Salah Sangka

Salah Sangka
ANJING MALAM


__ADS_3

CERITA yang lalu gue pernah menceritakan jalan-jalan waktu puasa dan bertemu dalbo. Mungkin


dapat lo baca di halaman selanjutnya. Ini juga


bercerita tentang jalan-jalan. Namun, bedanya ini


beneran malam ( di serial dalbo pagi ), dan bertemu


dengan makhluk kasar alias bukan setan.


Setiap bulan Ramadhan gue selalu


mengadakan acara kumpul bareng di salah satu


rumah temen. Acara itu kita namai bukber dan


saber. Karena hari itu kami melaksanakan buka


bersama dan lanjut sahur bersama. Jadi, kita nginap


di sana. Sebenarnya ini adalah kumpul grup kami


Bisa dibilang 4 serangkai. Karena beranggotakan 4


orang sahabat yang labil.


Waktu itu hari ke - 8 bulan Ramadhan tahun



Rencana awal kumpul diadakan pukul 17.00.


Berhubung gue masih ngaji di salah satu pondok


dekat rumah, gue terlambat setengah jam. Tapi gue


bersyukur. Keterlambatan itu menjadi berkah, karena


baru nyampai gue langsung bisa nyantap makanan.


Masih hangat pula.


‘Gimana besok jalan-jalan ya ?’ kata Abi


temen gue sambil ngambil nasi dan sepotong ikan.


‘Ndri ?’ tanya gue.


‘Iya’


‘Bisa bangun gak pagi-pagi, haha’ tanya


gue.


‘Gini aja bro, jam 9 atau 10 malam ini aja kita


jalan-jalan’ kata Sandi nyela.


‘Maksud lo nanti malam ?’ tanya gue ragu.

__ADS_1


‘Iyalah’


‘Berani gak lo ?’ tanya Abi menatap Sandi



‘Ya berani lah’ jawab Sandi mantab.


‘Lo aja suka takut, mau diajak jalan-jalan


malam, kejang-kejang di jalan gak tanggung jawab


gue.’ sambut Andri.


‘Hahaha’ gue hanya tertawa melihat kutukutu ini berdialog.


@


Akhirnya dengan segala pertimbangan dan


antisipasi risiko yang akan terjadi. Jalan-jalan malam


dilaksanakan. Dengan pakaian lengkap di hiasai


sarung. Gue, Abi, Andri, dan si kunyuk Sandi siap


untuk ekspedisi malam. Pada mulanya kami ingin


membawa ponsel untuk merekam kejadian mistis


yang ada, tapi diurungkan. takutnya si sandi


Setelah keluar dari rumah Abi, kami berjalan


melewati kuburan. memang rumah Abi dekat


dengan kuburan. Jaraknya tak lebih dari 20 meter.


Jadi, dari lantai dua rumah Abi sudah kelihatan.


‘Rif, hati-hati loh ada putih-putih’ kata Sandi


menakuti.


Karena gue ada di tengah, jadi tak terlalu


takut. Namun, si Andri coba iseng menggoda Sandi,


yang sebenernya paling takut di kelompok kami.


‘San, denger-denger ya, kalau ada orang


yang menakut-nakuti bakal ditakuti duluan’


‘Yang bener lo?’ kata Sandi panik.


‘Iya, gue baca di majalah prambon’


ucapnya sambil ngelirik gue tanda bohong.

__ADS_1


Gue lihat Sandi mulai agak menengah dan


agak terlihat pucat. Gue rasa anak ini sudah


merasakan kata-katanya sendiri. Menakuti tapi


ketakutan sendiri. Dasar kunyuk.


Gang kecil setelah kuburan menjadi jalan


selanjutnya yang kita lalui, suasana cukup sepi dan


hening. Hanya suara sungai yang menjadi peramai


suasana.


‘Ini gak salah lewat sini?’ tanya gue.


‘Gak, ini jalan tercepat’ kata Abi.


‘San.. hati-hati’ kata Andri.


‘Cukup.. Atau gue lari nih ?’ kata Sandi


memecah suasana.


Sudah jalan 10 menit belum kunjung


menemui jalan keluar. Dengan segenap usaha dan


muter gang akhirnya ketemu gang yang lebih besar.


Kali ini kita berada di jalan besar. Ramai lalu lintas


membuat suasana mencekam hilang. Sandi yang


tadinya pucat ketakutan, kini kembali keasalnya.


Hitam dengan alis keatas kayak ngajak berantem.


‘Lanjut kamana Bi? tanya Sandi.


‘Kita lurus aja, nanti setelah pertigaan sana,


kita belok kekanan, lurus terus ada gang kecil. Nah,


kita nanti masuk kesitu’ kata Abi sambil nunjuk


pertigaan yang jaraknya agak jauh itu.


‘Gang gelap jalan ke rumah Mbak Ica kakak


kelas kita itu ?’ tanya Andri.


‘Betul’ jawab Abi. Gue hanya manut apa


yang diinginkan mereka. Soalnya gue gak tahu jalan


dan tempat di desa Abi.

__ADS_1


__ADS_2