
CERITA yang lalu gue pernah menceritakan jalan-jalan waktu puasa dan bertemu dalbo. Mungkin
dapat lo baca di halaman selanjutnya. Ini juga
bercerita tentang jalan-jalan. Namun, bedanya ini
beneran malam ( di serial dalbo pagi ), dan bertemu
dengan makhluk kasar alias bukan setan.
Setiap bulan Ramadhan gue selalu
mengadakan acara kumpul bareng di salah satu
rumah temen. Acara itu kita namai bukber dan
saber. Karena hari itu kami melaksanakan buka
bersama dan lanjut sahur bersama. Jadi, kita nginap
di sana. Sebenarnya ini adalah kumpul grup kami
Bisa dibilang 4 serangkai. Karena beranggotakan 4
orang sahabat yang labil.
Waktu itu hari ke - 8 bulan Ramadhan tahun
Rencana awal kumpul diadakan pukul 17.00.
Berhubung gue masih ngaji di salah satu pondok
dekat rumah, gue terlambat setengah jam. Tapi gue
bersyukur. Keterlambatan itu menjadi berkah, karena
baru nyampai gue langsung bisa nyantap makanan.
Masih hangat pula.
‘Gimana besok jalan-jalan ya ?’ kata Abi
temen gue sambil ngambil nasi dan sepotong ikan.
‘Ndri ?’ tanya gue.
‘Iya’
‘Bisa bangun gak pagi-pagi, haha’ tanya
gue.
‘Gini aja bro, jam 9 atau 10 malam ini aja kita
jalan-jalan’ kata Sandi nyela.
‘Maksud lo nanti malam ?’ tanya gue ragu.
__ADS_1
‘Iyalah’
‘Berani gak lo ?’ tanya Abi menatap Sandi
‘Ya berani lah’ jawab Sandi mantab.
‘Lo aja suka takut, mau diajak jalan-jalan
malam, kejang-kejang di jalan gak tanggung jawab
gue.’ sambut Andri.
‘Hahaha’ gue hanya tertawa melihat kutukutu ini berdialog.
@
Akhirnya dengan segala pertimbangan dan
antisipasi risiko yang akan terjadi. Jalan-jalan malam
dilaksanakan. Dengan pakaian lengkap di hiasai
sarung. Gue, Abi, Andri, dan si kunyuk Sandi siap
untuk ekspedisi malam. Pada mulanya kami ingin
membawa ponsel untuk merekam kejadian mistis
yang ada, tapi diurungkan. takutnya si sandi
Setelah keluar dari rumah Abi, kami berjalan
melewati kuburan. memang rumah Abi dekat
dengan kuburan. Jaraknya tak lebih dari 20 meter.
Jadi, dari lantai dua rumah Abi sudah kelihatan.
‘Rif, hati-hati loh ada putih-putih’ kata Sandi
menakuti.
Karena gue ada di tengah, jadi tak terlalu
takut. Namun, si Andri coba iseng menggoda Sandi,
yang sebenernya paling takut di kelompok kami.
‘San, denger-denger ya, kalau ada orang
yang menakut-nakuti bakal ditakuti duluan’
‘Yang bener lo?’ kata Sandi panik.
‘Iya, gue baca di majalah prambon’
ucapnya sambil ngelirik gue tanda bohong.
__ADS_1
Gue lihat Sandi mulai agak menengah dan
agak terlihat pucat. Gue rasa anak ini sudah
merasakan kata-katanya sendiri. Menakuti tapi
ketakutan sendiri. Dasar kunyuk.
Gang kecil setelah kuburan menjadi jalan
selanjutnya yang kita lalui, suasana cukup sepi dan
hening. Hanya suara sungai yang menjadi peramai
suasana.
‘Ini gak salah lewat sini?’ tanya gue.
‘Gak, ini jalan tercepat’ kata Abi.
‘San.. hati-hati’ kata Andri.
‘Cukup.. Atau gue lari nih ?’ kata Sandi
memecah suasana.
Sudah jalan 10 menit belum kunjung
menemui jalan keluar. Dengan segenap usaha dan
muter gang akhirnya ketemu gang yang lebih besar.
Kali ini kita berada di jalan besar. Ramai lalu lintas
membuat suasana mencekam hilang. Sandi yang
tadinya pucat ketakutan, kini kembali keasalnya.
Hitam dengan alis keatas kayak ngajak berantem.
‘Lanjut kamana Bi? tanya Sandi.
‘Kita lurus aja, nanti setelah pertigaan sana,
kita belok kekanan, lurus terus ada gang kecil. Nah,
kita nanti masuk kesitu’ kata Abi sambil nunjuk
pertigaan yang jaraknya agak jauh itu.
‘Gang gelap jalan ke rumah Mbak Ica kakak
kelas kita itu ?’ tanya Andri.
‘Betul’ jawab Abi. Gue hanya manut apa
yang diinginkan mereka. Soalnya gue gak tahu jalan
dan tempat di desa Abi.
__ADS_1