juga dengan kata-kata gue kemarin?"tembak adifa tiba-tiba setelah kelas mulai sepi


Terlihat Aqila mengernyitkan keningnya."tentang?"


"Hmmmm... lo ini pura-pura lupa apa memang benar-benar lupa sih?"


"serius gue nggak paham maksud lo"


"tentang Mahendra yang cinta sama lo"


Aqila terlihat berpikir beberapa. Ia teringat percakapannya dengan Adifa di kamarnya kemarin sore."Oh, yang itu."


"terus?"


"Terus apaan?"


"Aduh, Aqila. ya gimana respon lu? lu suka juga nggak sama dia?Ah, bukan, lebih tepatnya lu cinta nggak sama dia?"tanya adifa gemas.


"gue cuma nganggep Mahendra teman kok. nggak lebih".


"gue mau tanya sesuatu deh, Aqila, ke elo, selama ini ada nggak sih cowok yang taksir gitu? ya mungkin diam-diam lo naksir gitu.selama kita sahabatan enggak pernah tuh lu cerita-cerita tentang cowok. atau jangan-jangan lu ini lesbian ya?"Serang adifa penuh curiga sambil sengaja menyipit menyipitkan matanya


"sembarangan aja kalau ngomong! gue masih normal dodol"gerutu Aqila, yang merasa sangat tidak nyaman dengan tatapan adifa.


"Terus kenapa lo enggak juga nyari cowok?"desak Adifa lagi


rahang Aqila mengeras. Ia sudah menduganya, suatu saat nanti Adifa akan menanyakan hal ini. mereka memang sahabatan tapi nggak semuanya tentangnya adifa harus tahu. Termasuk permasalahan yang sensitif ini tentang cowok.


Aqila hanya mengangkat bahunya dan bangkit dari tempat duduknya."sorry,Difa gue harus pulang mau diajak nyokap nengok saudara yang sakit,"cepat-cepat ia melangkahkan kaki.berusaha kabur dari cecaran pertanyaan adifa yang benar-benar enggak ingin Ia jawab, entah,alasan nengok saudara sakit itu berhasil atau tidak yang penting ia ingin kabur kabur jauh dari cecaran pertanyaan adifa sekarang juga.

__ADS_1


"Lo benar, Mahendra, ada kabut tebal yang menutupi hati Aqila. dan hatinya telah dikunci rapat rapat.tak ada seorangpun yang diizinkan untuk sekedar mengintipnya apalagi dimasuki,"bisik adifa lirih, menatap kepergian Aqila dengan langkah yang dibuat selebar mungkin.


__ADS_2