
Matahari senja terlihat menggantung dalam damai di ufuk Barat. warna semburat jingga memecah arak-arakan awan.waktu tetap diam pada tempatnya menanti berjuta bintang dan seberkas sinar rembulan, yang akan menggantikan kalah gelap meluruh di seluruh di belahan dunia.
Aqilla masih saja menatap lurus ke langit.Berdiri memantung di balkon rumahnya.mendekap
erat benda yang paling berharga yang ia punya dan tadi sempat hilang. terus Ia dekap di depan dadanya. Ia terus saja berpetualang menembus dimensi imajiner yang ia ciptakan sejak berdiri mematung di tepi balkon. kembali dalam bayangan masa lalunya.
",Aqilla, bukain dong pintunya,? terdengar suara yang begitu ia kenal menggedor-gedor pintu kamarnya tanpa ampun.Aqila memandang pintunya yang masih tertutup mengernyitkan keningnya sejenak lalu melangkah menuju pintu untuk membukanya.
"adifa, tumben banget lo ke sini? masuk gih"ujar Aqila setelah pintu terbuka.
tanpa komando dua kali.Adifa egera masuk ke kamar Aqila yang tertata rapi itu, duduk di kasur empuk tanpa perlu dipersilakan oleh si empunya kamar. Dan Adifa pun turut mengempaskan tubuhnya disamping Aqilla.
Tiba-tiba Aqilla mengernyitkan keningnya. adifa jadi heran kenapa sahabatnya menghujaninya dengan tatapan aneh.Adifa pun mengikuti arah tatapan Aqila yang the rambat di sebuah benda yang menggantung di lehernya. liontin perak itu.
"sejak kapan lo pakai kalung liontin? kok gue nggak pernah tahu?"tanyanya asal dan meraih bandul liontin berbentuk hati itu. tertulis jelas sebuah inisial nama A&M dan sempat terbaca oleh adifa.
"udah lama kok, lo aja yang enggak sadar".
"Ooh... bagus liontinnya",Gumam Adifa asal.
Aqila bisa bernafas lega karena Adifa nggak tanya ini itu perihal liontin itu.Adifa juga nggak menyadari raut wajahnya yang berubah memucat."Eh, ngomong-ngomong Ada apa nih lo ke sini?,"cepat-cepat Aqila mengubah arah pembicaraan
"emang gue nggak boleh berkunjung ke rumah lo?"
"ya boleh banget lah adifa ,ya paling nggak kan pasti ada sesuatu yang bikin lo tergerak untuk datang ke sini,"
"lagi bosan aja sih di rumah. enggak ada temannya lo sendiri kan tahu kalau gue anak tunggal. lo si enak punya kakak".
"punya kakak nggak punya kakak sama aja. orang mas Rio jarang di rumah, sibuk tuh sama kerjaannya apalagi dia kan mau nikah juga,"
adifa hanya bergumam tidak jelas menanggapinya.
"Eh,Aqilla, lu tahu nggak? kayaknya ada yang gak beres nih sama keputusan Mahendra buat jadi asdos nya Prof. Aretha". raut wajah Adifa serius mungkin.
__ADS_1
"aneh gimana"Aqila bertanya dengan nada cuek.
"helloooo.... Lo ini ke mana saja sih, Aqila? lu ini benar-benar enggak tahu atau cuma pura-pura nggak tahu?"sahut adifa gemas.
"tahu apa?"tanya Aqila dengan wajah polos.
"ni anak kayaknya benar-benar **** atau apa sih? orang buta plus tulis aja bakalan tahu kalau Mahendra itu suka sama lo.MAHENDRA SUKA SAMA LO !"pengulangan kata kata itu terdengar bergetar di bibir Adifa.Adifa harap Aqila tak menyadarinya. entah mendapatkan kekuatan dari mana hingga adifa dapat menyebutkan kalimat itu.
"gue juga suka kok, adifa, sama dia. Dia baik banget."
"Aqila bukan suka itu maksud gue, oke, mungkin kata suka kurang tepat buat lo. Mahendra itu cinta sama lo. apa lo nggak pernah sadar? atau pura-pura enggak sadar sih?"lagi-lagi suara yang terdengar bergetar.adifa merutuki dirinya sendiri yang tak pernah sanggup melawan gejolak didalam dada nya.
Teggorokan Aqilla tercekat mendengar penuturan Adifa . selama ini Mahendra memang sangat baik padanya,tapi ia tak pernah berpikir bahwa Mahendra sampai menaruh hati padanya.
"omong kosong apa lagi sih ini? Terus apa juga hubungannya sama jadi asdos nya Prof. Aretha?"
"ini bukan omong kosong, Aqila,ini nyata sekarang buat apa lagi Mahendra menjadi asdos nya Prof.Aretha kalau enggak supaya bisa deket sama lo? lihat aja dia udah lulus Aqila dari tahun lalu. gue jadi agak curiga waktu lihat dia masih berseliweran di kampus.dan terjawab sudah kecurigaanku waktu sang monster itu memperkenalkan Mahendra menjadi asdos nya?
Adifa masih dengan rasa nyeri yang menghantam dadanya serta rasa penasaran pada sahabat yang kini tengah duduk di sampingnya.sahabatnya yang tak juga bisa membalas perasaan orang yang mendiaminya hatinya diam-diam. Mahendra.
......................
Aqila tengah duduk terbengong-bengong di taman kampusnya. Mahendra mengerutkan keningnya memastikan orang yang dilihatnya benar-benar Aqila. setelah yakin benar, Mahendra dengan sigap melangkahkan kakinya menghampiri Aqila.
"hai Aqila bengong aja. Ada yang lagi di pikiran ya?"tanpa dikomando lagi,Mahendra menghempaskan tubuhnya dan duduk di bangku tepat di sebelah Aqila.
Aqila terbangun dari lamunannya dan tersenyum simpul pada Mahendra."Eh,Lo, Mahendra ngagetin aja"
"sorry deh. udah ganggu acara melamun lo yang sepertinya menyenangkan itu".
Aqila tersenyum kecut.andai Mahendra tahu bahwa apa yang ada di dalam lamunan yakini adalah sesuatu yang menyesakkan dadanya selama ini. pasti Mahendra akan segera menyesal dengan ucapan'acara melamun Yang sepertinya menyenangkan'.
setelah memastikan bahwa kunjungan ada jawaban dari Aqila, segera mungkin Mahendra menambahkan
__ADS_1
"Lu beneran nggak apa-apa karena Aqilla,? tentang kemarin siang maksud gue."
"seperti yang lo lihat sendiri kan, Mahendra, gue benar-benar enggak apa-apa kok."
"yakin??"
"gue nggak pernah saya yakin ini lagi"ucapnya mantap.
"eh gue makasih banget lo.gue nggak tahu nasib gue gimana seandainya lo nggak datang nyelametin gue kemarin,"sambungnya tulus.
"wait.... nggak ada makan siang yang gratis, non,"lanjut Mahendra sambil tersenyum licik yang sengaja dibuat buat.
"maksud lo?"
"gue mau lu ngelakuin sesuatu buat gue"
"asal nggak aneh-aneh aja"
"gue cuman mau lo bersedia gue ajak makan malam. malam minggu besok gimana? enggak aneh Kan permintaan gue?
Aqila hanya bisa menatap Mahendra tak percaya, bibirnya setengah terbuka. Mahendra merasa lucu menyaksikan ekspresi langka yang mencuat di wajah Aqila."gimana Aqila mau nggak?"ulang Mahendra
"jadi syarat berterima kasih ke lo cuman bersedia lo ajak makan malam"bisiknya setengah bergumam.
Mahendra mengangguk mantap, lalu menyunggingkan seulas senyum tulus untuk Aqila.
"oke gue tunggu lo di rumah gue Sabtu, malam minggu setelahnya Mau makan di mana terserah lo,"jawab Aqila singkat.
"Yaahhh.... malah bengong lagi nih hallooo.... gimana setuju nggak jemput gue dulu ke rumah? atau gue langsung ke tempat yang udah lo rencanain?"Twitter Aqila sambil mengibas-ngibaskan telapak tangannya di depan muka Mahendra.
Mahendra mengerjap,sadar kalau sudah terlalu lama ia terbang menembus dunia imajiner karena syok mendengar jawaban Aqila."Ngga, Aqila gue akan jemput lo malam minggu nanti jam tujuh malam tepat.No lelet.No molor,"jawab Mahendra dengan penuh antusias.
"oke gue tunggu lo di rumah." Aqila tersenyum tulus
__ADS_1