Salah Sangka

Salah Sangka
#6 BAPAK LUKMAN DALBO


__ADS_3

gue sekolah emang bener, apa yang dikatakan


Lukman mirip yang dikatakan temen sekolah gue.


Ketakutan kami meningkat kelevel 7 dari 8 tingkatan.


Gue mulai agak ngumpet di punggung Sule. Irfan


sebagai anak terkecil hanya tolah-toleh tak tahu


maksud yang dikatakan Lukman.


Kini kami mulai melewati 3 buah pohon besar


berdiri gagah di samping jalan, apa yang


diceritakan Ibu gue emang benar. Ketika suasana


gelap keadaan di sini sungguh mencekam. Gue


takut ada hantu kambing yang Ibu gue ceritakan


dibunuh di sini dengan teganya. Andaikan dia


datang dengan suara imutnya “mbeeek” mungkin


dalam bahasa manusia artinya “haaaloo gue


nakutin lo” . Pasti gue lari.


‘Eh luk-luk ?’ panggil Sule ke Lukman. Lukman


yang asik memandangi pohon besar tak mendenger


apa yang dikatakan Sule.


‘Luk!!’ seru Sule lebih keras. mungkin sule


takut keponakannya itu kesurupan hantu kambing.


Lukman memandang Sule dan langsung


bergegas ke barisan depan ‘kenapa le ?


‘Itu bukannya Ayah lo ?’ Sule manunjuk


bapak-bapak berbaju hitam yang sedang

__ADS_1


menghirup rokok. Jaraknya sekitar seratus meter dari


keberadaan kami.


‘Masak sih’ seakan-akan lupa dengan cerita


dalbo, Lukman mulai menghampiri bapak-bapak


yang dikira Ayahnya sendiri. Awal rencana, Sule


menyuruh Lukman menghampiri orang itu, andaikan


dia bapaknya Lukman, nanti Lukman disuruh minta


uang buat beli petasan nanti sore. Andaikan bukan


ya udah lanjut jalan-jalan.


Kini Lukman hampir dekat dengan sesosok


orang itu, kami berempat hanya terdiam dan duduk


di jalanan melihat Lukman yang akan ngobrol


dengan Bapaknya.


Gue lihat Lukman mulai ngajak ngobrol orang


sambil berkata “DALBOOOO!!” dengan keras dan


lantang. Sontak kami berempat yang sedang asik


duduk di jalanan lari terbirit-birit. Gue sampek nyasak


dibatu-batu, Irfan lari sambil nangis. Parahnya lagi si


Yusup lari sambil bilang “GUE NOMOR SATU, GUE


NOMOR SATU”. Padahal gue tahu, andaikan dia


diadu lari sama Irfan, pasti kalah telak. Badan udah


kayak anak kebo pengen kawin.


Setelah capek lari, dan gue berhasil meraih


podium nomor dua. Kita sama-sama sepakat

__ADS_1


berhenti. Sule sang juara lari berkata “sebenernya


kenapa lo lari ?”


‘Tadi bukan bapak gue le’ jawab Lukman


sambil ngos-ngosan akibat lari.


‘Minum mana minum??’ bilang Yusup ngaco.


Ini kan bulan puasa.


Setelah diintrogasi, ternyata yang dia temui


adalah sesosok pria hitam lebat kyak *** lalat,


dengan seputung rokok yang hampir habis, dan


ransel di punggungnya. Kemungkinan yang kami


sepakati, dia adalah dalbo. Pertama kali dalam


hidup gue, ada ya setan mau bepergian. Pakek


ransel segala pula. Jadi lebih seperti dalbo diusir istri


karena nakutin tetangga mandi.


Setelah suasana hati kami mulai reda,


matahari sudah mulai muncul. Kami kembali ke tempat kami lari tadi. Mungkin gue tak akan


menemukan sosok pria tadi, tapi setidaknya gue bisa


melihat jejak kaki gue di atas batu krikil yang gue


injak tadi. Setelah sampai di sana tak ada satu orang


pun. Lalu kami kembali meneruskan perjalanan dan


pulang sambil membawa cerita dalbo ini.


Gue kira itu adalah karma Lukman yang


selalu menakuti kami dengan cerita mistisnya.


Meskipun setelah kejadian itu Lukman tak berubah,

__ADS_1


setidaknya gue dapat memberi kesimpulan. Lukman


anaknya dalbo beransel.


__ADS_2