Salah Sangka

Salah Sangka
#2 ANJING MALAM


__ADS_3

Setelah sampai di depan gang yang dituju.


Gue melihat gang itu sangat gelap, walaupun di


hiasi beberapa tiang lampu, tapi 2 lampu 5 watt tak


cukup terang untuk gang ini. Langkah hati-hati dan


was-was tingkat tinggi kami gunakan.


‘Guk-guk’ gue dengar suara anjing yang


terlihat marah akan kehadiran kita. Sandi sebagai


pawang anjing tak takut dengan gonggongan itu.


Yah jelas aja, selain memiliki anjing di rumah. Wajah


Sandi kayak bull dog ( sejenis anjing dengan muka


garang ). Mungkin anjing tadi kalau melihat Sandi


kayak melihat saudara jauhnya.


‘Tenang, gue atasi’ gayanya sok cool.


‘Hati-hati San’ kata Andri kawatir.


Selang beberapa saat, anjing itu diam dan


terlihat jinak di depan Sandi. Mungkin dugaan gue


yang tadi ada benarnya.


‘Udah-udah jinak kok, sini Rif takut amat’ seru


Sandi.


‘Beneran gak papa woi ‘ tanyaku yang jarak


tempatnya agak jauh dari Sandi.


‘Bener, lo sini aja. Abi sama Andri aja gak


takut’ meskipun sekilas dilihat wajah mereka pucat


sama seperti melihat Sandi ketakutan tadi.


Setelah mendengar kata Sandi, gue coba


mendekati mereka. Termasuk anjing samping Sandi.


‘GUK-GUK GUK-GUK’ tepat setelah gue


mendekat, anjing itu menggonggong sejadi-jadinya.


Membuat gue takut dan lari terbirit-birit dengan


sandal putus sebelah.


‘Aaaaaaahhhhh...’ teriak gue. Sambil lari,


gue tengok kebelakang Abi dan Andri ikut lari


seakan-akan melampiaskan ketakutan mereka. Tapi


tak seheboh gue. Sebenarnya anjingnya gak


bahaya juga sih. Meskipun anjingnya ngejar gak


mungkin bisa kena. Soalnya masih di rantai.

__ADS_1


@


Sejujurnya gue masih trauma dengan yang


namanya anjing. Dulu gue pernah dikejar waktu lagi


main sepeda. Tanpa sebab, tiba-tiba dikejar gitu aja.


namun, hal itu mengajarkan gue satu hal. Kalau ada


anjing jangan langsung lari, takutnya anjing ngira


kita ngajak dia balapan.


Karena jalan tadi sudah memberikan sedikit


trauma mental untuk gue. Kami berempat sepakat


mengambil jalan lain. Tak jauh dari gang tadi,


jaraknya sekitar 50 meter ada gang yang cukup


gelap. Mungkin lebih gelap dari gang tadi.


Sebagai anggota paling ganteng, gue


memimpin ekspedisi aneh ini untuk divisi gang ini.


Waspada dan berhati-hati selalu gue ucapkan untuk


teman-teman.


‘Kawan waspadalah - waspadalah’ kata gue


mantab kayak Bang napi.


‘Buat?’ kata Andri.


trus kita dikroyok habis-habisan di sini. Emang lo mau


jadi santapan sahur mereka?’ jawab gue sambil


tepuk dada.


‘Gak segitunya juga’ sahut Abi.


‘Eh-eh dia siapa bro ?’ kata Sandi sambil


menunjuk sebuah pohon besar dekat gang


‘Orang gila bro, itu orang yang sering gue


temui di perempatan jalan’ jawab Andri. Kali ini gue


mulai was-was. Jangan-jangan dia adalah titisan


anjing tadi yang siap menergap kami.


‘HOOOII DIA GERAK!!!’ seru gue.


‘Apaan sih fak lu, dia ngupil ******!’ kata


Sandi nyahut.


Beberapa langkah melewati pohon besar itu,


gue dikagetkan dengan gerakan menggertak.


‘Haah’ kata orang gila itu sambil


menggertakkan kakinya ke tanah.

__ADS_1


‘Mata lo’ kata Andri sok berani.


‘Haaaa.......’ seru orang gila itu sambil berlari


mengejar kami berempat. Gue hanya bisa berlari


sambil teriak sendiri kayak anak kecil.


‘Mama...... Tolooong’


udah sangat


memalukan.


Pengejaran berhenti ketika sudah sampai di


pertigaan jalan raya. Di sana cukup ramai


mengarah ke sepi.


‘Gue heran deh, kita sial banget sih hari ini?’


kata gue sambil berjalan menelusuri jalan.


‘Tep’ lampu jalan dekat kami tiba-tiba mati.


‘Tep’ lampu itu hidup lagi.


‘Bi gimana ini ada yang ngerjain kita apa


gimana ini?’ kata gue panik, sambil menoleh kearah


Abi.


‘Gak bro, kata temen-temen desa, di sini


emang angker ’ jawabnya sambil tolah-toleh kanankiri.


‘What? kenapa lo ngajak kami lewat sini ??’


kata gue.


‘Biar asik aja’


‘Mata lu asik, senam jantung gue’ sambut


gue kesal.


‘Haa haa gue capek bro.. Jangan lari lagi’


kata Andri ngos-ngosan.


Sandi hanya menggerutu takut ada kunti


nempel di punggungnya. Lalu gue hanya jalan


santai menikmati jalanan angker ini.


Selepas itu kita sampai di rumah Abi. Kita bisa


melampiaskan semua perasaan takut kita di


rumahnya lantai dua. Malam itu menjadi malam


yang tak terlupakan di bulan puasa. malam yang


sangat aneh dikejar dua anjing beda sepesies. Yang


satu anjing beneran yang satu titisan anjing yang


bakal jadi anjing jadi-jadian. Kukira lebih sopan, dari

__ADS_1


pada menjadi b4b1 ngepet terus ngambil duit orang-orang tak bersalah.


__ADS_2