
gue sekolah emang bener, apa yang dikatakan
Lukman mirip yang dikatakan temen sekolah gue.
Ketakutan kami meningkat kelevel 7 dari 8 tingkatan.
Gue mulai agak ngumpet di punggung Sule. Irfan
sebagai anak terkecil hanya tolah-toleh tak tahu
maksud yang dikatakan Lukman.
Kini kami mulai melewati 3 buah pohon besar
berdiri gagah di samping jalan, apa yang
diceritakan Ibu gue emang benar. Ketika suasana
gelap keadaan di sini sungguh mencekam. Gue
takut ada hantu kambing yang Ibu gue ceritakan
dibunuh di sini dengan teganya. Andaikan dia
datang dengan suara imutnya “mbeeek” mungkin
dalam bahasa manusia artinya “haaaloo gue
nakutin lo” . Pasti gue lari.
‘Eh luk-luk ?’ panggil Sule ke Lukman. Lukman
yang asik memandangi pohon besar tak mendenger
apa yang dikatakan Sule.
‘Luk!!’ seru Sule lebih keras. mungkin sule
takut keponakannya itu kesurupan hantu kambing.
Lukman memandang Sule dan langsung
bergegas ke barisan depan ‘kenapa le ?
‘Itu bukannya Ayah lo ?’ Sule manunjuk
bapak-bapak berbaju hitam yang sedang
__ADS_1
menghirup rokok. Jaraknya sekitar seratus meter dari
keberadaan kami.
‘Masak sih’ seakan-akan lupa dengan cerita
dalbo, Lukman mulai menghampiri bapak-bapak
yang dikira Ayahnya sendiri. Awal rencana, Sule
menyuruh Lukman menghampiri orang itu, andaikan
dia bapaknya Lukman, nanti Lukman disuruh minta
uang buat beli petasan nanti sore. Andaikan bukan
ya udah lanjut jalan-jalan.
Kini Lukman hampir dekat dengan sesosok
orang itu, kami berempat hanya terdiam dan duduk
di jalanan melihat Lukman yang akan ngobrol
dengan Bapaknya.
Gue lihat Lukman mulai ngajak ngobrol orang
sambil berkata “DALBOOOO!!” dengan keras dan
lantang. Sontak kami berempat yang sedang asik
duduk di jalanan lari terbirit-birit. Gue sampek nyasak
dibatu-batu, Irfan lari sambil nangis. Parahnya lagi si
Yusup lari sambil bilang “GUE NOMOR SATU, GUE
NOMOR SATU”. Padahal gue tahu, andaikan dia
diadu lari sama Irfan, pasti kalah telak. Badan udah
kayak anak kebo pengen kawin.
Setelah capek lari, dan gue berhasil meraih
podium nomor dua. Kita sama-sama sepakat
__ADS_1
berhenti. Sule sang juara lari berkata “sebenernya
kenapa lo lari ?”
‘Tadi bukan bapak gue le’ jawab Lukman
sambil ngos-ngosan akibat lari.
‘Minum mana minum??’ bilang Yusup ngaco.
Ini kan bulan puasa.
Setelah diintrogasi, ternyata yang dia temui
adalah sesosok pria hitam lebat kyak *** lalat,
dengan seputung rokok yang hampir habis, dan
ransel di punggungnya. Kemungkinan yang kami
sepakati, dia adalah dalbo. Pertama kali dalam
hidup gue, ada ya setan mau bepergian. Pakek
ransel segala pula. Jadi lebih seperti dalbo diusir istri
karena nakutin tetangga mandi.
Setelah suasana hati kami mulai reda,
matahari sudah mulai muncul. Kami kembali ke tempat kami lari tadi. Mungkin gue tak akan
menemukan sosok pria tadi, tapi setidaknya gue bisa
melihat jejak kaki gue di atas batu krikil yang gue
injak tadi. Setelah sampai di sana tak ada satu orang
pun. Lalu kami kembali meneruskan perjalanan dan
pulang sambil membawa cerita dalbo ini.
Gue kira itu adalah karma Lukman yang
selalu menakuti kami dengan cerita mistisnya.
Meskipun setelah kejadian itu Lukman tak berubah,
__ADS_1
setidaknya gue dapat memberi kesimpulan. Lukman
anaknya dalbo beransel.